Injil Berusia 1.500 Tahun Nyatakan Bukan Nabi Isa yang Disalib



Injil berusia 1.500 Tahun. (higherperspective)

Perdebatan panjang tentang Nabi Isa ‘alaihissalam, atau dalam pandangan Kristen disebut “Yesus Sang Juru Selamat”, tak pernah lekang ditelan bergulirnya zaman. Perdebatan itu bahkan tampaknya akan kembali menguat seiring berita ditemukannya kitab Injil berusia lebih dari 1.500 tahun.

Menurut situs higherperspective.com yang dikutip situs Inilah.com,  Ahad (24/8/2014), dalam kitab Injil versi Barnabas yang ditemukan itu terdapat pernyataan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam atau Yesus, tidak pernah disalib. Yang disalib adalah sahabat Nabi Isa yang berkhianat, yakni Yudas Iskariot, atau dalam ajaran Islam disebut sebagai “orang yang diserupakan dengan Nabi Isa ‘alaihissalam”, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 157.

Injil Barnabas dikenal sebagai Injil di luar Injil-injil kanonik yang direstui dan diresmikan Vatikan, yakni Injil-injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Injil-injil yang direstui Vatikan ini berbeda dengan Injil Barnabas.

Sejalan dengan sejarah yang dicatat Islam, Injil tua itu menyatakan bahwa Yesus langsung diangkat ke surga, sementara Yudas dengan iradah Allah disamarkan sehingga menyerupai Yesus dan disalibkan dalam prosesi sebagaimana yang diyakini selama ini.

Jika ditelusuri pada situs barnabas.net, di BAB 112 pada Injil Barnabas dinyatakan bahwa Nabi Isa (Yesus) bercerita kepada Barnabas, dia akan dibunuh. Namun, kata Nabi Isa, Allah akan membawanya naik dari bumi. Sedangkan orang yang dibunuh sebenarnya adalah seorang pengkhianat yang wajahnya diubah seperti Nabi Isa. Dan orang-orang akan percaya bahwa yang disalib itu adalah Nabi Isa.

”Tetapi Muhammad akan datang… Rasul Allah yang suci,” kata Nabi Isa. Nama Nabi Muhammad juga disebut pada Bab 136, 163, dan 220. Jika dikaitkan antara isi Injil Barnabas dengan berita dari higherperspective.com yang menyebutkan bahwa yang disalib adalah Yudas, maka berarti ini yang disalib adalah sahabat Nabi Isa ‘alaihissalam yang telah berkhianat.

Pada 28 Februari 2012 lalu telah diberitakan bahwa telah ditemukan di Turki sebuah Injil berusia 1.500 tahun yang menceritakan kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki pada saat itu, Ertugul Gunay, mengatakan sejalan dengan keyakinan Islam, Injil ini memperlakukan Yesus sebagai manusia, bukan “Tuhan”. Fakta ini, sekaligus menolak ide konsep tritunggal dan penyaliban Yesus.

“Penemuan paling besar ya Injil tersebut, yang ditaksir bernilai 28 juta dolar AS,” tulis higherperspective.com

Situs ini menulis, para ahli menegaskan bahwa Injil tersebut asli. Injil itu ditulis dengan tinta emas dalam bahasa Aramaic—bahasa yang digunakan Yesus. (dakwatuna/hdn/inilah.com)

One response »

  1. bagus panji mengatakan:

    Sekte Salafi Wahabi muncul setelah pendiri sekte itu, Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi bertemu dengan Hempher di Basrah dan di antaranya kemudian terjalin pertemanan yang dimanfaatkan Hempher untuk menyukseskan misi yang diembannya di Irak.
    Muhammad bin Abdul Wahab, menurut Hempher, adalah pemuda yang kasar, penggugup, namun angkuh dan selalu mengikuti hawa nafsunya sendiri dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw..

    Pertemuan Hempher dengan pemuda yang menguasai bahasa Arab, Persia, dan Turki tersebut terjadi pada 1713 Masehi (1125 Hijriyah), atau tak lama setelah agen mata-mata Inggris itu mendarat di Bashrah dan melakukan penyamaran yang sama dengan ketika bertugas di Istambul, yakni mengaku sebagai pemuda Turki yatim piatu bernama Muhammad. Bahkan untuk memperkuat penyamarannya, Hempher tak segan-segan mengaku sebagai murid ulama Ahmed Efendi asal Istambul.

    Penyamaran Hempher ini nyaris terbongkar pada awal-awal kedatangannya di Bashrah. Kala itu, begitu tiba di salah satu kota terbesar di Irak tersebut, Hempher tinggal di Masjid Syaikh Umar Efendi karena belum mendapatkan rumah sewaan. Imam masjid itu, Syaikh Umar ath-Tha’i, rupanya telah mencurigainya sejak ia datang, dan ia diberondong dengan berbagai pertanyaan, termasuk soal identitasnya. Ia berhasil meyakinkan kyai Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) asal Arab itu kalau ia memang berasal dari Turki, bukan orang Inggris, namun kemampuannya meyakinkan sang Kyai bahwa ia berasal dari Turki, justru membuatnya dicurigai sebagai mata-mata yang dikirim pemerintah Khalifah Islam Turki ‘Utsmani. Hempher pun hengkang dari masjid dan berhasil mendapatkan kamar di sebuah penginapan milik pengusaha bernama Mursyid Efendi.

    Namun, kesialan ternyata masih menguntit Hempher karena pengakuannya kalau ia masih lajang dan belum pernah menikah, membuat Mursyid menganggap dirinya sebagai pembawa sial bagi penginapan yang dia kelola. Mursyid bahkan memberinya solusi untuk mengatasi masalah ini, yakni meminta Hempher segera menikah atau keluar dari penginapannya secepat mungkin. Karena sedang mengemban misi dan juga telah menikah, Hempher akhirnya memilih meninggalkan penginapan Mursyid dan kemudian menyewa kamar di sebuah penginapan milik tukang kayu bernama Abdur Ridha. Sambil menginap di sini, dia juga bekerja sebagai asisten pemilik penginapan tersebut.

    Abdur Ridha, jelas Hempher, merupakan seorang pria gagah penganut ajaran Syi’ah, dan berasal dari Khurasan. Setiap sore, penginapan Abdur Ridha didatangi orang-orang Syi’ah dari Iran, dan mereka semua bersama Abdur Ridha memperbincangkan berbagai persoalan, baik politik maupun ekonomi. Selama perbincangan berlangsung, orang-orang ini tak segan-segan mengecam pemerintah Irak dan Kekhalifahan Islam Turki ‘Utsmani. Jika saat perbincangan berlangsung ada orang asing yang datang, mereka mengubah topik pembicaraan kepada persoalan-persoalan pribadi. Hempher mengaku kalau Abdur Ridha dan orang-orang Syi’ah Iran itu sangat mempercayainya, karena bahasa Turki yang ia gunakan ternyata membuat dirinya dikira berasal dari Azerbaijan.

    Saat Abdur Ridha berbincang dengan orang-orang Syi’ah dari Iran tersebut kadangkala datang seorang anak muda berpakaian perlente yang mengesankan kalau dia adalah pemuda terpelajar yang sedang melakukan penelitian ilmiah. Pemuda inilah Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi. Kedatangan pemuda ini sempat membuat Hempher terheran-heran karena dari caranya berpakaian, Muhammad bin Abdul Wahab yang berasal dari Najd jelas orang Sunni, dan antara Sunni dengan Syi’ah sama sekali tidak akur, selalu bertentangan. Keheranan makin bertambah karena pemuda ini juga selalu mengecam habis-habisan Kekhalifahan Islam Turki ‘Utsmani yang juga Sunni seperti dirinya.

    Keheranan Hempher terjawab setelah ia memahami karakter Muhammad bin Abdul Wahab yang penggugup, tapi kasar, sombong dan selalu menuruti hawa nafsunya sendiri dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah itu, karena sifat sombong, kasar dan selalu menuruti hawa nafsunya membuat Muhammad bin Abdul Wahab selalu menolak dan menentang apapun yang dianggap tidak sesuai dengan keinginan dan jalan fikirannya. Pemuda ini bahkan mengabaikan pandangan semua ulama, baik ulama di zamannya maupun imam empat mazhab fikih Sunni (Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Malik bin Anas, dan Muhammad bin Idris asy-Syafi’i), serta tidak mengakui para sahabat terkemuka Rasulullah Saw. seperti Abu bakar Siddiq dan Umar bin Khattab. Mengenai sikapnya ini, Muhammad bin Abdul Wahab berpegang pada sabda Rasulullah Saw yang menyatakan; “Telah kutinggalkan untuk kalian Al Qur’an dan Sunahku”. Karena Sabda Rasulullah Saw adalah demikian, maka menurut Muhammad bin Abdul Wahab, ia tak perlu mengikuti para sahabat maupun para imam mazhab. Padahal ketika dalam perbincangan di penginapan Abdur Ridha hal ini ikut diperdebatkan, salah seorang ulama Syiah dari Qum, Syaikh Jawad, menjelaskan, selain hadist tersebut, juga ada hadist yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Telah kutinggalkan untuk kalian Kitab Allah dan Ahlul Baitku”. Dan yang dimaksud Ahlul Bait dalam hadist ini meliputi keluarga dan sahabat Nabi Saw, serta para imam/ulama.

    Sifat dan pola fikir Muhammad bin Abdul Wahab membuat Hempher senang, dan bahkan merasa kalau anak muda ini adalah orang yang tepat yang dapat ia peralat untuk memecah-belah Islam, karena orang seperti ini sangat mudah disesatkan dan pemikiran-pemikirannya dapat didorong untuk dijadikan dasar pendirian sebuah sekte yang menyimpang dari ajaran Islam. Apalagi karena Muhammad bin Abdul wahab pernah sesumbar dengan mengaku dirinya jauh lebih baik dari Abu Hanifah, dan menilai kalau separuh isi kitab Shahihal-Bukhari, buku yang berisi hadist riwayat Bukhari, dipenuhi dengan kesesatan.

    ***

    Hempher mendekati Muhammad bin Abdul Wahab dan menjalin pertemanan dengannya. Untuk membuatnya besar kepala dan kian sombong, Hempher sengaja selalu memuji-muji dan membangga-banggakan pemuda itu di dalam setiap kesempatan. Misalnya saja, Hempher pernah mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab lebih hebat dari Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, sehingga seandainya saja Rasulullah Saw masih hidup, beliau pasti akan menunjuk Muhammad bin Abdul Wahab sebagai khalifah, bukan kedua sahabatnya itu.

    “Aku harap Islam akan berjaya dan gemilang di tanganmu, karena engkau lah satu-satunya ulama yang akan berhasil menyebarkan Islam ke segenap penjuru dunia,” katanya.

    Hasutan dan pujian yang diumbar Hempher habis-habisan membuat Muhammad bin Abdul Wahab mabuk kepayang, sehingga ketika Hempher mengajaknya menyusun sebuah tafsir baru Al Qur’an yang hanya berdasarkan pendangan-pandangan mereka berdua saja, Muhammad bin Abdul Wahab setuju. Meski pun tafsir itu bertolak belakang dengan tafsir para sahabat Rasulullah saw, para imam mazhab, dan para ulama tafsir Al Qur’an. Tujuan Hampher mengajak pembuatan tafsir baru ini jelas, yakni menyesatkan Muhammad bin Abdul Wahab. Apalagi karena jelas sekali kalau pemuda ini memang ingin tampil sebagai seorang revolusioner sejati yang pandangan-pandangannya dapat diterima masyarakat luas, meski pandangan-pandangan itu berbeda dengan para ulama, sahabat, dan Rasulullah sendiri, sehingga apapun gagasan Hempher, dengan senang hati diterimanya.

    Maka begitu lah, di tangan Hempher, Muhammad bin Abdul Wahab benar-benar terseret pada kesesatan dan menyimpang jauh dari ajaran Islam yang sejati. Apalagi ketika Hempher mengusulkan untuk menghalalkan nikah mut’ah (kawin kontrak), dia setuju, dan kepadanya diberikan seorang perempuan bernama Shafiyyah untuk dinikahi dengan cara yang dilarang dalam Islam tersebut. Shafiyyah, jelas Hempher dalam buku Catatan Harian Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan Islam, adalah salah seorang dari begitu banyak wanita Kristen yang dikirim Kementerian Persemakmuran untuk merayu para lelaki Muslim di Irak agar terjerumus dalam perzinahan dan prostitusi. Nama Shafiyyah pun bukan nama sebenarnya, melainkan hanya nama panggilan semata.

    Muhammad bin Abdul Wahab menikahi Shafiyyah secara mut’ah hanya untuk satu minggu dengan mahar sejumlah emas. Ayat yang digunakan Hempher untuk menjerumuskan Muhammad bin Abdul Wahab agar terjerumus dalam perzinahan adalah Surah An-Nisa ayat 42 yang berbunyi; “ … Karena kalian beroleh kenikmatan dari mereka, berilah mereka maharnya sebagai kewajiban yang ditentukan …” Makna ayat ini sebenarnya mengatur tata cara pernikahan, bukan menghalalkan nikah mut’ah.

    Sukses mejerumuskan Muhammad bin Abdul Wahab dalam perzinahan, Hempher kemudian menjerumuskannya dalam khamar (minuman keras). Dalil yang digunakan Hempher adalah riwayat tentang Yazid dan Khalifah Bani Umayyah dan Bani ‘Abbasiyyah yang menenggak khamar, padahal mereka adalah orang-orang yang pemahaman Al Qur’an-nya lebih baik dibanding Muhammad bin Abdul Wahab, sehingga berdasarkan riwayat ini, maka menurut Hempher, meminum khamar adalah makruh, bukan haram. Bahkan menurut Hempher, Ummar bin Khattab biasa meminum khamar, sehingga turun lah Surah Al Ma’idah ayat 91 yang berbunyi; “Setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian karena khamar dan judi, serta menghalangi kalian dari mengingat Allah dan mengerjakan sholat. Maka, tidakkah kalian menghentikannya sekarang juga?”

    Untuk meyakinkan Muhammad bin Abdul Wahab, Hempher mengatakan kalau berdasarkan ayat ini, meminum khamar sesungguhnya tidak haram asalkan tidak mabuk, tidak melupakan Allah, dan tidak lupa sholat. Lebih parah lagi, Hempher juga menggunakan Surah Thaha ayat 14 untuk membuat Muhammad bin Abdul Wahab meninggalkan sholat. Karena bunyi ayat itu adalah “ … Dan kerjakanlah sholat untuk mengingat-Ku”, maka menurut Hempher, umat Islam sebenarnya tidak sholat pun tidak apa-apa asalkan tetap mengingat Allah.

    Di tangan Hempher, Muhammad bin Abdul Wahab benar-benar dibuat tersesat dari ajaran Islam yang sesungguhnya, dan keyakinannya terhadap Islam meluntur. Muhammad bin Abdul Wahab sebenarnya sempat mencurigai niat jahat di balik semua dalil yang dicekoki Hempher kepadanya, sehingga suatu kali Muhammad bin Abdul Wahab pernah berkata begini kepada Hempher; “Apakah engkau sedang berusaha membuatku keluar dari agamaku?” Kecurigaan Muhammad bin Abdul Wahab itu muncul ketika Hempher ingin menyesatkannya juga dalam hal berpuasa, karena kala itu Hempher mengutip surah Al Baqarah ayat 184 yang berbunyi; “ .. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya”. Menurut Hempher, karena dalam ayat ini tidak terdapat kata “wajib”, maka sebenarnya berpuasa bagi umat Islam sunah hukumnya, bukan wajib. Atas kecurigaan Muhammad bin Abdul Wahab tersebut, Hempher berkilah bahwa agama adalah kesucian hati, keselamatan jiwa, dan bukan pelanggaran atas hak-hak orang lain, karena bukankah Rasulullah Saw. bersabda, “Agama adalah Cinta?” Bahkan dalam surah Al-Hajr, Allah SWT. berfirman; “Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang yaqin kepadamu’.

    Maka menurut Hempher, berdasarkan sabda Rasulullah dan firman Allah SWT., ketika seseorang telah mencapai yaqin tentang Allah dan Hari Kiamat, membaguskan hatinya, dan menyucikan seluruh amal perbuatannya, maka ia akan menjadi orang yang paling baik dan paling saleh di antara umat manusia.

    “Muhammad bin Abdul Wahab menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapanku,” jelas Hemper dalam buku Catatan Harian Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan Islam.

    Puncak penyesatan Hempher terhadap Muhammad bin Abdul Wahab, yang memotivasi Muhammad bin Abdul Wahab akhirnya membentuk sekte Wahabi adalah setelah Hempher mengaku-ngaku bermimpi bertemu Rasulullah Saw. Kata Hempher kepada Muhammad bin Abdul Wahab; “Semalam aku bermimpi berjumpa Nabi Saw. Aku menyapa beliau dengan berbagai sifat yang kuketahui dari para ulama. Beliau duduk di atas sebuah mimbar. Di sekeliling beliau berkumpul para ulama yang tidak kukenal. Engkau masuk. Wajahmu bersinar cemerlang seperti sebuah lingkaran cahaya. Engkau berjalan menghampiri Nabi Saw. Ketika engkau sudah cukup dekat, Nabi Saw berdiri dan mencium dahimu. Beliau bersabda; “Engkau lah pewaris ilmuku, wakilku dalam berbagai urusan duniawi dan ukhrawi”. Engkau pun berkata; “Ya, Rasulullah, aku takut menjelaskan ilmuku kepada orang banyak”. “Engkau lah yang terbesar. Jangan takut,” jawab Nabi Saw.”

    Muhammad bin Abdul Wahab senang sekali mendengar bualan Hempher dan berkali-kali menanyakan apakah mimpi Hempher itu benar, dan Hempher tentu saja membenarkan.

    “Sejak saat itu, kukira, ia berniat memaklumkan berbagai ide atau gagasan yang telah kutanamkan dalam dirinya untuk kemudian mendirikan sebuah sekte baru bernama Wahabi,” jelas Hempher sebagaimana tertulis dalam buku Catatan Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan Islam.

    Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab sangat mudah disesatkan karena pengetahuan agama pemuda yang lahir pada 1703 Masehi (1115 Hijriyah) dan wafat pada 1792 Masehi (1206 Hijriyah) ini memang kurang memadai karena dia hanya belajar ilmu dari segelintir guru, termasuk dari ayahnya yang seorang qadhi (hakim). Muhammad bin Abdul Wahab pernah mengaji kepada beberapa guru agama di Mekah dan madinah, seperti kepada Syaikh Muhammad ibnu Sulaiman al-Kurdi dan Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi. Ketika ia ke Bashrah, ia sebenarnya ingin berguru kepada seorang syaikh di sana, namun ditolak menjadi murid.

    Islam Garis Keras, Imperialisme dan Wahabi (4)
    Hempher menerima pesan dari Kementerian Persemakmuran di London agar ia segera meninggalkan Bashrah dan berangkat menuju Karbala dan Najf, dua kota yang kala itu, pada abad 18 Masehi, menjadi pusat ilmu pengetahuan dan spiritual yang paling populer di kalangan Syi’ah. Hempher sebenarnya enggan berangkat karena saat perintah datang, Muhammad bin Abdul Wahab yang dianggapnya sebagai pemuda bodoh dan tak bermoral, masih perlu didorong untuk segera merealisasinya berdirinya sekte Wahabi, namun karena tugas tak bisa ditentang, ia berpamitan kepada Muhammad bin Abdul Wahab, dan berangkat ke Karbalah dan Najf.

    Namun seperti diakui Hempher dalam buku Catatan Harian Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan Islam, setelah ia pergi, Kementerian Persemakmuran tidak melepaskan Muhammad bin Abdul Wahab begitu saja, melainkan terus membina untuk menyesatkannya. Orang yang ditugaskan untuk terus ‘menempel’ kepada Muhammad bin Abdul Wahab di antaranya adalah Shafiyyah, wanita Kristen yang dinikahi Muhammad bin Abdul Wahab dengan cara nikah mut’ah; Abdul Karim, seorang agen mata-mata yang ditugaskan Kementerian Persemakmuran di distrik Jelfah dan Isfahan; dan Aisyah, seorang wanita Yahudi yang juga bekerja untuk Kementerian Persemakmuran yang tinggal di Syiraz. Bukti atas hal ini diutarakan Menteri Persemakmuran kepada Hempher, ketika Hempher menyampaikan kekhawatirannya kalau setelah ia tinggalkan, Muhammad bin Abdul Wahab akan mencampakkan apa yang telah ia tanamkan ke dalam dirinya, dan bahkan mungkin saja akan mempelajari ajaran Islam yang benar. Kata Menteri; “Jangan khawatir. Dia belum mencampakkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang kautanamkan kepadanya. Mata-mata dari Kementerian kita berjumpa dengannya di Isfahan dan melaporkan bahwa dia belum berubah fikiran.”

    Bukti lain adalah keterangan Abdul Karim kepada Hempher ketika mereka bertemu. Kata Abdul Karim, Muhammad bin Abdul Wahab bahkan kembali menikahi Shafiyyah secara mut’ah untuk selama dua bulan, dan kemudian menikahi Aisyah dengan cara yang sama, yakni nikah mut’ah.

    Setelah menyelesaikan tugas di Karbalah dan Najf, Hempher mendapat cuti selama satu bulan, dan masa cuti ini dimanfaatkan untuk berkumpul bersama anak dan istrinya di London. Selesai cuti, Kementerian Persemakmuran menugaskannya untuk kembali ke Irak dan menemui Muhammad bin Abdul Wahab karena orang tolol ini sangat pas dan cocok untuk mewujudkan tujuan-tujuan kementerian, yakni memecah-belah Islam, melemahkannya, dan menguasai negerinya. Sekretaris Kementerian Persemakmuran bahkan memberitahu kalau mata-mata mereka di Isfahan telah bicara terus terang kepada Muhammad bin Abdul Wahab tentang apa yang diinginkan pemerintah Inggris darinya, dan Muhammad bin Abdul Wahab telah menyatakan bersedia memenuhi keinginan itu asal syarat-syarat yang diajukannya, dipenuhi. Syarat-syarat dimaksud adalah diberi dukungan uang dan senjata untuk melindungi diri dari negara dan ulama-ulama yang pasti akan menyerangnya sebagai akibat dari sekte yang ia dirikan, dan Kementerian telah menyetujui syarat-syarat tersebut.

    Hempher senang sekali, sehingga karena takut misi ini akan gagal ia laksanakan, ia meminta arahan tentang apa yang pertama-tama harus ia lakukan, dan Sekretaris Kementerian menyodorkannya skema sebanyak enam paragraph yang harus dipatuhi. Inilah skema enam paragraph itu:

    1. Muhammad bin Abdul Wahab harus menyatakan semua orang Muslim yang tidak sejalan dengannya adalah orang-orang kafir, dan memaklumkan bahwa halal hukumnya membunuh mereka, merampas harta mereka, menodai dan mencemarkan nama kehormatan mereka, memperbudak pria-pria mereka, menjadikan wanita-wanita mereka sebagai gundik, dan menjual mereka di pasar-pasar budak.

    2. Muhammad bin Abdul Wahab harus menyatakan bahwa Ka’bah adalah berhala dan karenanya harus dihancurkan, menghapus haji, memprovokasi berbagai suku agar menggerebek jemaah haji, merampas harta milik mereka, dan membunuhnya.

    3. Muhammad bin Abdul Wahab harus berusaha membuat kaum Muslimin tidak mematuhi dan tidak mentaati khalifah. Ia juga harus memprovokasi mereka agar memberontak terhadap khalifah, harus mempersiapkan pasukan untuk pemberontakan tersebut, dan mengeksploitasi setiap peluang dan kesempatan untuk menyebarkan keyakinan bahwa sangatlah perlu memerangi kaum bangsawan Hijaz dan menghinakan mereka.

    4. Muhammad bin Abdul Wahab harus menyatakan bahwa berbagai mausoleum atau tempat pemakaman, kubah dan berbagai tempat suci di negara-negara Muslim adalah berhala, penuh kemusyrikan, dan karenanya harus dihancurkan. Ia harus berusaha sebaik mungkin mencari kesempatan untuk menghina dan melecehkan Nabi Muhammad Saw, khalifah-khalifah, dan juga para ulama terkemuka dari berbagai mazhab.

    5. Muhammad bin Abdul Wahab harus sekuat tenaga memicu timbulnya pemberontakan, penindasan, dan anarki di negara-negara Muslim.

    6. Muhammad bin Abdul Wahab harus berusaha menerbitkan sebuah Mushaf Al Qur’an yang mengalami perubahan, baik ditambah maupun dikurangi, sebagaimana halnya hadist-hadist Nabi Saw.

    Sekretaris Kementerian meminta Hempher agar tidak panik dalam melaksanakan program raksasa ini, karena tugasnya dan tugas Kementerian Persemakmuran hanyalah menebar dan menyemai benih-benih penghancuran Islam, dan apa yang mereka lakukan saat ini akan dituntaskan oleh generasi-generasi setelah mereka.

    “Pemerintah Inggris sudah terbiasa bersabar dan melangkah maju setahap demi setahap. Bukankah Nabi Muhammad, sang pemimpin besar revolusi Islam, juga manusia biasa? Dan Muhammad bin Abdul Wahab yang sudah kita kuasai berjanji menuntaskan ‘revolusi’ kita seperti halnya Nabi panutannya,” imbuh sang Sekretaris Kementerian.

    Beberapa hari kemudian Hempher kembali ke Irak untuk melaksanakan tugasnya.

    ***

    Hempher mendatangi rumah Abdur Ridha, dan tukang kayu itu menyambutnya dengan hangat seperti layaknya bertemu teman lama. Abdur Ridha bahkan memberi tahu kalau Muhammad bin Abdul Wahab pernah menitipkan surat untuk Hempher, dan surat itu diberikan kepadanya.

    Dalam surat itu, Muhammad bin Abdul Wahab memberi tahu kalau ia meninggalkan kampung halamannya, Najd, dan bermukim di Uyainah. Hempher segera menyusul dan menemui orang binaannya itu di sana. Tubuh Muhammad bin Abdul Wahab kurus, dan pemuda itu juga mengaku telah menikahi salah seorang anak kerabatnya yang bermukim di kota itu.

    Soal kepindahan Muhammad bin Abdul Wahab ke Uyainah, berdasarkan paparan dalam buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi diketahui kalau tak lama setelah berpisah dengan Hempher, pada 1143 (1730 M) Muhammad bin Abdul Wahab pulang ke Huraimila, desa kelahirannya di Najd, dan langsung berdakwah. Namun dakwahnya yang bertentangan dengan ajaran Sunni, seperti menganggap ajaran Sunni lebih banyak bersifat bid’ah dan menganggap orang-orang yang tidak sepemikiran dengannya adalah kafir, ditentang keras tak saja oleh masyarakat Huraimila dan para ulama Najd, tapi juga oleh keluarganya. Bahkan karena dakwahnya yang dianggap sesat, Muhammad bin Abdul Wahab bertengkar hebat dengan ayahnya, dan sempat akan dibunuh penduduk Huraimila. Saat bertengkar, ayah Muhammad bin Abdul Wahab berkata begini kepada penduduk Huraimila; “Kalian akan melihat kejahatan yang akan dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Allah menakdirkannya yang akan terjadi pasti terjadi!”

    Karena tak dapat berdakwah di Huraimila, Muhammad bin Abdul Wahab melarikan diri ke kota Uyainah dan mendekati emir (walikota) di kota tersebut untuk mendapatkan perlindungan. Ia juga menikahi seorang gadis dari salah seorang kerabatnya. Kepada Hempher, Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan kalau ia akan berhenti berdakwah, namun Hempher memberinya semangat. .

    “Kukatakan kepadanya bahwa perjuangan Nabi Muhammad Saw untuk mensyiarkan Islam jauh lebih berat dan lebih menderita dari apa yang engkau alami. Engkau tahu, inilah jalan kehormatan dan kemuliaan. Seperti seorang revolusioner lainnya, engkau harus tangguh dan tahan banting!” kata Hempher seperti dikutip dari buku Persekongkolan Menghancurkan Islam.

    Untuk tidak menimbulkan kecurigaan penduduk Uyainah atas kehadirannya di sisi Muhammad bin Abdul Wahab, Hempher dan Muhammad bin Abdul Wahab sepakat untuk membohongi penduduk dengan mengatakan kalau Hempher adalah budak Muhammad bin Abdul Wahab yang baru saja kembali setelah melakukan perjalanan ke suatu tempat. Sedang untuk melancarkan dakwah orang yang ia bina untuk menghancurkan Islam tersebut, serta untuk mengamankannya dari serangan-serangan yang dapat terjadi seperti yang dialami Muhammad bin Abdul Wahab di Desa Huraimila, Hempher menyewa sejumlah agen mata-mata yang juga dimanfaatkan untuk berpura-pura menjadi para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab. Hempher menargetkan, dalam dua tahun sekte yang dipimpin Muhammad bin Abdul Wahab, atau sekte Wahabi, sudah dapat diumumkan kepada masyarakat luas.

    Kekhawatiran Hempher terbukti. Dakwah Muhammad bin Abdul Wahab ditentang juga oleh masyarakat Uyainah, sehingga Muhammad bin Abdul Wahab, juga Hempher, terpaksa meninggalkan kota itu dan mengungsi ke Dir’iyah yang terletak di sebelah timur kota Najd. Dir’iyah adalah wilayah dimana Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku-ngaku sebagai nabi ketika Rasulullah Saw masih hidup, tinggal. Dari wilayah ini juga gerombolan kaum ‘murtaddin’ menyerang kota Madinah setelah Rasulullah Saw wafat.

    Sadar bahwa perjuangan Muhammad bin Abdul Wahab mendirikan sekte Wahabi memang tak mudah, Hempher menghubungi Kementerian Persemakmuran dan meminta bantuan. Kementerian turun tangan dengan melobi Muhammad bin Sa’ud, emir Dir’iyah agar mau melindungi dan bergabung dengan Muhammad bin Abdul Wahab. Muhammad bin Sa’ud setuju. Maka terjalinlah kerja sama yang saling menguntungkan antara Amir Dir’iyah itu dengan Muhammad bin Abdul Wahab, sehingga dalam sekejap mata Muhammad bin Abdul Wahab mendapat pengikut yang amat banyak, dan pada 1738 Masehi, sekte Wahabi dimaklumkan (dideklarasikan).

    Berkat Inggris, kekuasaan Muhammad bin Sa’ud sebagai seorang emir, meluas. Bahkan kemudian, pada 1744 Masehi, menjadi sebuah negara yang saat ini kita kenal dengan nama Saudi Arabia (nama ini diambil dari nama keluarga Muhammad bin Sa’ud, yakni Ali Sa’ud yang berarti keluarga Saudi). Dir’iyah dijadikan sebagai ibukotanya, dan Muhammad Sa’ud menjadi emir (penguasa)-nya. Sedang Muhammad bin Abdul Wahab diangkat sebagai imamnya. Berdasarkan kitab Tarikh Ali Sa’ud karya Ustadz Nashir as-Sa’id diketahui kalau Muhammad bin Sa’ud dapat dilobi Kementerian Persemakmuran, karena keluarga Muhammad bin Sa’ud berdarah Yahudi Arab, dan kita tahu Inggris termasuk salah satu negara di dunia yang dikuasai Yahudi melalui Zionis Internasional dengan Freemasonry sebagai salah satu anasirnya.

    Ada dua keuntungan yang didapat Inggris dari peristiwa ini. Pertama, berhasil mendirikan sekte baru untuk memecah-belah Islam, dan dapat menyedot limpahan kekayaan negara yang terkandung dalam bumi Arab Saudi, khususnya cadangan minyak buminya. Hingga kini Saudi Arabia masih menjadi salah satu negara di Timur Tengah yang memiliki ‘hubungan sangat baik’ dengan Inggris , dan menganut paham Wahabi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s