Hutang Orang Meninggal Dunia (Mati)


 

– Hukum Melunasi Hutang yang Mati
– Warisan Kakek untuk cucuk yang mati orang tuanya

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya mempunyai kakak laki-laki (saudara kandung) namanya Arif, kemudian menikah seorang wanita namanya Ayu dan mempunyai seorang anak perempuan. Mereka menempati sebidang tanah milik orang tua kami, dn membangun rumah. Kemudian Kakak saya meninggal Dunia dgn meninggalkan hutang banyak sekali, sedangkan harta kakak hanya rumah itu (tanahnya belum diwaris karena orang tua masih hidup).

Pertanyaanya

1. Siapakah yang harus melunasi hutang-hutang kakak tersebut? (Istrinya tidak bekerja dan anaknya masih kecil). Kemudian Selang setahun kematian kakak si Ayu (Istri kakak) dilamar orang lain dan menikah, dan tentang hutang almarhum, si Ayu tidak pernah berterus-terang sudah lunas apa belum. Kemudian mereka (Ayu, suaminya yang baru dan anak Almarhum) menempati rumah yang sudah dibangun oleh Almarhum.

2. Pertanyaan kedua Seandainya tanah orang tua diwaris apa ada hak si Ayu terhadap harta waris orang tua kami (jatahnya Almarhum)?

3. Bagaimana pembagian tanah atau rumah itu kepada si Ayu (mengingat Almarhum mempunyai seorang putri dan Ayu sudah bersuami lagi)?

Mohon penjelasannya, menurut Islam dan juga menurut hukum yang berlaku di Indonesia. terima kasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Al faqir

JAWABAN

Jawaban pertanyaan ke-1:
Apabila orang yang meninggal memiliki harta peninggalan, maka hutangnya wajib dibayar dari harta peninggalan tersebut sebelum harta dibagikan ke ahli waris berdasar firman Allah dalam QS An-Nisa‘ 4:11 (من بعد وصية يوصي بها أو دين).

Apabila tidak memiliki peninggalan, maka ahli warisnya tidak wajib melunasi hutangnya. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:

إن لم يخلف تركة، لم يلزم الوارث بشيء، لأنه لا يلزمه أداء دينه إذا كان حيا مفلسا، كذلك إذا كان ميتا

Artinya: Apabila mayit atau orang yang meninggal tidak meninggalkan warisan, maka ahli waris tidak berkewajiban apapun karena membayar hutang mayit itu tidak wajib bagi ahli waris saat si mayit masih hidup. Begitu juga tidak wajib saat sudah mati.

Pendapat di atas selaras dengan pendapat Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmuk (VI/211):

(فرع) لو مات رجل وعليه دين ولا تركة له هل يقضي من سهم الغارمين فيه وجهان حكاهما صاحب البيان (أحدهما) لا يجوز وهو قول الصيمري ومذهب النخعي وأبي حنيفة واحمد (والثاني) يجوز لعموم الآية ولأنه يصح التبرع بقضاء دينه كالحي

Dalam kasus saudara Anda, dia hanya punya peninggalan rumah sedang tanahnya milik ayah almarhum (kecuali kalau sudah diberikan pada almarhum Arif). Kalau memang rumah itu hasil pribadi, maka rumah dapat dijual dan hartanya untuk membayar hutang. Sedang apabila rumah itu berasal dari suami-istri, maka hanya hak suami yang dapat dipakai untuk membayar hutang.

Jawaban pertanyaan ke-2:
Warisan adalah pemberian harta dari peninggalan (tirkah) orang yang meninggal kepada orang yang masih hidup. Sedangkan ahli waris yang sudah meninggal tidak mendapat warisan. Karena itu, almarhum suami Ayu karena sudah meninggal duluan tidak mendapat warisan. Dan Ayu sebagai istri otomatis tidak mendapat apa-apa apabila ada pembagian ahli waris saat mertuanya meninggal kelak.

Jawaban pertanyaan ke-3:
Kalau ayah Anda meninggal kelak, maka tidak ada satupun dari keluarga Arif/Ayu yang berhak atas warisan. Baik Ayu atau putrinya alias cucu dari ayah Anda. Sebenarnya cucu berhak mendapat bagian tapi dengan syarat tidak ada paman alias anak almarhum. Kalau ada, maka hak warisan dari cucu terhalang (hijab/hirman) oleh pamannya cucu. Karena paman didahulukan (dalam hal warisan dari kakek).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s