Emha Ainun Nadjib Melogikakan Allah


 

Emha Ainun Nadjib Melogikakan Allah

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Kasus dukun cilik Ponari dengan batu petirnya telah banyak dibahas. Namun masih menyisakan adanya pembelaan orang terhadap berlangsungnya perdukunan pakai batu petir itu dengan tulisan yang sampai mengqiyaskannya dengan tongkat Nabi Musa ‘alaihis salam, Hajar Aswad dan sebagainya.

Tulisan jungkir balik tidak keruan itu masih pula materinya adalah tentang musyrik tidaknya tingkah perdukunan. Semuanya ditulis dalam bentuk yang aneh, bahkan dia sendiri menyatakan: Aku tidak ngerti.

Berikut ini tulisan yang berjudul Para Ahli Kubur dari Jombang yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib, dimuat di Tempo Interaktif Jakarta, 24 Februari 2009. Di bagian bawah, kami tulis tanggapan.

Tulisan Emha Ainun Nadjib:

Para Ahli Kubur dari Jombang

Selasa, 24 Februari 2009 | 15:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Tulisan ini saya bikin dengan asumsi dasar bahwa para pembaca percaya ada Allah dengan kekuasaan-Nya. Di salah satu tayangan televisi, muncul seorang kiai dengan nasihat sangat bijak, kurang-lebih begini: “Jangan minta kepada Ponari, Ponari itu makhluk. Jangan minta kepada batu, batu itu makhluk. Jangan berlaku syirik sehingga menjadi manusia musyrik. Mintalah Khaliq, Allah Swt….”
Sangat pendek tapi cespleng. Media massa sangat mengerti kecerdasan masyarakat, sehingga cukup pendek saja. Setiap yang mendengarkan fatwa itu meneruskan sendiri dalam hati dengan logikanya: “Jangan minta kesembuhan kepada dokter, dokter itu makhluk. Jangan minta kepada pil dan obat-obatan, pil dan obat-obatan itu makhluk. Jangan berlaku syirik, sehingga menjadi manusia musyrik.”
Ya Allah ya Rabbi ya Karim, wahai saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Kalau Nabi Musa pegang tongkat, bersama pasukannya dikejar tentara Firaun, mendapat perintah dari Allah, “Pukulkan tongkatmu ke air laut!” Lantas laut terbelah, pasukan memasuki belahannya, kemudian Firaun dan tentaranya mengejar ke belahan itu, namun tenggelam karena air menutup kembali, mohon dengan sangat jangan simpulkan bahwa yang dipegang Musa itu “tongkat sakti”, sehingga Nabi Musa juga “Maha Dukun” yang sakti.
Mohon dengan sangat, jangan rumuskan bahwa tongkat Nabi Musa mampu membelah laut, mampu menerbitkan mata air dari batu kering, meskipun insya Allah bisa bikin pecah kepala kita. Apalagi lantas dengan metodologi ilmiah tertentu, para pakar meneliti tongkat itu mengandung zat dan energi apa sehingga air samudra terbelah olehnya. Kalau besok paginya Anda minta kepada Nabi Musa untuk membelah air laut lagi, percayalah air laut tak akan terbelah. Sebab, yang membuat laut terbelah bukanlah Musa atau tongkatnya, melainkan perintah atau perkenan Allah.
Lha Allah ini pemegang saham dan the only resources dari seluruh “alam semesta ini dengan segala ketentuan hukum dan perilakunya”. Hak absolut Allah untuk menyuruh orang membelah laut dengan tongkat atau dengan meludahinya. Kalau Musa pukulkan tongkat lagi ke laut tanpa perintah-Nya, dijamin tak terjadi apa-apa. Atau besoknya Tuhan suruh Musa “Berteriaklah keras-keras!”, lantas tiba-tiba laut terbelah lagi ditambah gunung ambruk dan air sungai membalik arah arus airnya, itu sepenuhnya terserah-serah Tuhan.
Makhluk, juga dokter atau dukun, batasnya adalah mengobati atau menjadi sarana proses menuju kesembuhan. Tapi pengambil keputusan untuk sembuh atau hak dan kuasa untuk menyembuhkan ada pada Allah. Terserah Dia juga mau bikin sembuh orang sakit pakai cara bagaimana dan alat apa. Bisa tongkat, bisa batu, bisa air, bisa karena ditempeleng, bisa dengan apa pun saja semau-mau Tuhan. Yang diperintah oleh Tuhan untuk menjadi sarana penyembuhan terserah Dia juga. Mau kiai, pendeta, pastor, rabi, tukang sol sepatu, Ponijo, Rasul, Nabi, Markesot, atau siapa pun dan apa pun saja. Kalau Anda dan saya tidak setuju, Tuhan “tidak patheken” juga. Dia Maha Pemilik Saham segala sesuatu dalam kehidupan, Dia berhak ambil keputusan apa saja.
Kalau seorang suami pergi lama tugas ke kota yang jauh, sehingga bawa celana dalam istrinya, mohon jangan simpulkan bahwa dia penggemar celana dalam, kemudian Anda coba rebut celana dalam itu untuk Anda selidiki, bahwa dia mengandung zat-zat dan bebauan apa, sehingga seorang tokoh besar membawa-bawanya ke mana pun pergi. Kalau pas di kamar hotel sendirian suami itu mencium-ciumi celana dalam, mohon jangan dikonklusikan bahwa ternyata ia punya penyakit jiwa dan harus dibawa ke psikiater. Ya Allah ya Rabbi ya Karim, yang diciumi oleh suami itu bukan celana dalam, melainkan cintanya kepada sang istri dan komitmen kesetiaan di antara mereka.
Wahai saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, kalau saudara-saudaramu naik haji dan berebut mencium Hajar Aswad, itu bukan karena mereka stone-mania atau ngefans sama batu. Mereka sedang meneguhkan kesadaran bahwa mereka sangat butuh Allah dalam hidupnya, maka mereka mengukuhkan cinta kepada makhluk yang paling dicintai Allah, yakni Rasulullah Muhammad Saw. Dan karena dulu Muhammad juga mencium batu hitam itu, padahal jelas beliau tidak punya hobi makan batu, maka mereka menyatakan di hadapan Allah cinta mereka kepada Muhammad. Mudah-mudahan dengan itu mereka kecipratan cinta Allah kepada Muhammad, sehingga Allah memperlakukannya sebagai bagian dari yang paling Ia cintai.
Kabarnya Nabi Musa ketika memimpin pasukan kejaran Firaun itu mendadak sakit perut di tengah lari-lari. Musa mengeluh kepada Allah, dan Allah memerintahkan agar Musa naik bukit ambil daun dari sebatang pohon untuk menyembuhkan sakit perutnya. Musa naik dan, sebelum menyentuh daun, perutnya sudah sembuh. Tolong jangan ambil konklusi “Itu daun mujarab banget, belum disentuh, perut udah sembuh”. Musa balik ke pasukannya, mendadak sakit perut lagi. Ia langsung naik ke bukit, tapi sesudah makan sekian lembar daun perutnya tak sembuh-sembuh juga. Musa protes kepada Allah. Dalam logika saya, Allah menjawab dengan penuh kegelian: “Hei, Sa. Emang siapa yang bilang bahwa daun bisa menyembuhkan perutmu? Meskipun daun itu mengandung unsur-unsur yang secara ilmiah memang rasional bisa menyembuhkan perutmu, Aku bisa bikin tetap tidak menyembuhkan. Tadi waktu sakit perut yang pertama kau mengeluh kepadaku, tapi pada yang kedua kau tak mengeluh dan langsung saja lari ke bukit ambil daun. Karena kamu salah cara berpikirmu. Salah pandangan ilmu dan cintamu kepada segala sesuatu. Kamu salah peradaban. Kamu pikir daun bisa menyembuhkan. Itu tergantung mau-Ku. Aku menyembuhkanmu bisa pakai daun, air putih, batu, lewat Gaza, Tursina, Jombang, atau mana pun semau-mau-Ku…. Berapa lama sebuah anugerah Kuberikan, itu rahasia-Ku, bisa sesaat, sebulan, setahun, terserah Aku.”
“Datanglah ke dokter, minta obat, sebagaimana ratusan juta orang telah melakukannya. Datanglah ke kiai, bawa air putih. Atau datanglah ke mana pun kepada siapa pun. Asalkan kau tak posisikan mereka semua pada maqam-Ku. Engkau berlaku musyrik atau tidak, terletak tidak pada pil dan dokternya, tongkat dan Musa, air dan kiai, atau batu dan siapa pun yang kutitipi batu sejenak. Letak syirik ialah pada pola pandangmu, pada cara berpikirmu. Jangan percaya kepada Ponari, Dukun, Ponari atau Kiai, tapi hormatilah mereka, karena siapa tahu mereka adalah hamba-hamba-Ku yang Kutitipi sarana untuk kesembuhanmu. Minumlah pil dokter dan air batu Ponari dengan kesadaran memohon kepada-Ku….”
Tiba-tiba aku dibentak oleh sebuah suara: “Ngurusi Ponari aja nggak becus! Mau sok-sok berlagak mengurusi NKRI!” Terperangah aku. Terpaksa kupotong di sini tulisanku ini, sebab aslinya panjang sekali. Kucari siapa berani-berani membentakku. Tak ada siapa-siapa. Tapi malam di Kendari menjelang aku tidur kelelahan usai bersalaman dengan ribuan undangan pengantin anakku, bentakan itu datang lagi: “He! Perhatikan itu para ahli kubur dari Jombang!” Ahli kubur? Aku tak ngerti.
“Kemarin pandangan-pandangan dan anggapan-anggapan dalam hidupmu dikubur habis oleh mutilasi-mutilasi dari tangan seorang yang tersisih secara sosial, yang menderita secara kejiwaan, yang terasing secara politik dan sejarah. Sekarang kalian sedang dikubur oleh sebongkah batu yang nenek itu menyebutnya Watu Gludug, yang dititipkan beberapa waktu kepada anak SLB yang kesepian dan menderita tatkala dipindahkan ke SD. Pelajarilah hari-hari besok dengan meluangkan waktu memperhatikan siapa saja dari tempat itu yang tingkat ketersisihan dan keteraniayaannya lebih dahsyat….” Mendadak ada suara lain yang membungkam suara itu: “Husysy! Shut up!” *

Emha Ainun Nadjib, budayawan

http://www.tempointeraktif.com/hg/kolom/2009/02/24/kol,20090224-58,id.html?page=3

Tanggapan kami

Untuk menghindarkan dari kesalah fahaman terhadap Islam, maka kami merasa perlu menanggapi tulisan tersebut, dengan cara kami kutip lagi sebagian-sebagian dengan kami tanggapi.

Kutipan:

Makhluk, juga dokter atau dukun, batasnya adalah mengobati atau menjadi sarana proses menuju kesembuhan. Tapi pengambil keputusan untuk sembuh atau hak dan kuasa untuk menyembuhkan ada pada Allah. Terserah Dia juga mau bikin sembuh orang sakit pakai cara bagaimana dan alat apa. Bisa tongkat, bisa batu, bisa air, bisa karena ditempeleng, bisa dengan apa pun saja semau-mau Tuhan. Yang diperintah oleh Tuhan untuk menjadi sarana penyembuhan terserah Dia juga. Mau kiai, pendeta, pastor, rabi, tukang sol sepatu, Ponijo, Rasul, Nabi, Markesot, atau siapa pun dan apa pun saja. Kalau Anda dan saya tidak setuju, Tuhan “tidak patheken” juga. Dia Maha Pemilik Saham segala sesuatu dalam kehidupan, Dia berhak ambil keputusan apa saja.

Tanggapan:

Emha menyamakan dokter dengan dukun, sama-sama mengobati atau menjadi sarana proses menuju kesembuhan. Ketika Emha berbicara tentang sarana proses menuju kesembuhan, mestinya memilah lebih dulu, sarana proses yang mana yang dibolehkan Allah dan mana yang diharamkan. Dokter jelas dibolehkan untuk mengobati ketika memenuhi syarat-syaratnya dan menjalankan prakteknya dengan tanpa pelanggaran-pelanggaran. Kebolehan itu juga tidak mutlak. Bila ada unsur-unsur pelanggarannya dalam praktek, atau memakai hal-hal yang terlarang maka jadi terlarang.

Sebaliknya dukun jelas sudah terlarang agama (Islam) kecuali dukun bayi yang arti lafal dukun (dalam dukun bayi) di situ tidak langsung berkaitan dengan mantra (yang tidak syar’i). Tetapi lafal dukun itu sendiri (selain dukun bayi, bila ia tanpa mantra-mantra) sudah mengandung pengertian sok tahu tentang hal-hal ghaib dan memakai mantra-mantra yang tak syar’I dengan ciri-ciri membuat syarat-syarat tertentu berkaitan dengan nama pasien, tanggal lahir dan semacamnya yang dihubungkan dengan klenik perdukunan) maka sudah jelas diharamkan dalam Islam. Larangan itu pun tegas-tegas dengan ancaman:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً.(رواه مسلم وأحمد).

Orang yang mendatangi tukang ramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam”. (Hadist Riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad dari sebagian isteri Nabi [Hafshah]).

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُول فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ (رواه أحمد والحاكم).

Orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya maka orang tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad saw”. (HR. Imam Ahmad dan al- Hakim dari Abu Hurairah).

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا , أَوْ كَاهِنًا , فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّد.ٍ (رواه أحمد والترمذي وأبو داود وابن ماجة).

Orang yang mendatangi dukun, kemudian membenarkan apa yang dikatakanya atau mendatangi wanita yang sedang haidh, atau menjima’ istrinya dari duburnya, maka sesungguhnya orang tersebut telah terlepas (kafir) dari apa yang telah diturunkan kepada Muhammad saw”. (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

وَمِنْ طَرِيقِ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ { أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ , وَمَهْرِ الْبَغِيِّ , وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ. (متفق عليه).

“ Bahwa Rasulullah saw melarang pemanfaatan harga (jual beli) anjing, mahar kedurhakaan (mahar perzinaan/pelacuran) dan memberi upah kepada dukun”. (HR. Bukhari dan Muslin dari Abu Mas’ud).

Ketika dukun sudah ada larangannya dalam Islam, lalu disamakan saja dengan dokter oleh Emha Ainun Nadjib, maka tentu saja akan fatal pemahamannya. Meskipun sama-sama hanya sebagai sarana proses untuk mencari kesembuhan, namun yang satu halal dan yang satu haram, maka tentu saja sudah jauh beda. Dan itu sama sekali tidak dapat dihalalkan secara sama-sama hanya dengan alasan, semua itu yang menyembuhkan adalah Allah. Karena walaupun percaya bahwa sama-sama, yang menyembuhkan adalah Allah, namun tidak otomatis menjadikan halalnya yang haram. Sebagaimana dalam Tarikh Islam dikenal, dalam perang melawan nabi palsu, pasukan Khalifah Abu Bakar Shiddiq bernama Wahsyi membunuh nabi palsu Musailimah Al-Kadzdzab (sang pendusta). Wahsyi membunuhnya dengan senjata perang. Ini tentu saja yang mematikan Musailimah Al-Kadzdzab adalah Allah. Dan itu, menyerang nabi palsu itu adalah jihad, justru merupakan perintah Allah, jadi bukan hanya boleh tetapi bahkan disuruh. Namun seandainya cara membunuhnya itu dengan mengundang dukun untuk melancarkan santet atau sihir terhadap Musailimah Al-Kadzdzab, maka haram. Walaupun kalau Allah menghendaki maka mati pula nabi palsu itu dengan lantaran disantet. Karena Allah berfirman mengenai sihir ataupun santet itu haram dan jadi kufur, dan tidak akan terjadi tanpa idzin Allah. (Lihat QS Al-Baqarah:102). Jadi sarana yang haram pun bisa punya dampak (kesembuhan, mati dan sebagainya) itu juga dari Allah, namun bukan berarti menjadi halal. Sebagaimana orang memakan yang haram, misalnya babi, bangkai, darah dan sebagainya, akan kenyang juga, dan yang mengenyangkan itu Allah. Sekalipun orang yang makan haram itu percaya 100 persen bahwa yang mengenyangkan itu Allah, namun tidak berarti yang haram itu menjadi halal. Jadi jangan digebyah uyah, dianggap sama saja, semua garam itu asin, lalu dihalalkan semua

Perkataan Emha:

“Yang diperintah oleh Tuhan untuk menjadi sarana penyembuhan terserah Dia juga. Mau kiai, pendeta, pastor, rabi, tukang sol sepatu, Ponijo, Rasul, Nabi, Markesot, atau siapa pun dan apa pun saja. Kalau Anda dan saya tidak setuju, Tuhan “tidak patheken” juga. Dia Maha Pemilik Saham segala sesuatu dalam kehidupan, Dia berhak ambil keputusan apa saja.”

Tanggapan kami:

Perintah itu sudah komplit, ada sarana yang dibolehkan, dan ada yang diharamkan. Tidak usah Emha mengandai-andaikan dengan menyebut dengan menjajar-jajarkan kiai, pendeta, pastor, rabi, tukang sol sepatu, Ponijo, Rasul, Nabi, Markesot, atau siapa pun dan apa pun saja. Di situ Emha perlu tahu adanya kehendak Allah, ada yang sifatnya kauni dan ada yang sifatnya syar’i. Kehendak Allah yang kauni, seperti orang memakan makanan yang haram (bangkai, misalnya) jadi kenyang juga. Tetapi itu tidak syar’i. Ketika tidak syar’I, maka Allah Ta’ala tidak meridhoinya. Itu masalahnya. Jadi jangan dipukul rata. Sedangkan Allah Ta’ala sudah memberikan aturan secara komplit, dengan firman-Nya:

اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْناً

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS Al-Maaidah: 3).

Ketika sudah komplit, maka tinggal dipelajari melalui para ulama yang manhaj (system pemahamannya) benar sesuai yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diwarisi para sahabatnya, tabi’ien, tabi’t tabi’ien, dan para ulama yang mengikuti jalannya. Kemudian diamalkan dengan baik. Baru bicara dengan ilmunya itu. Kalau tidak, maka kelihatannya seakan membela Allah, padahal justru sebaliknya.

Kutipan:

Kabarnya Nabi Musa ketika memimpin pasukan kejaran Firaun itu mendadak sakit perut di tengah lari-lari. Musa mengeluh kepada Allah, dan Allah memerintahkan agar Musa naik bukit ambil daun dari sebatang pohon untuk menyembuhkan sakit perutnya. Musa naik dan, sebelum menyentuh daun, perutnya sudah sembuh. Tolong jangan ambil konklusi “Itu daun mujarab banget, belum disentuh, perut udah sembuh”. Musa balik ke pasukannya, mendadak sakit perut lagi. Ia langsung naik ke bukit, tapi sesudah makan sekian lembar daun perutnya tak sembuh-sembuh juga. Musa protes kepada Allah. Dalam logika saya, Allah menjawab dengan penuh kegelian: “Hei, Sa. Emang siapa yang bilang bahwa daun bisa menyembuhkan perutmu? Meskipun daun itu mengandung unsur-unsur yang secara ilmiah memang rasional bisa menyembuhkan perutmu, Aku bisa bikin tetap tidak menyembuhkan. Tadi waktu sakit perut yang pertama kau mengeluh kepadaku, tapi pada yang kedua kau tak mengeluh dan langsung saja lari ke bukit ambil daun. Karena kamu salah cara berpikirmu. Salah pandangan ilmu dan cintamu kepada segala sesuatu. Kamu salah peradaban. Kamu pikir daun bisa menyembuhkan. Itu tergantung mau-Ku. Aku menyembuhkanmu bisa pakai daun, air putih, batu, lewat Gaza, Tursina, Jombang, atau mana pun semau-mau-Ku…. Berapa lama sebuah anugerah Kuberikan, itu rahasia-Ku, bisa sesaat, sebulan, setahun, terserah Aku.”

“Datanglah ke dokter, minta obat, sebagaimana ratusan juta orang telah melakukannya. Datanglah ke kiai, bawa air putih. Atau datanglah ke mana pun kepada siapa pun. Asalkan kau tak posisikan mereka semua pada maqam-Ku. Engkau berlaku musyrik atau tidak, terletak tidak pada pil dan dokternya, tongkat dan Musa, air dan kiai, atau batu dan siapa pun yang kutitipi batu sejenak. Letak syirik ialah pada pola pandangmu, pada cara berpikirmu. Jangan percaya kepada Ponari, Dukun, Ponari atau Kiai, tapi hormatilah mereka, karena siapa tahu mereka adalah hamba-hamba-Ku yang Kutitipi sarana untuk kesembuhanmu. Minumlah pil dokter dan air batu Ponari dengan kesadaran memohon kepada-Ku….”

Tanggapan:

Masalah yang Emha bicarakan ini hal yang sangat besar. Tentang kemusyrikan, tentang Allah Ta’ala, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hajar aswad, Nabi Musa ‘alaihis salam. Tetapi hanya dengan duga-duga dan main kata-kata secara gebyah uyah (pukul rata lagi serampangan).

Dibumbui dengan apa yang dia sebut kabarnya Nabi Musa dan seterusnya, tanpa dijelaskan dari mana sumbernya, riwayat siapa dan derajat riwayat itu shahih atau tidak. Sedangkan menurut ilmu Islam, riwayat yang shahih mengenai nabi-nabi terdahulu, bahkan tercantum di dalam Al-Qur’an pun harus dicari bagaimana pemahaman yang benar mengenai kesimpulan dari riwayat itu dalam kedudukannya untuk pengamalan syari’at Islam. Apakah masih disyari’atkan dalam Islam atau tidak. Seperti tentang taubatnya umat Nabi Musa ‘alaihis salam yang menyembah anak sapi bikinan Samiri, maka mereka disuruh saling membunuh jiwa-jiwa mereka.

)وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ) (البقرة:54)

  1. Dan (ingatlah), ketika Musa Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, Sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu Telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu[49]. hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; Maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya dialah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah: 54).

[49] Membunuh dirimu ada yang mengartikan: orang-orang yang tidak menyembah anak lembu itu membunuh orang yang menyembahnya. Adapula yang mengartikan: orang yang menyembah patung anak lembu itu saling bunuh-membunuh, dan ada pula yang mengartikan: mereka disuruh membunuh diri mereka masing-masing untuk bertaubat. (Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI)

Syari’at Nabi Musa itu apakah masih dilanjutkan di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ternyata tidak. Bahkan bunuh diri termasuk dosa besar. Jadi di samping periwayatannya harus jelas, derajat kesahihan periwayatannya pun harus jelas, masih pula kesimpulannya harus jelas, dan masih dipakai atau tidak dalam syari’at Islam pun harus jelas. Ketika hanya kabarnya…. tanpa ada kejelasan, maka tidak perlu dijadikan pegangan sebelum jelas benar.

Ungkapan Emha: Dalam logika saya, Allah menjawab dengan penuh kegelian: “Hei, Sa. Emang siapa yang bilang bahwa daun bisa menyembuhkan perutmu?….

Tanggapan kami: Emha telah bertindak seperti dalang yang sedang memainkan wayang. Bercerita dengan mempersonifikasikan wayang yang sedang dia mainkan. Bahkan “memainkan’ Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan ucapan-ucapan pakai tanda petik (“) segala, yang artinya kutipan langsung. Ini seperti dalang, namun yang dimainkan adalah Allah Ta’ala.

Seandainya isinya benar, misalnya, maka cara seperti itu jelas tidak pernah dicontohi oleh para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’ien, tabi’iet tabi’ien, dan para ulama yang bermanhaj yang benar yakni yang mengikuti manhaj sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan perkataan Allah dalam hadits qudsinya, itu memang karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan wahyu dari Allah Ta’ala. Hadits Qudsi adalah hadits yang dalam matannya ada perkataan yang disandarkan kepada Allah Ta’ala. Contohnya:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman berinfaqlah pasti Aku akan membalas infaq atasmu. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut di atas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi matannya bersifat firman Allah, atau disandarkan kepada Allah. (lihat Drs Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Hadits, Bumi Aksara, Jakarta, cetakan 2, 2002, halaman 205).

Meskipun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam berbicara dengan menyandarkannya kepada Allah Ta’ala, namun para sahabat tahu bahwa itu wahyu dari Allah Ta’ala. Maka para sahabat tidak ada yang berbicara secara ngarang lalu atas nama firman Allah, bahkan pakai tanda kutip lagi, yang artinya kutipan langsung. Tetapi Emha telah berbuat demikian. Betapa beraninya!

Ungkapan Emha (masih melanjutkan . Dalam logika saya, Allah menjawab) : “… Jangan percaya kepada Ponari, Dukun, Ponari atau Kiai, tapi hormatilah mereka, karena siapa tahu mereka adalah hamba-hamba-Ku yang Kutitipi sarana untuk kesembuhanmu. Minumlah pil dokter dan air batu Ponari dengan kesadaran memohon kepada-Ku….”

Tanggapan kami:

Perkataan yang dibuat-buat dan dilogika-logikakan sebagai jawaban Allah itu betapa ngaco-nya. Ungkapan: “Jangan percaya kepada Ponari, Dukun, Ponari atau Kiai, tapi hormatilah mereka,” itu sangat bertentangan dengan wahyu yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat mengecam dukun seperti tersebut di atas. Masa Emha berani-beraninya mengatasnamakan jawaban Allah, namun menyuruh menghormati dukun?! Itu tidak mungkin, kecuali dari wahyu syetan. Karena menurut Ibnu Mas’ud, wahyu itu ada dua: wahyu Ar-Rahman dan wahyu Syetan. Memang Emha tidak menyatakan bahwa itu yang dia ucapkan itu wahyu. Tetapi, ketika sudah mengatas namakan jawaban Allah, maka berarti dia telah memposisikan perkataannya itu sebagai wahyu! Itu masalah besar! Dan itulah masalahnya!

Seandainya ucapan-ucapannya itu benar, sesuai dengan syari’at, itupun sudah tidak benar, karena sudah melogika-logikakan Allah Ta’ala dengan ucapan dipersonifikasikan sebagai jawaban Allah. Apalagi isinya sangat bertentangan dengan syari’at Islam.

Ungkapan Emha selanjutnya: “…karena siapa tahu mereka adalah hamba-hamba-Ku yang Kutitipi sarana untuk kesembuhanmu. Minumlah pil dokter dan air batu Ponari dengan kesadaran memohon kepada-Ku….”

Tanggapan kami:

Sudah jelas, Allah telah berfirman dalam Surat Al-Maaidah ayat 3,

َالْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْناً

pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS Al-Maaidah: 3).

Di dalam Islam sudah ada batasan-batasan mana yang haq dan mana yang batil. Ketika berobat dengan barang-barang yang mengandung unsur obat dan tidak ada dalil yang melarangnya maka boleh. Demikian pula berobat kepada ahlinya, yang tidak memakai sarana-sarana yang diharamkan maka boleh. Sebaliknya, berobat dengan barang yang tidak terbukti mengandung unsur obat tetapi dianggap saja sebagai barang sakti, punya kekuatan gaib, maka haram. Karena sudah menyangkut hal gaib dan kekuatan memberi manfaat dan madharat. Itu hanya hak Allah. Baru dibolehkan apabila ada keterangan dari Allah dan Rasul-Nya bahwa itu boleh. Misalnya, berobat dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an atau do’a-do’a yang dibolehkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka boleh. Tetapi semata-mata mantra-mantra yang tidak syar’I, maka tidak boleh.

Sebagaimana memperlakukan kain, ketika dibalutkan dari pinggang bayi sampai perutnya, kalau tujuannya untuk melindungi bayi agar tidak kena angin, atau agar pusarnya tidak menyembul (bodong bahasa Jawa), maka boleh, karena sesuai dengan fungsi kain itu. Namun kalau kain itu dianggap sebagai jimat, punya tuah atau kesaktian atau kekuatan maka tidak boleh, itu menjadi sarana kemusyrikan, dosa terbesar yang tidak diampuni bila meninggal dalam keadaan demikian dan belum bertaubat. Demikian menurut fatwa para ulama di Lajnah Daaimah.

Sebaliknya, kalau barang itu sudah lebih dulu diyakini mempunyai kesaktian, maka sudah otomatis terlarang. Tidak bisa dikatakan tergantung niatnya, kalau niatnya mencari kesembuhan kepada Allah maka tidak apa-apa. Itu tidak bisa. Karena dari awalnya sudah memberlakukan batu (barang) sebagai benda sakti, bukan sekadar benda. Kalau sekadar benda, maka batu dicelupkan ke air tidak punya fungsi apa-apa, selain fungsi asalnya –sebagaimana kebiasaannya— air ketika diminum mengakibatkan hilang hausnya. Maka dicelupi batu ya hanya akan terasa air celupan batu. Fungsinya, masih seperti air biasa. Kecuali kalau batu itu memang terbukti mengandung unsur-unsur obat. Atau, batu itu difungsikan sebagaimana batu biasa, bisa untuk menggosoki daki di badan, maka tidak apa-apa.

Jadi persoalannya, ketika barang dianggap sebagai barang sakti, maka perlu dalil. Bila tidak, dan ternyata tidak ada dalilnya, maka tidak boleh sama sekali dianggap sakti, masih pula tidak boleh digunakan untuk hal-hal yang kaitannya dengan keyakinaى adanya kesaktian itu, seperti dalam hal ini penyembuhan penyakit. Berbeda dengan obat, memang Allah telah memberikan obat untuk sarana penyembuhan penyakit. Jika memang mengandung unsur-unsur obat, maka ketika digunakan untuk mengobati justru sesuai dengan fungsinya. Ketika sesuai fungsinya itulah baru orang boleh berkata: berobat itu tergantung niatnya. Kalau mempercayai bahwa yang menyembuhkan itu Allah, maka benar. Dan bila meyakini yang menyembuhkan tu obat atau dokter maka jadi musyrik. Di situ baru boleh bilang! Tetapi kalau dari semula sudah mempercayai batu sebagai benda sakti, dan digunakan bukan sekadar seperti batu biasa, maka sudah jatuh pada keharaman, karena menganggapnya sakti itu tadi. Jadi di sini tidak berlaku kata-kata: tergantung pada niatnya. Karena sudah terdahului oleh kesalahan yakni menganggapnya sebagai benda sakti itu tadi!

Orang-orang yang berdukun dengan mempercayai batu sakti Ponari itu sudah jelas salah. Namun lebih salah lagi adalah orang-orang yang mengatakan: tergantung niatnya. Dan bahkan lebih salah lagi orang yang membelanya dengan mengqiyaskan (membandingkan/ menganalogikan) dengan tongkat Nabi Musa, Hajar Aswad dan sebagainya. Dan bahkan ditambah lebih salah lagi ketika semua itu diatas namakan dengan logika dia sebagai jawaban Allah Ta’ala. Na’udzubillahi min dzaalik!

Kutipan:

Tiba-tiba aku dibentak oleh sebuah suara: “Ngurusi Ponari aja nggak becus! Mau sok-sok berlagak mengurusi NKRI!” Terperangah aku. Terpaksa kupotong di sini tulisanku ini, sebab aslinya panjang sekali. Kucari siapa berani-berani membentakku. Tak ada siapa-siapa. Tapi malam di Kendari menjelang aku tidur kelelahan usai bersalaman dengan ribuan undangan pengantin anakku, bentakan itu datang lagi: “He! Perhatikan itu para ahli kubur dari Jombang!” Ahli kubur? Aku tak ngerti.

“Kemarin pandangan-pandangan dan anggapan-anggapan dalam hidupmu dikubur habis oleh mutilasi-mutilasi dari tangan seorang yang tersisih secara sosial, yang menderita secara kejiwaan, yang terasing secara politik dan sejarah. Sekarang kalian sedang dikubur oleh sebongkah batu yang nenek itu menyebutnya Watu Gludug, yang dititipkan beberapa waktu kepada anak SLB yang kesepian dan menderita tatkala dipindahkan ke SD. Pelajarilah hari-hari besok dengan meluangkan waktu memperhatikan siapa saja dari tempat itu yang tingkat ketersisihan dan keteraniayaannya lebih dahsyat….” Mendadak ada suara lain yang membungkam suara itu: “Husysy! Shut up!” *

Tanggapan:

Tentang isi ungkapan itu sudah cukup tanggapan-tanggapan tersebut di atas. Hanya akan kami perjelas suasana dia, tampaknya Emha menceritakan apa yang dia sendiri sebut “Aku tak ngerti”, yang hal itu terjadi, katanya: Tak ada siapa-siapa. Tapi malam di Kendari menjelang aku tidur kelelahan usai bersalaman dengan ribuan undangan pengantin anakku, bentakan itu datang lagi: “He! Perhatikan itu para ahli kubur dari Jombang!” Ahli kubur? Aku tak ngerti.

Apa yang Emha ceritakan itu, untuk lebih jelasnya mari kita simak rangkaian kejadian yang melingkupi dia saat itu, ada berita tentang resepsi pernikahan anaknya di Kendari. Beritanya sebagai berikut:

Judul : Noe Letto Melepas Lajang

Episode : Global

Tayang : Sabtu, 21 Februari 2009 Pkl. 11:00 – 11:30 WIB

AKHIRNYA tiba juga waktu vokalis grup Letto Noe menikahi Fauzia Fajar Putri alias Uci. Resepsi pernikahan berlangsung meriah dan mewah di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (19/2) malam. Tak kurang dari lima ribu undangan memadati tempat resepsi yang tepatnya berlokasi di arena bekas Musabaqah Tilawatil Quran Kendari. Noe dan Uci tampak bahagia. Begitu pula orang tua kedua belah pihak, tak terkecuali ayah Noe, Emha Ainun Nadjib dan sang ibu tiri Novia Kolopaking.
Saat ditemui, Uci mengaku tak mampu mengungkapkan dengan kata-kata perasaan setelah menikah. Sementara sang suami yang bernama asli Sabrang Mowo Damar Panuluh menegaskan, bahwa pernikahan bukanlah hal main-main. “Yang saya tangkap, perkawinan itu serius,” ucap pelantun lagu Sandaran Hati ini.
Noe termasuk selebritis yang pandai menyimpan informasi pribadi. Selama empat tahun berpacaran dengan Uci, tak banyak perjalanan cinta mereka terekam media. Kabar pernikahan Noe pun sebetulnya sudah tercium sejak pertengahan tahun silam. Tapi Noe, Uci, bersama keluarga kompak tutup mulut
Noe pertama kali bertemu dengan Uci di Australia. Saat itu, Uci yang sedang menimba ilmu di Negeri Kanguru menonton pergelaran grup musik Kyai Kanjeng milik Emha. Sejak itulah, Noe yang ikut tur Kyai Kanjeng menjalin hubungan hingga berjalan serius.
Di Letto, Noe piawai menciptakan sekaligus menyanyikan lagu-lagu romantis. Tapi, apakah Noe seromantis layaknya dalam lagu-lagu Letto? “Nggak romantis. Ngerjain mulu,” kata Uci. Sepanjang memadu kasih, nyaris tak ada pengalaman romantis yang berkesan bagi Uci. Namun demikian, Uci tentu punya banyak alasan untuk memilih Noe untuk dinikahi
Acara pernikahan yang berjalan meriah sempat menimbulkan insiden. Tak lagi jelas antara tamu undangan dan penggemar Letto. Emha sampai harus turun tangan menghentikan sementara acara bersalaman dengan mempelai. Keputusan ini pun membuat Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam meninggalkan lokasi secara mendadak. Di sela-sela resepsi, Emha meyakinkan, tak ada salah paham antara penyelenggara pernikahan dengan Nur.(Zq) http://www.sctv.co.id/view.php?138,21809,,1235149200,0

Emha dan Lia Eden

Tidak untuk menyamakan antara Emha dengan Lia Eden. Tetapi awal dari Lia Aminuddin yang belakangan berubah panggilannya jadi Lia Eden sampai mengaku mendapatkan wahyu dan didampingi Jibril itu adalah karena tengah malam Lia tidak bisa tidur, resah, akibat kecewa dengan para pengurus At-Taaibin (lembaga yang didirikan untuk mendakwahi para preman dan semacamnya). Lia Eden mengaku kecewa dengan petinggi-petinggi lembaga itu, di antaranya dia sebut Anton Medan, Nur Iskandar SQ, dan Zaenuddin MZ. (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, aliran dan Paham sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta).

Dalam masalah yang kami bahas ini, yang satu langsung mengaku mendapatkan wahyu, sedang yang lain mengatakan: Dalam logika saya, Allah menjawab dengan penuh kegelian.

Yang satu telah masuk penjara dan kini ditangkap lagi oleh petugas, dan sedang diproses dalam pengadilan karena menyatakan akan menghapus agama (Islam); sedang yang satu lagi masih berkeliaran.

Mungkin ada yang lebih fasih untuk mengoreksinya. Dalam artikelnya itu Emha main kata-kata yang bagi sebagian Ummat Islam terasa kurang pas. Misalnya dia tulis, Allah ini pemegang saham. Kalimat itu tidak tepat, karena arti saham adalah modal usaha, andil (dalam persekutuan dagang). Jadi hanya bagian dari banyak orang atau pihak-pihak yang ikut punya andil.

Juga perkataan Emha: Kalau Anda dan saya tidak setuju, Tuhan “tidak patheken” juga.

Masalahnya tidak sesederhana itu, namun pemahaman yang tanpa metode pemahaman ilmu Islam yang benar, lalu dia sebarkan, dan masalahnya menyangkut inti Islam yakni Aqidah Islamiyah. Ketika dia sendiri menyatakan “Aku tak ngerti.”, kenapa bicara ngalor-ngidul dan sangat serius, dalam materi yang sangat inti, yakni kemusyrikan, dosa terbesar.

Semoga Allah Ta’ala melindungi Ummat Islam dari bahaya kemusyrikan, kemunafikan, tipu daya dan sebagainya. Dan semoga Allah fahamkan Ummat Islam ini sehingga tidak terkecoh oleh ungkapan-ungkapan yang dibuat-buat atas nama Allah, ungkapan-ungkapan serampangan yang menjerumuskan, dan qiyas-qiyas batil yang mengelabui kebenaran. Semua itu telah Allah peringatkan:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ اْلكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلىَ اْلإِسْلاَمِ وَاللهُ لاَ يَهْدِى اْلقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ

  1. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. (QS As-Shaff: 7).

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِباً أُوْلَئِكَ يُعْرَضُوْنَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُوْلُ اْلأَشْهَدُ هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ كَذَبُوْا عَلَى رَبِّهِمْ أَلاَ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِيْنَ

  1. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah?. mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi[716] akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka”. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (QS Hud: 18)

[716] maksud para saksi di sini ialah: malaikat, nabi-nabi dan anggota-anggota badannya sendiri.

Wallahu a’lam bis shawab.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s