Syiahisasi dan Stigma Wahabi


Hakikatnya, teori syiahisasi dengan menggunakan istilah ‘Wahhabi’ adalah untuk menyatukan aliran gelombang penolakan terhadap mereka yang anti Syiah

Syiahisasi dan Stigma Wahabi

pinterest.com
Penganut Syiah Iran merayakan Asyuro

 

 

BEBERAPA waktu lalu, tepatnya pada tanggal 8 Oktober 2016 telah diadakan pertemuan dan diskusi antara anggota civitas akademika yang berpaham, beraliran, dan penyebar ajaran Syiah.

Acara tersebut dihadiri tokoh Syiah, Dr. Haidar Bagir sebagai narasumber, berlangsung di Auditorium Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, Jl. Lebak Bulus-II, No. 2, Cilandak, Jakarta Selatan. Ada juga pertemuan lain di tempat  berbeda bersama Ayatullah Qumi, Wakil Rahbar dalam urusan Luar Negeri, dan juga Ayatullah Majid Hakimullahi, Kandidat Direktur ICC Jakarta.

Dalam dua pertemuan di atas, yang menarik adalah pertemuan yang berlangsung di STFI Sadra, diisi oleh Haidar Bagir dan kawan-kawan. Menarik karena berhasil menemukan sebuah teori ‘Syiahisasi Indonesia’ atau metode dan rumus-rumus jitu dalam melakukan penyebaran ajaran sesat Syiah di tanah air.

Mereka telah melakukan kajian, penelitian, dan pengamatan terhadap ummat Islam Indonesia, dan kesimpulannya adalah segenap kaum muslimin yang berada di bumi Indonesia, secara umum terbagi menjadi tiga bagian yaitu: 1) Wahhabi; 2) Jahhali; dan 3) Oportunis. Untuk mengetahui lebih dalam, mari kita cerna ketiga golongan di atas.

Pertama. Bagi penganut Syiah, yang dimaksud dengan golongan Wahhabi adalah seluruh ummat Islam Indonesia yang tidak sejalan dan searah tujuan dengan ajaran mereka. Dalam konteks ini, Wahhabi tidak lagi diidentikkan dengan golongan Wahhabiyah, atau Wahhabiyun yang merujuk kepada paham atau ajaran dakwah yang dipelopori oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Tamimi al-Najdi.

Artinya, Wahhabi dalam pandangan Syiah jauh lebih luas ketimbang Wahhabi yang selama ini dikenal luas oleh masyarakat musilm Nusantara yang mayoritas merujuk kepada tata cara beribadah ummat Islam di Saudi Arabia, dan biasanya didakwahkan oleh alumni-alumni Timur Tengah, aliran ini umumnya merujuk kepada mazhab fikih Imam Ahmad Bin Hanbal yang dikenal dengan Mazhab Hanbali.

Hakikatnya, teori syiahisasi dengan menggunakan istilah ‘Wahhabi’ adalah untuk menyatukan aliran gelombang penolakan terhadap mereka yang anti Syiah. Sebab, menurut mereka hanya golongan Wahhabi yang benar-benar memahami ajaran agamanya dengan baik dan benar sehingga sangat sulit dan bahkan mustahil untuk disyiahkan. Ajaran dimaksud adalah akidah yang benar dan diridhai Allah, Ahlussunnah wal Jamaah.

Teori Wahhabi juga sangat efisien menurut Syiah, sebab adanya pemetaan dan klasifikasi pengikut Ahlussunnah di Indonesia akan memudahkan kerja-kerja sistematis mereka untuk mengobarkan propaganda sekaligus sebagai efisiensi dakwah. Dengan propaganda Wahhabi sehingga semua pengikut mazhab Syafi’iyah sebagai anutan mayoritas masyarakat muslim Indonesia menjadi anti Wahhabi dan berbalik mendukung Syiah.

Efisien sebab bagi mereka, golonga Wahhabi tidak ada gunanya diajak masuk Syiah, dengan alasan apa pun, golongan ini akan terus menolak Syiah, dan, atau bahkan mengobarkan perlawanan terhadap Syiah, dan tidak segan-segan menggadaikan nyawa demi untuk membela kebenaran yang mereka yakini. Karena itu, mendakwahi para Wahhabi hanya akan menyia-nyiakan waktu, menghabiskan tenaga, buang-buang materi dan sangat tidak bermanfaat bahkan sama saja ‘bunuh diri’.

Teori Wahhabi merupakan pukulan telak bagi mereka yang selama ini yang masih berada dalam ‘pagar’ Ahlussunnah wal Jamaah namun begitu getol menyerang Wahhabi sambil bersikap lunak terhadap Syiah, atau bahkan mendukung pergerakan mereka. Umumnya, perkataan dan pernyataan golongan ini kerap menghasilkan simpati. Seperti, ‘Wahhabi itu perusak persatuan dan kesatuan, mrongrong NKRI’, atau perkataan, ‘orang yang mempermasalahkan Syiah dan Sunni adalah mereka yang terlahir belakangan’, juga pernyataan, ‘Syiah dan Sunni itu satu tujuan, hanya beda kendaraan’, atau seperti ini, ‘Saya bukan Sunni bukan pula Syiah, tapi Islam’, dan semisalnya.

Kedua. Teori ‘Jahhali’, jika ditilik dari sudut bahasa, tampak bahwa istilah itu berasal dari bahasa Arab, yaitu, ‘jahil’ yang berarti lawan dari ‘ilmu’, alias tidak mengetahui. Jahil adalah sebuah derajat yang paling terendah dalam hirarki keilmuan. Antara jahil dan berilmu terdapat kondisi yang disebut, al-syak, al-wahm, dan al-zhan. Intinya, kata ‘jahil’ adalah tidak mengetahui atau ‘adamul bisy-syai’. Namun, teori Jahhali bagi Syiah lebih umum dibanding jahil menurut pengertian bahasa dan istilah pada umumnya. Sebab, Jahhali di sini adalah golongan ulama, intelektual, kaum terpelajar, cerdik-pandai, politikus, tokoh masyarakat hingga aktivis kampus yang tidak mengetahui secara mendalam terhadap ajaran Islam, khususnya akidah Ahlussunnah wal Jamaah sehingga dengan mudah mereka disyiahkan.

Selain itu, para Jahhali adalah golongan kelas menengah ke atas dalam hirarki keilmuan dan memiliki pengaruh yang besar di tengah masyarakat, dengan ‘menyeret’ mereka masuk dalam ‘pagar’ Syiah akan mempermudah penetrasi dan penyebaran aliran sesat itu di tengah masyarakat muslim Ahlussunnah wal Jamaah.

Karena itu, para civitas akademika yang hadir dalam pertemuan di atas adalah berasal dari para Jahhali. Dan amat disayangkan karena mereka berasal dari para dosen yang mengajar di kampus-kampus ternama, termasuk  para Jahhali yang mewakili kampus-kampus ternama Makassar.

Hakikatnya, teori Jahhali ini melecehkan para ulama dan golongan berilmu namun gagal paham terhadap ajaran agamanya, sehingga dengan mudah diperalat oleh penganut Syiah. Umumnya, agen Syiah ini menyamar sebagai agen pemersatu ummat, di sana-sini menekankan pentingnya persatuan, mereduksi perbedaan sehingga yang tampak hanyalah persamaan. Muncullah istilah-istilah ‘pokoknya Islam, tidak pandang Syiah atau Sunni’. Ketika para Jahhali tidak lagi mempersoalkan sekat antara Syiah dengan Ahlussunnah, maka dengan sendirinya mereka telah mendukung penyebaran Syiah.

Yang terjadi, masuklah para Ayatullah ke masjid-masjid milik Ahlussunnah, tak terkecuali Masjid Istiqlal di Jakarta, dan Masjid Raya di Makassar.

Berkat kerja-kerja sistematis agen Syiah yang menjahili para Jahhali dari golongan politisi dan ulama su’ sehingga Ayatullah berjubah, bersurban, berturban itu leluasa menyebarkan kesesatan di tengah masyarakat Ahlussunnah. Bahan jualannya itu-itu saja, dari Maroko hingga Merauke yaitu, ‘taqrib baen al-madzahib’ menyatukan dan mempererat antarmazhab, mereka ini ngotot untuk dimasukkan sebagai salah satu mazhab fikih, padahal yang berbeda bukan hanya sekadar fikih tapi akidah yang disebut ushul. Jika akidah berbeda, maka itu bukan mazhab akan tetapi sempalan alias menyempal dari rel yang benar.

Jika dianalogikan dengan kereta api, maka rel yang benar adalah hanya milik Ahlussunnah wal Jamaah sedangkan milik Syiah berada pada rel yang salah sehingga tujuan akhir dalam beragama yaitu untuk meraih ridha dan surga Allah tidak akan pernah tercapai, bahkan mereka hanya akan mendapatkan murka dan neraka.

Ketiga. Oportunis, golongan ini dipecah menjadi dua bagian. Oportunis intelek dan opurtunis fuqara-masakin. Yang pertama adalah golongan yang tidak mau peduli tentang agamanya, apakah Syiah atau Ahlussunnah, di mana pun jika menguntungkan akan ia dukung dan ikuti. Jika harus menjadi Syiah namun di sana akan mendapatkan materi dan kesejahteraan duniawi, maka ia pun akan menjadi Syiah, tapi jika harus menjadi Wahhabi lalu mendapat materi yang setimpal, dengan senang hati pun ia akan menjadi Wahhabi. Inilah yang kerap disentil oleh KH. Bachtiar Natsir sebagai intelek dan ulama yang imannya hanya setipis uang kertas.

Oportunis kedua, adalah mereka yang berasal dari golongan fuqara dan masakin atawa fakir miskin yang juga imannya lebih tipis dari uang kertas. Pokoknya siapa pun yang dapat menyediakan makan dan fasilitas pada hari itu, maka ia  akan dukung dan bela hingga tetesan darah penghabisan. Teori Oportunis bagi Syiah laksana mengukir di atas air, tidak akan mendatangkan manfaat bagi penyebaran paham Syiah.

Teori Maling

Albert Einstein (1879-1955) pernah menyatakan bahwa seluruh manusia dilahirkan dengan jenius, hanya saja jika ukurannya ikan harus bisa memanjat, maka tidak akan pernah ada yang jenius. Maka, para pencuri pun orang jenius dan bekerja dengan teori-teori yang mereka ciptakan. Memang, ada saja yang gagal, tapi itu terjadi di luar kebiasaan umum dan prediksi. Pendapat yang mengatakan, ‘orang bodoh yang malas akan jadi pencuri dan orang pintar yang malas akan menjadi perampok’, tidak sepenuhnya benar, sebab para pencuri adalah manusia yang berbuat setelah melakukan kalkulasi untung-rugi dengan matang. Pencuri dimaksud adalah sama dengan sebutan ‘maling’.

Dalam dunia ‘permalingan’ juga memiliki teori yang diadopsi oleh kaum Syiah yang memang mereka ini adalah para ‘maling akidah’. Teori maling tersebut adalah:

Pertama. ‘Kaya dan aman’ atau golongan kaya yang hidupnya penuh dengan pengamanan. Mereka ini tidak segan-segan menggelontorkan 10 persen penghasilannya untuk menyewa pengaman mulai dari anjing galak, CCTV, alarm, Satpan, hingga Polisi dan Kopassus. Mengincar harta mereka sama saja dengan bunuh diri, dan akan mengakibatkan mati konyol.

Kedua. ‘Kaya tanpa Pengaman’ atau golongan kelas menengah ke atas, alias kaya namun tidak memiliki pengaman seperti teori pertama. Biasanya golongan ini menyatu dengan masyarakat sekitar dan berpikiran konvensional seperti, daripada harus membayar ongkos sekuriti yang mahal lebih baik duit itu disedekahkan atau dipakai bayar zakat dan infak. Atau mereka kaya tapi bakhil sehingga tidak terpikir untuk membeli dan menyewa pangaman, golongan ini sangat mudah dan berpotensi disatroni maling.

Ketiga. ‘Fakir-miskin’ atau golongan yang tidak ada manfaatnya bagi pencuri sebab tidak ada yang bisa dicuri. Rumah terbuka 24 jam sekalipun tidak mengundang para pencuri untuk masuk ke dalam, karena itu hanya mendatangkan kesia-siaan, bahkan membahayakan dirinya.

Karena itu, Syiah hanya akan berusaha mati-matian menyebarkan paham sesatnya kepada para Jahhali sebagaimana para maling yang mengincar golongan kaya yang teledor tanpa pengaman. Dan, isu-isu Wahhabi yang selama ini dipakai Syiah untuk menyerang para Ahlusunnah hakikatnya adalah sebuah drama ‘sengkuni’ yang menggunakan tangan Ahlussunnah untuk ‘menempeleng’ Ahlussunnah lainnya, lalu penganut Syiah tertawa sambil bersorak.

Terkuaknya ‘teori maling’ dalam syiahisasi Indonesia seharusnya menjadikan para pengikut Ahlussunnah baik secara personal atau kolektif, dan dari organisasi mana pun untuk solid, bersatu, membendung dan melawan penyebaran  Syiah di bumi Ahlussunnah. Sebab, jika aliran sesat ini terus melaju hanya akan melahirkan konflik horizontal yang menguras tenaga dan merugikan keutuhan bangsa Indonesia. Wallahu A’lam!

Peneliti MIUMI Pusat; Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor

2 responses »

  1. bagus panji mengatakan:

    Sebagai sekte yang di-create berdasarkan campur tangan non Muslim, penyimpangan dalam ajaran Wahabi yang tak hanya berdasarkan fatwa-fatwa Muhammad bin Abdul Wahab, tapi juga fatwa para ulamanya, seperti Syaikh Ali al-Kudhair, Syaikh ‘Aidh ad-Duwaisri, Syaikh Abdullah an-Najdi, dan Syaikh Nashir al-Fahd, luar biasa parahnya. Fatwa-fatwa itu bahkan cenderung nyeleneh dan berbahaya. Ini lah beberapa di antara fatwa-fatwa tersebut :

    1. Fatwa Syaikh Ali al-Kudhair: Boleh berdusta dan bersumpah palsu demi agama (baca: Wahabi), khususnya bagi para da’i dan mubaligh.
    2. Fatwa Syaikh ‘Aidh ad-Duwaisri: Boleh menipu Syi’ah dan orang-orang lain yang berfaham sesat (non Wahabi).
    3. Fatwa Syaikh Sulaiman al-Kharasyi: Boleh merampok harta orang-orang sekuler, serta halal nyawa dan kehormatan mereka (persis seperti yang diyakini para teroris seperti Imam Samudera cs).
    4. Fatwa Syaikh Ibnu Baz: Boleh menghancurkan website/situs seseorang atau lembaga tertentu, mencuri password dan memata-matai email demi dakwah Salafi Wahabi.
    5. Fatwa Syaikh Ibnu Jibrin: Fatwa jihad terhadap Syi’ah dan wajib melaknat mereka.
    6. Fatwa Dewan Fatwa Tetap (Lajnah Da’imah): Haram menabur bunga di atas makam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak melarang hal ini).
    7. Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin: Haram belajar bahasa Inggris.
    8. Fatwa Syaikh Nashir al-Fahd: Haram bertepuk tangan, haram ucapan salam dan penghormatan dalam latihan militer.
    8. Fatwa Syaikh Abdullah an-Najdi: Haram bermain bola sepak.
    9. Fatwa Syaikh Hamud ibnu Aqla asy-Syu’aibi: Halal nyawa dan kehormatan Abdullah ar-Ruwaisyid, penyanyi Kuwait.
    10. Fatwa Ulama-ulama Besar Saudi (Hai’ah Kibar al-‘Ulama): Haram game Pokemon dan sejenisnya bagi anak-anak.
    11. Fatwa Syaikh Utsman al-Khamis dan Sa’d al-Ghamidi: Haram penggunaan internet bagi kaum wanita.

    Selain fatwa-fatwa yang aneh, nyeleneh, dan tidak masuk akal, para ulama Wahabi juga memiliki ajaran dan pendapat yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah Saw, para sahabat, dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Misalnya;
    1. Dalam kitab karangan Abdullah Ibnu Zaid, ulama Wahabi, yang berjudul al-Iman bi al-Anbiya’i Jumlatan (Beriman Kepada Semua Kitab) disebutkan kalau Adam a,s. bukanlah nabi dan juga bukan rasul Allah.
    2. Dalam buku al-Qaulu al-Mukhtar li Fana’i an-Nar karangan Abdul Karim al-Humaid, ulama Wahabi, disebutkan bahwa neraka tidak kekal dan orang-orang kafir tidak diazab selamanya di neraka karena akan dipindahkan ke surga.
    3. Dalam buku kaum Wahabi yang berjudul Fatawa al-Mar’ah disebutkan bahwa menceraikan istri ketika haid tidak menyebabkan jatuhnya talak (padahal ‘ijma ulama mengatakan, seorang suami yang menceraikan istrinya ketika sang istri sedang haid, maka talaknya tetap sah dan si istri menjadi haram bagi suaminya).
    4. Dalam buku berjudul Fatawa al-Mar’ah juga disebutkan bahwa perempuan tidak boleh menyetir mobil (‘Ijma ulama mengatakan, perempuan boleh mengendarai mobil selagi tidak ada fitnah dan tetap terjaga aurat serta kehormatannya).
    5. Dalam buku berjudul Fatawa al-Mar’ah juga disebutkan bahwa suara wanita di sisi lelaki ajnabi (bukan mahram atau orang yang boleh dinikahi) adalah aurat yang haram untuk didengar suaranya. Dengan kata lain, wanita haram berbicara di sisi laki-laki (di zaman Rasulullah Saw, perempuan dapat bertanya langsung kepada beliau tentang urusan agama. Ini berarti, dalam Islam, tak apa-apa perempuan berbicara di sisi laki-laki).
    6. Dalam buku Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad, ulama Wahabi, disebutkan bahwa mengucap zikir la illaha ilallah sebanyak seribu kali adalah sesat dan musyrik (padahal dalam Al Qur’an surah al-Azhab ayat 41 Allah berfirman; “Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”)
    7. Ibnu Utssimin, ulama Wahabi, berkata; “Ziarah kubur bagi wanita adalah haram, termasuk dosa besar, meskipun ziarah ke makam Rasulullah.” (padahal dalam ajaran Islam tak ada larangan wanita melakukan ziarah kubur, termasuk menziarahi makam Rasulullah Saw).
    8. Dalam buku at-Tahqiq wa al-Idhah li Katsirin min Masa’il al-Haj wa al-Umrah karangan Abdul Aziz ibnu Abdullah ibnu Baz disebutkan bahwa memotong jenggot, apalagi mencukurnya, hukumnya haram (padahal Islam tidak melarang memendekkan jenggot agar kelihatan rapih, bahkan dianjurkan, karena Allah SWT mencintai keindahan)
    9. Ibnu Baz dalam majalah ad-Dakwah edisi 1493 Hijriyah (1995 Masehi) yang diterbitkan Saudi Arabiah menyatakan, haram bagi perempuan muslim mengenakan celana panjang, meskipun di depan suami dan celana panjang itu lebar serta tidak ketat (Islam tidak melarang wanita memakai celana panjang. Apalagi di hadapan suami).
    10. Dalam kitab al-Ishabah, al-Juwaijati, imam Masjid Jami’ ar-Raudhah, Damaskus, Syiria, disebutkan, ketika berada di Masjid ad-Daqqaq, Damaskus, salah seorang ulama Wahabi mengatakan, shalawat kepada Rasulullah Saw dengan suara nyaring setelah adzan hukumnya sama seperti seorang anak yang menikahi ibu kandungnya (Islam tidak melarang umatnya bershalawat setelah adzan).
    11. Ibnu Baz mengatakan, mengucapkan kalimat shadaqallahu al-adzim (maha Benar Allah dengan segala firman-Nya) setelah selesai membaca Al Qur’an adalah bid’ah sesat dan haram hukumnya (Islam justru menganggap baik mengucapkan kalimat itu karena mengandung pujian kepada Allah, dan sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Qur’an surah Ali-Imran ayat 95 yang bunyinya; “Katakanlah shadaqallahu (Maha Benar Allah (dengan segala firman-Nya).”)

    Dari beberapa contoh di atas jelas sekali terlihat kalau ajaran Wahabi telah keluar dari Islam karena terlalu banyak fatwa para ulama dan ajarannya yang tidak sejalan, bahkan bertolak belakang, dengan ajaran Islam. Maka benar pula lah sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Az-Zakah bab al-Qismah yang penggalan sabdanya berbunyi; “ … Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya …” Subhanallah.

    Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu pula dengan kejayaan Wahabi. Karena menganggap umat Islam selain pengikut ajarannya adalah kafir dan selalu memerangi, bahkan membunuhi umat Islam dengan dalih jihad fisabilillah, lambat laun antipati terhadap sekte ini meluas di seluruh wilayah Jazirah Arab, sehingga pada akhir abad 19 dakwah para ulama Wahabi tak laku lagi. Bahkan selalu dicerca dan dikecam.

    Sadar kalau sektenya dalam bahaya, dengan didukung pemerintah Arab Saudi dan Inggris tentu saja, para ulama penerus Muhammad bin Abdul Wahab menggunakan jurus baru untuk tetap meng-eksiskan sekte ini di muka bumi. Apalagi karena sejarah Wahabi yang kelam dan kotor membuat tak sedikit pengikutnya yang menjadi risih setiap kali berhadapan dengan pengikut sekte Islam yang lain, terutama jika berhadapan dengan pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

    Dalam bukunya yang berjudul as-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarokah La Madzhab Islami, Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi mengungkapkan, Wahabi mengubah strategi dakwahnya dengan mengganti nama menjadi Salafi karena mengalami banyak kegagalan dan merasa tersudut dengan panggilan Wahabi yang dinisbatkan kepada pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Oleh karena itu, sebagian muslimin menyebut mereka sebagai Salafi Palsu atau mutamaslif.

    Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, penggunaan nama Salafi untuk Wahabi, sehingga sekte ini sekarang dikenal dengan nama Salafi Wahabi, pertama kali dipopulerkan oleh salah seorang ulama Wahabi yang bernama Nashiruddin al-Albani, seorang ulama yang dikenal sangat lihai dalam mengacak-acak hadist, dan juga seorang ahli strategi. Hal ini diketahui berdasarkan dialog Albani dengan salah seorang pengikutnya, Abdul Halim Abu Syuqqah, pada Juli 1999 atau pada Rabiul Akhir 1420 Hijriyah.

    Selain mengganti nama, sekte ini juga mengubah strategi dakwahnya dengan mengusung platform dakwah yang sekilas, jika tidak dipahami benar maksud dan tujuannya, terkesan sangat indah, terpuji dan agung, yakni “kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah”. Apa yang salah dengan platform ini? Gampang dijawab.

    Wahabi adalah sekte dengan ajaran yang bahkan oleh para ulama pengikut mazhab yang empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali dianggap sebagai ajaran sesat. Pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab, adalah seorang pria arogan, kasar, dan telah dicuci otak oleh Kementerian Persemakmuran melalui salah seorang agen mata-matanya, Hempher, sehingga telah menyimpang jauh dari ajaran Islam. Ulama-ulamanya pun, termasuk Ibnu Taimiyah, mengeluarkan fatwa-fatwa yang ganjil, nyeleneh dan juga tidak sesuai dengan ajaran Islam. Lalu, bagaimana mereka dapat mengajak setiap Mukmin kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw yang dijabarkan dan dijelaskan para ulama dalam hadist? Al Qur’an dan Sunnah yang mana yang mereka maksud?? Ibnu Taimiyah sendiri, karena fatwa-fatwanya yang nyeleneh dan menyimpang dari Islam, ditangkap, disidang, di penjara di Damaskus, dan meninggal di penjara itu. Sejarah mencatat, sedikitnya ada 60 ulama, baik yang hidup di zaman Ibnu Taimiyah maupun yang sesudahnya, yang mengungkap kejanggalan dan kekeliruan fatwa-fatwa ulama Wahabi itu dan juga ajaran Wahabi.

    Penggunaan nama salafi, sehingga kini Wahabi menjadi Salafi Wahabi pun wajib dipertanyakan, karena salafi merupakan sebuah bentuk penisbatan kepada as-salaf yang jika ditinjau dari segi bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman kita. Sedang dari segi terminologi, as-salaf adalah generasi yang dibatasi oleh sebuah penjelasan Rasulullah Saw dalam hadistnya; “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in), kemudian yang mengikuti mereka (tabi at-tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, berdasarkan hadist ini, as-salaf adalah para sahabat Rasulullah Saw, tabi’in (pengikut Nabi setelah masa sahabat) dan tabi at-tabi’in (pengukut Nabi setelah masa tabi’in, termasuk di dalamnya para imam mazhab karena mereka hidup di tiga abad pertama setelah Nabi saw. wafat). Maka jangan heran jika dalam bukunya as-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarokah La Madzhab Islami, Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi menyebut kalau sebagian muslimin menyebut Salafi Wahabi sebagai Salafi Palsu atau mutamaslif.

    Yang juga perlu diwaspadai, kadangkala penganut ajaran Wahabi juga menyebut diri mereka Ahlus Sunnah, namun biasanya tidak diikuti dengan wal Jama’ah untuk mengkamuflasekan diri agar umat Islam yang awam tentang aliran-aliran/sekte-sekte/golongan-golongan dalam Islam, masuk ke dalam golongannya tanpa tahu sekte ini menyimpang, dan mengamini ajarannya sebagai ajaran yang benar. Karena itu penting bagi setiap Muslim untuk mempelajari sejarah agamanya, dan sekte-sekte yang berada di dalamnya.

    ***

    Faham Salafi Wahabi masuk Indonesia pada awal abad 19 Masehi. Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, faham sesat ini dibawa oleh segelintir ulama dari Sumatera Barat yang bersinggungan dengan sekte ini ketika sedang menunaikan ibadah haji di Mekah.

    Namun demikian, para ulama ini tidak menelan mentah-mentah ajaran Wahabi, melainkan hanya mengambil spirit pembaharuannya saja. Buku karya Syaikh Idahram itu bahkan menyebut, spirit yang diambil ulama Sumatera Barat dari faham Wahabi kemudian menjelma menjadi gerakan untuk melawan penjajah Belanda yang berlangsung pada 1803 hingga sekitar 1832 yang kita kenal dengan nama gerakan Kaum Padri dimana salah satu tokohnya adalah Tuanku Imam Bonjol. Gerakan ini tidak sekeras dan sekaku Wahabi karena dikulturisasi dengan budaya lokal, sehingga mudah diterima masyarakat.

    Berkembangnya Wahabi di Indonesia sempat membuat sejumlah tokoh Islam kerepotan karena dituding sebagai pengikut sekte ini. Mereka yang sempat dicap sebagai Wahabisme adalah Syaikh Ahmad Surkati (pendiri al-Irsyad al-Islamiyah), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan Abdul Munir Mulkhan (cendekiawan Muhammadiyah yang juga guru besar UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta), namun semua ini terbantahkan, karena KH. Ahmad Dahlan seorang sufi. Bahkan untuk membantah tuduhan bahwa ia penganut Wahabi, Syaikh Ahmad Surkati menulis begini; “Tangan saya gemetar ketika menulis bantahan ini. Bukan karena saya takut terhadap gerakan yang keras itu, melainkan karena saya memang tidak mengetahui, apalagi mengikutinya.”

    Masih menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, pada 1995 Wahabi mulai memiliki media cetak di Indonesia dengan terbitnya Majalah Salafi yang dibidani Ja’far Umar Thalib dan kawan-kawan. Ja’far Umar Thalib juga kita ketahui sebagai Panglima Laskar Jihad.

    Saat ini Wahabi telah terpecah menjadi dua faksi, yakni Salafi Yamani dan Salafi Haraki. Selain berjenggot dan mengenakan celana yang menggantung di atas tumit, para pengikut Wahabi dapat dikenali dari ciri-ciri sebagai berikut :

    1. Selalu menggerak-gerakkan jari telunjuk naik turun saat tasyahhud awal maupun akhir (padahal Rasulullah Saw tidak pernah melakukan hal ini, karena seperti dijelaskan para ahli fikih, yang dimaksud menggerakkan jari telunjuk saat tasyahhud adalah dari kondisi tangan menggenggam, telunjuk digerakkan hingga menunjuk ke depan (isyarah). Hanya itu, dan tidak digerak-gerakkan terus menerus. Apa yang dilakukan pengikut Wahabi adalah bid’ah)
    2. Sesuai doktrin sekte ini, pengikutnya diberikan penggambaran bahwa seperti halnya manusia, Allah SWT juga memiliki wajah, dua mata, mulut, gigi, dua tangan lengkap dengan telapak tangan dan jari-jemari, dada, bahu, dan dua kaki yang lengkap dengan telapak kaki dan betis. Allah berupa seorang pemuda berambut gelombang dan berpakaian merah. Allah duduk di atas Arasy seperti layaknya manusia duduk di kursi. Dia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dan turun dari langit yang satu ke langit yang lain. Jika Allah duduk di Arasy, maka akan terdengar suara mengiuk seperti bunyi pelana kursi unta yang baru diduduki (doktrin ini mirip doktrin dalam Kristen, dimana Isa a.s yang dianggap sebagai anak Tuhan merupakan seorang pemuda dengan rambut bergelombang dan berselendang merah).
    3. Pengikut sekte ini memiliki didoktrin bahwa tauhid dibagi tiga, yakni tauhidUlûhiyyah, tauhid Rubûbiyyah, dan tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât , sehingga diyakini bahwa Abu Jahal dan Abu Lahab lebih baik, lebih bertauhid, dan lebih ikhlas dalam beriman kepada Allah SWT daripada umat Islam (padahal dalam Al Qur’an kedua tokoh ini justru dilaknat Allah SWT).
    4. Selalu berbeda dalam menentukan hari-hari penting. Misalnya, berpuasa hanya 28 hari di bulan Ramadhan (Ahlus Sunnah wal Jama’ah 29 atau 30 hari), dan pada 1419 Hijriyah (1999 Masehi) menetapkan bahwa waktu wukuf di Arafah bagi jemaah haji pada 17 Maret, padahal para ahli falak berdasarkan hilal menetapkan bahwa waktu wikuf pada 18 Maret.
    5. Sangat kaku dan sangat letterlijk (terlalu harfiah) dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an dan hadist (padahal Islam sangat fleksibel. Apalagi karena Islam diturunkan Allah sebagai rahmatan lil alamin).
    6. Mengkafirkan umat Islam yang tidak sepaham, dan mudah menuding apa yang dilakukan umat Islam sebagai bid’ah dan musyrik, seperti misalnya melakukan ziarah kubur dan mengucapkan “shadaqallahu al-adzim” setelah membaca Al Qur’an.

    Suka

  2. bagus panji mengatakan:

    Sebagai sekte yang di-create negara penjajah, karakter sekte Wahabi juga tidak berbeda dengan Inggris. Apalagi karena selain ajaran sekte ini jauh menyimpang dari ajaran Islam, juga karena ketika masih berada di Uyainah dan dalam perlindungan Hempher, Muhammad bin Abdul Wahab sempat berjanji kepada Hempher bahwa jika sektenya telah berdiri, ia akan melaksanakan semua isi skema enam paragraph Kementerian Persemakmuran.

    Sejarah mencatat, demi meluaskan pengaruh dan menyebarkan sekte Wahabi, juga melaksanakan isi skema enam paragraph Kementerian Persemakmuran, duet Kerajaaan Arab Saudi dan Muhammad bin Abdul Wahab melakukan ekspansi dan penyerangan kemana-mana, dan terjadilah seperti apa yang diinginkan Inggris untuk menghancurkan Islam, yakni pertumpahan darah dimana-mana yang seluruh korbannya adalah orang Islam. Duet ini tidak pernah mengusik orang Yahudi dan Kristen yang datang ke negeri-negeri di sekitar mereka untuk menjajahnya. Sekali lagi, subhanallah, benarlah sabda Rasulullah Saw seperti diriwayatkan Muslim pada Kitab Az-Zakah, bab al-Qismah, yang penggalannya berbunyi; “ … Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala …”

    Penyerangan-penyerangan dan pembunuhan-pembunuhan tersebut diakui sendiri oleh para tokoh Wahabi dan bahkan tercantum dalam buku-buku sejarah resmi sekte ini, seperti buku Ad-Durar as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyah yang disusun Abdurrahman ibnu Muhammad ibnu Qasim al-Ashimi al-Qathani an-Najdi yang merupakan kumpulan risalah dan makalah ulama-ulama Najd dari sejak zaman Muhammad bin Abdul Wahab hingga saat ini. Wilayah yang diserang hingga penduduk muslimnya tewas bergelimang darah di antaranya Mekah, Thaif, Madinah, Riyad, Qatar, Bashrah, Karbala, Nejef, Qum, Omman, Kuwait, dan Syam, dan mereka bangga pada tindakannya yang radikal dan tidak sesuai dengan akidah Islam tersebut.

    Pertumpahan darah ini mulai terjadi setelah duet Muhammad bin Abdul Wahab dan emir Saudi Muhammad bin Sa’ud mengobarkan semangat jihad terhadap siapapun yang memiliki pemahaman tauhid yang berbeda dengan sekte Wahabi, karena menurut mereka, Muslim non Wahabi adalah kafir, sehingga harus digerebek, dirazia, bahkan dibunuh. Ini terjadi pada 1746 Masehi (1159 Hijriyah). Dalam lima belas tahun sejak jihad dikobarkan, Wahabi berhasil menguasai sebagian besar wilayah Jazirah Arab, termasuk Najd, Arabia tengah, ‘Asir, dan Yaman. Setelah Muhammad bin Abdul Wahab meninggal pada 1791 Masehi (1206 Hijriyah), jihad diteruskan oleh para pengikutnya dan penerus Muhammad bin Sa’ud.

    Karbala diserang pada 1802 Masehi (1216 Hijriyah) dengan mengerahkan 12.000 pasukan. Salah satu kota kaum Syi’ah di Irak ini dikepung, penduduknya dibunuh, makam Imam Husein (putra Ali bin Abi Thalib yang juga cucu Rasulullah Saw) dijarah. Versi ulama menyebutkan, penduduk Karbala yang terbunuh dalam peristiwa ini mencapai 5.000 jiwa, sedang versi Wahabi menyebut hanya 2.000 jiwa.

    Thaif diserang pada bulan Dzulqa’idah tahun 1217 Hijrah (1803 Masehi). Ketika peristiwa terjadi, sebenarnya antara pemerintahan as-Syarif Ghalib, gubernur kota Mekah yang memerintah kota itu, dengan Wahabi telah terjalin kesepakatan damai, namun Wahabi melanggarnya. Ribuan penduduk kota ini tewas dan para ulamanya dipaksa untuk mengikuti sekte Wahabi di bawah todongan senjata. Ulama yang setuju, selamat, namun yang menolak dibunuh. Mereka juga merampas apa saja yang berharga dari kota itu.

    Tentang serangan ke Thaif ini, ulama Mekah al-Mukaramah bermazhab Syafi’i, Ahmad ibnu Zaini Dahlan dalam kitab Umara ul-Baladil Haram yang ditulisnya, menyatakan begini; “Ketika memasuki Thaif, Wahabi membunuh semua orang, termasuk orang tua renta, anak-anak, tokoh masyarakat dan pemimpinnya, membunuh golongan syarif (ahlul bait), dan rakyat biasa. Mereka menyembelih hidup-hidup bayi-bayi yang masih menyusu di pangkuan ibunya, membunuh umat Islam di dalam rumah-rumah dan kedai-kedai kecil. Apabila mereka mendapati satu jama’ah umat Islam mengadakan pengajian Al Qur’an, maka mereka segera membunuhnya hingga tiada lagi yang tertinggal. Kemudian mereka memasuki masjid-masjid dan membunuhi orang-orang yang sedang ruku’ dan sujud, merampas uang dan hartanya, menginjak-injak mushaf Al Qur’an, dan juga menginjak-injak kitab Bukhari, Muslim, kitab fikih, nahwu, dan kitab-kitab lainnya. Kitab-kitab itu kemudian disobek-sobek, dan serpihannya disebarkan di jalan-jalan dan gang-gang. Mereka merampas harta orang-orang Islam, lalu membagikannya di antara mereka, seperti pembagian ghanimah (harta pampasan perang) dari orang kafir.”

    Soal serangan ke Mekah, para ahli sejarah berbeda versi tentang tahun kejadiannya. Abdullah bin Asy-Syarif Husain menyebut kalau penyerangan terjadi pada 1218-1219 Hijriyah (1803-1804 Masehi), namun Utsman ibnu Abdullah ibnu Bisyr al-Hanbali An-Najdi menyebut pada 1220 Hijriyah (1805 Masehi). Namun yang pasti, penyerangan terjadi persis pada musim haji, karena umat Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji memang merupakan sasaran utamanya. Dalam penyerangan ini, ribuan Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji tewas. Penduduk juga diserang. Mereka ada yang langsung dibunuh, namun ada juga yang disiksa dahulu, baru dibunuh. Bahkan ada yang dimutilasi dalam keadaan masih hidup. Yang lebih sadis, selain merampas harta penduduk, pasukan Wahabi juga menyandera anak-anak dan baru dibebaskan setelah ditebus orangtuanya.

    Mekah diduduki Wahabi selama sekitar enam tahun. Pada periode ini, Mekah benar-benar dalam masa kegelapan karena selain penduduk kota ini tak dapat lagi menjalankan syariat Islam dan harus mengikuti paham Wahabi, juga karena mushaf-mushaf Al Qur’an dibakar, kitab-kitab hadist dibakar, bahkan bangunan-bangunan bersejarah dan makam dihancurkan. Penduduk juga dilarang merayakan Maulid Nabi dan membaca barzanzi. Korban terus bertambah karena kezaliman Wahabi membuat penduduk yang masih hidup mengalami bencana kelaparan hebat karena semua harta yang mereka miliki, telah dirampas.

    Madinah diserang pada akhir bulan Dzulqa’idah 1220 H, tak lama setelah Mekah dihancurkan. Dalam serangan ini bukan hanya penduduk dibunuhi dan hartanya dirampas, namun rumah Rasulullah Saw pun digerebek dan semua barang berharga di rumah itu dirampas, termasuk lampu dan tempat air yang terbuat dari emas dan perak berhiaskan permata dan zamrud. Sejumlah ulama di kota ini, seperti Shaikh Islmail al-Barzanji dan Shaikh Dandrawi melarikan diri. Pasukan Wahabi juga menghancurkan semua kubah di Pemakaman Baqi, termasuk kubah makam para Ahlul Baits yang terdiri dari istri-istri Nabi Saw dan keturunannya. Pasukan zalim ini bahkan sempat mencoba memusnahkan kubah makam Rasulullah saw, namun begitu melihat di kubah tersebut terdapat lambang bulan sabit yang mereka sangka terbuat dari emas murni, mereka mengurungkannya.

    Puas membuat kerusakan, Pasukan Wahabi meninggalkan Madinah yang telah mereka ubah laksana kota mati yang luluh lantak.

    ***

    Pasukan Wahabi menyerang Uyainah pada bulan Rajab 1163 Hijriah (1750 Masehi). Penduduk dan emir kota itu, Utsman ibnu Hamad ibnu Mu’ammar, dibunuh saat baru saja selesai sholat Jum’at dan masih berada di dalam masjid. Rumah-rumah dihancurkan, ladang-ladang dibakar, semua harta berharga dirampas, dan para wanita dijadikan budak belian.

    Tak sampai di situ, Muhammad bin Abdul Wahab bahkan menakut-nakuti penduduk yang melarikan diri agar jangan membangun lagi kota mereka hingga selama 200 tahun dengan alasan, jika sebelum 200 tahun rumah-rumah kembali didirikan di Uyainah, maka Allah SWT akan mengirimkan jutaan belalang untuk meluluhlantakkannya. Ini tentu saja kebohongan belaka. Yang lebih mengiris hati, berdasarkan buku Tarikh Najd, sebuah buku tentang sejarah Saudi yang dikeluarkan oleh kerajaan Arab Saudi, diketahui kalau penyerangan terhadap Unaiyah dilakukan karena Wahabi menganggap penduduk kota itu kafir. Na’uzubillahiminzalik!

    Riyad diserang pasukan Wahabi pada 1187 Hijriyah (1774 Masehi). Semua bangunan di kota ini dirusak dan dihancurkan, termasuk bangunan observatorium dan menara. Penduduknya, baik perempuan maupun laki-laki, anak-anak maupun orang dewasa, dibunuh. Selama beberapa hari, Riyad diduduki, dan begitu kota ini ditinggalkan, mereka membawa harta rampasan yang amat banyak.

    Kuwait diserang hingga tiga kali. Pertama pada 1205 Hijriyah (1790 Masehi), kedua pada 1213 Hijriyah (1798 Masehi), dan ketiga pada 1223 Hijriyah (1808 Masehi). Seperti halnya serangan pada kota-kota yang lain, bangunan-bangunan di negara kaya minyak ini pun dirusak dan dihancurkan, dan rakyatnya dibunuhi. Kabilah-kabilah di Kuwait dan Bahrain yang menolak membayar jizyah (padahal jizyah hanya dikenakan kepada orang-orang kafir yang dilindungi), diserang habis-habisan. Pada buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi tertulis, serangan Wahabi terhadap Kuwait ini didukung Inggris karena kala itu Kuwait masih berada di bawah pemerintahan Khlaifah Islam Turki ‘Utsmani, sehingga serangan Wahabi ini menimbulkan perang besar yang dikenal dengan nama Peperangan al-Hamdh.

    Pada 1338 Hijriyah (1920 masehi), Wahabi lagi-lagi menyerang Kuwait sehingga perang kembali pecah dan dikenal dengan nama Perang al-Jahra. Dalam kejadian ini, ulama Kuwait Syaikh Salim ash-Shabbah nyaris saja tertawan, namun berhasil diselamatkan pasukan Ibnu Thawalah dari Kabilah Syammar dan al-Ujiman. Korban tewas dari tentara dan penduduk sipil Kuwait mencapai ribuan orang.

    Pada 1341 Hijriyah (1921 Masehi), pasukan Wahabi yang sebagian besar merupakan tentara kerajaan Arab Saudi, menghadang sekitar 1.000 orang penduduk Yaman yang sedang dalam perjalanan menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Penghadangan dilakukan di lembah Tanumah. Dalam kejadian ini, hanya dua orang yang berhasil melarikan diri karena yang lainnya tewas. Kerajaan Arab Saudi meminta maaf kepada pemerintah Yaman dan berdalih kalau pihaknya mengira rombongan jemaah haji itu adalah jamaah dari Hijaz yang membawa senjata. Namun setelah para ulama melakukan penelitian, diketahui kalau pembunuhan itu memang dilakukan dengan sengaja. Peristiwa ini diabadikan ahli sejarah Dr. Muhammad Awadh al-Khatib dalam buku berjudul Shafahat min Tarikh al-Jazirah al-Arabiyah yang ditulisnya.

    Pada 1408 Hijriyah (1986 Masehi) jemaah haji Iran meneriakkan yel-yel yang mengkritik Amerika dan sekutu-sekutunya sambil berjalan menuju Masjidil Haram untuk menunaikan shalat berjamaah, umrah, dan thawaf. Yel-yel yang diteriakkan bunyinya begini; “Kematian untuk Amerika, kematian untuk Rusia, kematian untuk Israel! Wahai umat Islam, bersatulah!” Aksi jamaah haji Iran ini menarik perhatian jemaah haji dari negara lain, dan sebagian dari mereka ikut meneriakkan yel-yel tersebut. Ketika mereka telah mendekati Masjidil Haram, tentara Saudi Arabia menghadang dan menembaki mereka dengan membabi-buta. Sebanyak 329 jemaah haji tewas dan ribuan luka-luka. Pembantaian ini dilakukan karena pemerintah Arab Saudi tak suka negara-negara sekutunya dikecam dan dikritik.

    Wahabi benar-benar melaksanakan seluruh isi skema enam paragraf Kementerian Persemakmuran tanpa menyadari kalau kebrutalan mereka membuat sekte mereka tak ubahnya bagai organisasi teroris yang menimbulkan kerusakan dan kematian di mana-mana. Apalagi karena setiap kali melakukan penyerangan, pembunuhan, dan perampasan harta sesama Muslim, sekte ini mendalihkannya sebagai tindakan jihad fisabilillah dan demi menegakkan ajarannya di muka bumi. Sama seperti yang diyakini para teroris saat ini, termasuk Imam Samudera cs. Sekte ini seperti tak kunjung menyadari kalau mereka diperalat oleh orang-orang kafir yang sesungguhnya (baca; Inggris) untuk menghancurkan Islam dan menyeret diri mereka sendiri ke dalam kekafiran.

    Jika kita membaca buku-buku yang berkaitan dengan Wahabi, kita akan menemukan lebih banyak lagi kejahatan yang dilakukan sekte ini terhadap umat Islam, karena yang diserang bukan hanya kota-kota, negara-negara, serombongan orang, tapi juga pribadi-pribadi muslim, khususnya para ulama.

    Mengutip dari buku Sejarah Berdarah Sekte Wahabi, sejak awal perkembangannya yang dimulai pada 1738, Wahabi telah melakukan kejahatan dengan membunuhi para ulama yang menentang ajarannya, terutama ulama-ulama di kota-kota yang menjadi target penyebaran ajaran sekte ini, seperti Thaif, Mekah, Madinah, Ahsaa, Karbala, Yaman, dan Syam. Ulama yang dibunuh di antaranya ;
    1. Syaikh Abdullah az-Zawawi, ulama yang juga mufti Mekah al-Mukaramah yang bermazhab Syafi’i. Ulama ini dibunuh di rumahnya dengan cara disembelih.
    2. Syaikh Ja’far asy-Syaibi, dibunuh oleh komandan tentara Wahabi pada 1217 Hijriyah (1802 Masehi).
    3. Tiga ulama dari Kabilah Umar ibnu Khalid, dibunuh pada 1838 saat sedang dalam perjalanan menuju Ahsaa.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s