Polemik kedua tentang kesyirikan dalam manakiban


 

Khidmat Manaqib
Manakiban adalah Majma’al
Oleh : KH. M. Zein ZA Bazul Asyhab
Pada Setiap bulan kita berkumpul di Pondok Pesantren Suryalaya dalam rangka melaksanakan kegiatan sakral, yaitu Manakiban. Manakiban hurufnya ada lima; mim, nun, alif, qof dan ba. Masuk pada wajan mafaa’ilu. Jama taksir, mufrodnya manqob, bisa isim zaman bisa juga isim makan. Akar katanya naqbun artinya jalan di bukit. Jadi kalimat Manakib diterapkan pada riwayat hidup termasuk majas, menggunakan kalimat bukan pada tempatnya tetapi ada Ta’aluq atau kesamaan.
Ada riwayat hidup yang baik, ada juga riwayat hidup yang jelek, sah-sah saja disebut Manakib. Tetapi didorong oleh keperluan, misalnya anda ingin memperbaiki diri dari orang yang tidak baik menjadi orang yang baik, maka anda perlu mendengarkan riwayat orang-orang yang baik (orang-orang sholeh). Dikalangan Rifa’iyah yang dipakai adalah Manakibnya Syaikh Ahmad Kabir Arifa’i. Dikalangan Sajiliyah Manakibnya Syaikh Abi Hasan as- Sajili, dikalangan Tijaniyah Manakibnya Syaikh Abi Abas at-Tijani, dan dikalangan Qodiriyah adalah Manakibnya Tuan Syaikh Abdul Qodir al-Jaelani. Tetapi semua wali mengakui kelebihan Syaikh Abdul Qodir al-Jaelani.
Bukan dilebih-lebihkan oleh pengikutnya, jadi jangan menyalahkan kalau di tharikat yang lain ada yang memakai Manakibnya Tuan Syaikh Abdul Qodir al-Jaelani. Manakiban disebut juga Majma’al Kho-irot, karena didalamnya terkumpul bermacam-macam kebaikan, faidah dan manfaat, diantaranya : Silaturohim ; Orang Sukabumi bertemu dengan orang Ciamis, orang Malaysia bertemu dengan orang Indonesia, orang Singapura bertemu dengan orang Singaparna. Mereka saling mengenal, saling menyapa dan bertukar pendapat. Sehingga dapat memperkokoh dan memperkukuh persatuan dan kesatuan umat Islam. Mendengarkan bacaan al-Qur’an ; Yang merupakan ibadah. Membaca sholawat bersama-sama. Musofahah ; Yang akan menambah erat Ukhuwah Islamiyah. Mendengarkan kisah orang-orang sholeh, agar diri kita termotivasi untuk jadi orang sholeh.
Juga masih banyak lagi faidah atau kebaikan-kebaikan yang lain, terutama adalah unsur ruhaniyah atau volume ruhaniyahnya yang sangat besar, sehingga dapat merubah sikap dan watak seseorang setelah mengikuti Manakiban.[1]
Komentarku ( Mahrus ali ) :
KH. M. Zein ZA Bazul Asyhab menyatakan :
Tetapi semua wali mengakui kelebihan Syaikh Abdul Qodir al-Jaelani.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Setahu saya perkataan seperti itu  hanyalah omongan bualan belaka yang tidak memiliki landasan atau refrensi yang akurat. Apakah para sahabat lebih rendah dari pada Syaikh Abd Qadir al Jaelani . Mereka adalah orang yang di ridhai oleh Allah sebagaimana  ayat :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.[2]
 Dalam  suatu hadis juga di jelaskan sbb :
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ خَيْرَكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ فَلَا أَدْرِي أَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ قَرْنِهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً ثُمَّ يَكُونُ بَعْدَهُمْ قَوْمٌ يَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ وَيَنْذِرُونَ وَلَا يُوفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ *
 Diriwayatkan dari Imran bin Husain r.a katanya: Rasulullah  S.A.W.   bersabda: Sesungguhnya yang terbaik dari kalangan kamu ialah sezaman denganku, kemudian orang yang hidup setelah zamanku, setelah itu orang yang hidup setelah mereka. Imran berkata: Aku tidak mengetahui apakah Rasulullah  S.A.W.   menyebut selepas kurunnya sebanyak dua atau tiga kali. Selepas itu datang satu kaum yang bersaksi tanpa diminta  dan berkhianat , tidak bisa dipercayai, yang suka bernazar tetapi tidak melaksanakannya dan banyak yang gemuk [3]
Malah ada orang yang mengatakan  syaikh Abd Qadir al Jailani adalah Sulthonul auliya`, siapakah yang menyatakan seperti itu , Syaikh Abd Qadir sendiri selama hidupnya tidak pernah menyatakan seperti itu , begitu juga  ulama  saat beliau masih hidup dan ulama  di Iraq sendiri . Arti Sulthon itu kadang raja atau penguasa , ya`ni Syaikh Abd Qadir Al jailani rajanya para wali , lalu siapakah menteri – mentri dan rakyatnya . Ini lelucon yang tak lucu , bahkan  tidak perlu di pikirin . Jelas sesat dan menyesatkan .
KH. M. Zein ZA Bazul Asyhab menyatakan :
Manakiban disebut juga Majma’al Kho-irot, karena didalamnya terkumpul bermacam-macam kebaikan, faidah dan manfaat, diantaranya : Silaturohim ; Orang Sukabumi bertemu dengan orang Ciamis, orang Malaysia bertemu dengan orang Indonesia, orang Singapura bertemu dengan orang Singaparna. Mereka saling mengenal, saling menyapa dan bertukar pendapat. Sehingga dapat memperkokoh dan memperkukuh persatuan dan kesatuan umat Islam. Mendengarkan bacaan al-Qur’an ; Yang merupakan ibadah. Membaca sholawat bersama-sama. Musofahah ; Yang akan menambah erat Ukhuwah Islamiyah. Mendengarkan kisah orang-orang sholeh, agar diri kita termotivasi untuk jadi orang sholeh.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Segala  faedah itu sekedar strategi setan untuk memusrikkan pengikut manakib .Sebab dalam manakib itu di bacakan kasidah sbb :
عِبَادَ اللهِ رِجاَلَ اللهِ    أَغِيْثُونأَ لأَجْلِ اللهِ  وَكُونُوُ ا عَوْنَناَ لِلهِ   عَسَى نَحْظَى بِفَضْلِ اللهِ
Wahai hamba – hamba Allah ( yang sudah meninggal dunia ) , wahai tokoh – tokoh  agama ( yang sudah wafat )  tolonglah kami  karena Allah . Barang kali  kami  bisa berhasil / mendapat fadhol Allah .
وَياَ أَقْطاَبْ وَياَ أَنْجاَبْ  وَياَ سَادَاتْ وَياَ أَحْباَبْ  وَأَنْتُمْ ياَ أُولِى الأَلبَابْ  تَعاَلَوْا وَانْصُرُوا لله
Wahai wali – wali Quthub , orang – orang yang di pilih ,para sayyid, para  kekasih  dan kalianlah orang – orang yang berakal , kemarilah  dan tolonglah kami  karena Allah .
سَأَلْناَكُمْ سَأَلْناَكُمْ  وَلِلزُّ لْفَى رَجَوْناَكُمْ  وَفِى أَمْرٍ قَصَدْناَكُمْ  فَشُدُّوأ عَزْمَكُمْ للهِ
Kami minta pada kalian  X2  , dan untuk mendekat kepada Allah kami  sekalian berharap kepada kalian , dan setiap perkara  kami  bermaksud  kepada kalian ( kami minta pada kalian ) , maka  teguhkan kehendak kalian untuk  Allah .
Sya`ir – syair tersebut  menurut kami syirik  dan  saya sudah lama  enggan  membacanya  dan saya  larang murid saya  untuk membacanya .  Isinya  minta – minta kepada mayat – mayat yang sudah meninggal dunia . Untuk lebih jelasnya lihatlah dibuku karya kami [4]
Ada orang bilang : Kok banyak orang yang membacanya
Saya jawab : Allah  sudah berfirman sbb :
ذَلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ
Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja yang dimintai . Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan, maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [5]
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ(6)
Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.[6]
 Dalam doa manakib yang berada di ahir kitab manakib ada permintaan kepada para wali qutub , autad , anjab agar bisa  membikin segala kebutuhan tercapai yang menurut saya  syirik besar. Sebab minta kepada selain Allah , Allah berfirman :
أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.[7]
 Saya telah mencari refrensi di perpustakaan kami , siapakah orang yang pertama  kali membaca manakib syekh Abd Qadir al jailani .   Saya tidak mendapatkan walaupun lama sekali saya mencarinya.
Saya bertanya kepada DR Hikmat Yasin – dosen Universitas Medinah Al Munawwarah  dari Iraq  , ya`ni dari tempat kelahiran Syekh Abd Qadir al Jailani .  Saya tanya kepadanya  , apakah di kampung Syekh Abd Qadir al jailani , banyak orang yang membaca manaqib. Ternyata jawabannya membikin saya heran dan termangu – mangu  yaitu , dia mulai lahir sampai saat itu tidak mendengar kitab manaqib Syekh Abd Qadir al Jailani . Saya di Indonesia mendengar kitab itu dan kitab itu tidak ada di Irak – sebagai tempat kelahiran Syekh Abd Qadir al Jailani , lalu siapakah yang mengarangnya .
 Saya cari dikitab – kitab yang ada di perpustakaan kami  , juga tidak ada . Orang awam, akan bilang , apakah di Saudi ada  bacaan  manaqib .
Perlu saya jelaskan , selama  tujuh tahun , saya di Saudi , saya tidak mendengar ada orang yang membaca  manaqib. Waktu kecil , saya tidak mendengar nya , atau mungkin orang di Giri sana belum mengadakan bacaan manaqib itu .
KH. M. Zein ZA Bazul Asyhab menyatakan :
Juga masih banyak lagi faidah atau kebaikan-kebaikan yang lain, terutama adalah unsur ruhaniyah atau volume ruhaniyahnya yang sangat besar, sehingga dapat merubah sikap dan watak seseorang setelah mengikuti Manakiban.[8]
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Unsur ruhaniyah yang bertambah menurut anda , tapi mirip dengan semangat jahiliyah  sebagaimana  ayat :
إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.[9]
Jadi tambahan semangat itu bukan untuk menerima kebenaran dari al quran dan hadis atau mengikuti tuntunan , tapi bila  di kasih dalil , malah menolak atau diam dengan hati yang mendongkol . Itulah karakter kebanyakan pengikut thariqat yang pernah saya jumpai. Bahkan sebagian guru saya yang ngefan manakiban juga sangat marah pada saya lalu ghibah pada saya di muka teman – teman saya yang dulu sepondok dengan  saya . Terkadang keterangan guru thariqat lebih di percaya dari pada guru yang pernah mengasuhnya di pondok pesantren. Mestinya  seorang muslim itu memilih pendapat yang terbaik yang bersandar kepada al quran dan hadis  sebagaimana ayat :
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.[10]
  Sekian dahulu , bila baik dari Allah dan bila ada keritikan  yang membangun akan saya terima dengan baik dan ihlas sekali bahkan terima kasih .


[2] Taubat 100
[3] Muttafaq alaih , Bukhori 2457
[4] Mantam kiyai Nu menggugat sholawat dan   dzikir syirik atau di solusi tunta  permasalahan agama
[5]  12 Ghofir
[6] Al Bayyinah  6
[7] Az zumar 38
[9] Al Fateh 26
[10] Azzumar 18
Iklan

One response »

  1. tp arti dri ayat al-quran itu tdk ssederhana kita membacanya, akn ttpi diperlukan ilmu utk mnterjemahkannya,,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s