Kesalahan Kesalahan Seputar Keberangkatan Haji dan Ketika Ihram


 

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shalallahu’’alaihia wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Shubhanahu wa Ta’ala yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du

Haji merupakan ibadah yang sangat mulia, yang akan mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, dalam melakukan haji, harus dikerjakan dengan mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman:

Yang artinya:”Sungguh telah ada pada Rasulullah suri tauladan yang terbaik bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir dan bagi orang yang banyak berdzikir kepada Allah“. [Al Ahzab : 21].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada waktu haji wada’:

Yang artinya:”Ambillah manasik haji kalian, sesunguhnya aku tidak mengetahui barangkali aku tidak akan mengerjakan haji lagi setelah ini“. [HR Ahmad].

Banyak dari kalangan kaum muslimin banyak yang pergi haji tetapi tidak mengerti hukum-hukum haji, syarat-syarat haji dan sebagainya. Maka dari itu ibadah haji adalah ibadah yang paling rumit tata caranya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Ilmu manasik haji adalah yang paling rumit di dalam ibadah”.

Di artikel ini kami akan menjelaskan kesalahan kesalahan seputar ibadah haji yang sering dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, agar kita bias menghindari dan bisa memperingatkan saudara-saudara kita agar tidak terjatuh dalam kesalahan ini.

Kesalahan Sebelum Berangkat Haji

  1. Mengadakan acara pesta (selama-tan) dengan diiringi bacaan doa atau pun shalawat tertentu. Bahkan terkadang   dengan iringan musik tertentu. Perbuatan semacam ini tidak ada contohnya dalam kehidupan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan para shahabatnya Radiyallahu ‘anhum.
  2. Mengiringi keberangkatan jamaah haji dengan adzan atau pun musik.
  3. Mengharuskan diri berziarah ke kubur sanak-famili dan orang-orang shalih.
  4.  Keyakinan bahwasanya calon jamaah haji itu selalu diiringi malaikat sepekan sebelum keberangkatannya, sehingga doanya mustajab.
  5.  Kepergian wanita ke Baitullah tanpa disertai mahramnya. Atau melakukan apa yang diistilahkan dengan ‘persauda-raan nisbi/semu’, yaitu menjadikan seorang jamaah haji pria sebagai mahram bagi si wanita dalam perjalanan hajinya (padahal pria tersebut bukan mahram yang sesungguhnya), yang kemudian dapat bermuamalah sebagaimana layaknya dengan mahramnya sendiri. Demikian pula ‘nikah nisbi/semu’, yaitu dinikahkannya seorang calon jamaah haji wanita (baik sudah bersuami atau belum) dengan calon jamaah haji pria, yang kemudian keduanya dapat bermuamalah sebagaimana layaknya suami-isteri. Tentu, yang demikian ini adalah kemungkaran yang tidak diridhai Allah.
  6. Melakukan perjalanan haji semata-mata bertujuan ingin ziarah ke makam Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  7. Melakukan shalat dua rakaat ketika akan berangkat haji.
  8. Bersalaman bahkan berpelukan dengan seseorang yang bukan mahramnya menjelang keberangkatan ke tanah suci.

Kesalahan Ketika Ihram

  1. Sebagian jama’ah haji, ketika melewati miqat atau sejajar dengannya di atas pesawat, mereka menunda ihram sehingga turun di bandara Jeddah.

Dalam Al Bukhari dan Muslim, dan selainnya dari Ibnu Abbas, dia berkata:

Yang artinya: “Nabi telah menentukan miqat untuk penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, dan untuk penduduk Syam di Al Juhfah, dan untuk penduduk Najd di Qarnul Manazil, dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tempat-tempat itu untuk mereka dan untuk orang yang melewatinya, meskipun bukan dari mereka (penduduk-penduduk kota yang telah disebutkan), bagi orang yang ingin menunaikan haji dan umrah”.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan miqat untuk penduduk Irak di Dzatu ‘Irq”. [HR Abu Dawud dan An Nasa-i].

Tempat-tempat tersebut adalah miqat-miqat yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai batasan syar’i. Maka tidaklah halal bagi seseorang yang ingin menunaikan ibadah haji dan umrah untuk merubahnya atau untuk melewatinya tanpa ihram.

Untuk lebih jelas mengenai miqot haji silahkan klik link ini http://www.alhiraindonesia.com/pages/artikel-17/pengenalan-miqot-haji-dan-umroh-51.html

  1. Bertalbiyah bersama-sama dengan dipimpin seseorang di antara mereka.

Ibnu Al Haaj berkata : “Yakni, hendaknya mereka tidak mengerjakannya dengan satu suara, karena hal ini termasuk bid’ah, bahkan setiap orang bertalbiyah sendiri-sendiri tanpa bertalbiyah dengan suara orang lain, dan hendaknya terdapat ketenangan dan keheningan yang mengiringi talbiyah ini…” [Lihat Min Mukhalafat al Hajji wa al Umrah wa az Ziyarah (mukhtashar), hlm. 11.]

  1. Keyakinan sebagian jama’ah haji atau umrah, bahwa yang dimaksud ihram adalah sekedar mengenakan pakaian ihramnya setelah mengganti dari pakaian biasa; padahal, ihram adalah niat untuk masuk ke dalam ibadah umrah atau haji.

Yang benar, bahwa seseorang ketika mengenakan pakaian ihram, hal ini adalah persiapan untuk ihram. Karena ihram yang sebenarnya adalah niat untuk masuk ke dalam manasik. Hal inilah yang belum diketahui oleh kebanyakan orang, mereka mengira, hanya dengan mengenakan pakaian ihram, telah mulai menjauhi larangan ihram, padahal larangan-larangan ihram dijauhi ketika seseorang mulai niat masuk ke dalam manasik.

  1. Ketika ihram, sebagian jama’ah membuka pundak-pundak mereka seperti dalam keadaan idh-thiba’ (Membuka pundak sebelah kanan dan menutup sebelah kiri dengan kain ihram).
    Idh-thiba’ tidak disyari’atkan kecuali ketika thawaf qudum atau thawaf umrah. Selain itu, tidak disyari’atkan dan pundak tetap dalam keadaan tertutup dengan pakaian ihramnya.

Berkata Ibnu Abidin dalam Hasyiyah-nya: “Yang sunnah adalah melakukan idh-thiba’ sebelum thawaf hingga selesai, tidak ada yang lain daripada itu”. [Hajjatu an Nabiyyi, hlm. 111]

Berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah : “Apabila telah selesai dari thawaf, maka dia mengembalikan rida’nya (pakaian atas dari ihramnya) seperti keadaan semula, karena idh-thiba’ dikerjakan ketika thawaf saja”. [Al Manhaj fi Shifati al Umrati wa al Hajj, hlm. 22.]

  1. Meninggalkan bacaan talbiyah dan menggantinya dengan tahlil dan takbir.
  2. Ketika seorang wanita dalam keadaan haidh, dia tidak melakukan ihram karena adanya keyakinan bahwa ihram harus dalam keadaan suci, kemudian dia melewati miqat tersebut tanpa ihram.

    Hal ini merupakan kesalahan yang nyata, karena haidh tidak menghalanginya untuk ihram. Seorang wanita yang haidh, ia tetap melakukan ihram dan mengerjakan semua yang harus dikerjakan oleh jama’ah haji, kecuali thawaf, dia menunda thawaf sehingga suci dari haidhnya.

    Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Nabi telah masuk ke tempatku, (dan) aku sedang menangis”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab: “Demi Allah, aku berkeinginan seandainya aku tidak haji pada tahun ini”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Barangkali engkau sedang haidh?” Aku menjawab: “Benar”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Itu adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan untuk wanita keturunan Adam. Kerjakanlah semua yang dikerjakan oleh orang yang haji, kecuali engkau jangan thawaf di Ka’bah, sehingga engkau suci”. [HR Al Bukhari].

  3. Keyakinan sebagian jama’ah haji bahwa pakaian ihram bagi kaum wanita harus memiliki warna tertentu, seperti warna hijau atau warna lainnya.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Adapun sebagian orang awam yang mengkhususkan pakaian ihram bagi wanita dengan warna hijau atau hitam, dan tidak boleh dengan warna yang lain, maka hal ini tidak ada asalnya”. [At Tahqiq wa al Idhah, hlm. 17.]

  4. Keyakinan bahwa pakaian ihram yang dipakai oleh jama’ah haji tidak boleh diganti meskipun kotor.
    Hal ini merupakan suatu kesalahan dari jama’ah haji. Sebenarnya boleh untuk mengganti pakaian ihram mereka dengan yang semisalnya, dan boleh juga untuk mengganti sandal. Tidak menjauhi kecuali larangan-larangan ketika ihram, sedangkan hal ini bukanlah termasuk larangan.

    Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz: “Tidak mengapa untuk mencuci pakaian ihram dan tidak mengapa untuk menggantinya, atau menggunakan pakaian yang baru, atau yang sudah dicuci”. [Fatawa Muhimmah, hlm. 25.]i.         Keyakinan bahwa shalat dua raka’at setelah ihram hukumnya wajib.

Tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya shalat dua raka’at setelah ihram. Bahwasanya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ihram setelah melakukan shalat fardhu, maka dianjurkan ihram setelah shalat fardhu.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Disunnahkan untuk ihram setelah selesai shalat, baik fardhu atau sunnah, jika dikerjakan pada waktu sunnah. (Demikian) menurut satu di antara dua pendapat. Dan menurut pendapat yang lain, jika dia shalat fardhu, maka dia ihram sesudahnya, dan jika bukan waktu shalat fardhu, maka bagi ihram tidak ada shalat yang mengkhususkannya. Dan ini adalah pendapat yang paling kuat”. [Majmu’ Fatawa, 26/109.]

Penyusun: www.alhiraindonesia.com

Sumber Refrensi:

  1. 1.  Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M
  2. 2.  Majalah Asy-Syariah Edisi 027
    1. almanhaj.or.id
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s