Berperang Melawan Was-Was Setan, Ustadz Abu Humaid Arif Syarifuddin:


Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ

“Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya,’Siapakah yg menciptakan ini? Siapakah yg menciptakan itu?’ Hingga dia bertanya,’Siapakah yg menciptakan Rabb-mu?’ Oleh karena itu, jika telah sampai kepadanya hal tersebut, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah & hendaklah dia menghentikan (waswas tersebut)”.

 

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini muttafaqun ‘alaihi (Al-Bukhari dalam Shahih-nya di kitab “Bad’ul-Khalqi“, bab “Shifatu Iblisa wa Junudihi”, hadits no. 3276 (6/387 – Fathul-Bari); & Muslim dalam Shahih-nya di kitab “Al Iman”, bab “Bayan al Waswasati fil-Iman wa ma Yaquluhu man Wajadaha”, hadits no. 134 (2/132 – Syarhu Shahih Muslim)).

 

BIOGRAFI PERIWAYAT HADITS

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau bernama Abdur-Rahman bin Shakhr Ad-Dausi, inilah pendapat yg masyhur. Pada masa Jahiliyyah, beliau bernama Abdu Syams, & ada pula yg berpendapat lain. Panggilan kunyahnya Abu Hurairah, & inilah yg masyhur. Kunyah lainnya yaitu Abu Hir, karena beliau Radhiyallahu ‘anhu memiliki seekor kucing kecil yg selalu diajaknya bermain-main pd siang hari. Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanggilnya “Wahai Abu Hir”.

Ahli hadits telah bersepakat, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu merupakan sahabat yg paling banyak meriwayatkan hadits. Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan di dalam Musnad Baqiy bin Makhlad, terdapat 5. 300-an hadits yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

Selain meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau juga meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, al-Fadhl bin al-Abbas, Ubaiy bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, Bushrah al-Ghifari, & Ka’ab al-Ahbar Radhiyallahu ‘anhum.

Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi’in yg meriwayatkan hadits dari beliau, & beliau adalah orang yg paling hafal dalam meriwayatkan beribu-ribu hadits. Namun, bukan berarti beliau yg paling utama di antara para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam asy-Syafi’i berkata,”Abu Hurairah adalah orang yg paling hafal dalam meriwayatkan hadits pd zamannya (masa sahabat). ”

Beliau masuk Islam antara setelah perjanjian Hudaibiyyah & sebelum perang Khaibar. Datang ke Madinah sebagai muhajir & tinggal di Shuffah . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan ibu Abu Hurairah utk masuk Islam.

Amr bin Ali al-Fallas mengatakan, Abu Hurairah datang ke Madinah pd tahun terjadinya perang Khaibar pd bulan Muharram tahun ke-7 H.

Humaid al-Himyari berkata,”Aku menemani seorang sahabat yg pernah menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama empat tahun sebagaimana halnya Abu Hurairah. ”

Menurut pendapat yg lebih kuat, beliau Radhiyallahu ‘anhu wafat pd tahun 57 H.

 

MAKNA HADITS

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan, setan dapat mendatangi seseorang utk menghembuskan was-was (gangguan) & syubhat (keraguan) ke dalam hatinya; di antaranya dg membisikkan kalimat-kalimat yg dapat menimbulkan keragu-raguan secara halus, hingga menggiringnya kepada kalimat kufur.

Contohnya, seperti disebutkan dalam hadits ini. Yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan yg semula merupakan pertanyaan biasa, lalu setan berusaha menggiring pd pertanyaan yg membuat keraguan, yaitu “siapa yg menciptakan Rabb-mu?”

Bila was-was setan ini telah merasuk ke dalam hati & benak pikiran seseorang, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar orang tersebut segera meminta perlindungan kepada Allah & mengakhiri (was-was setan tersebut) dari benak pikirannya. Walahu a’lam.

 

PENJELASAN DAN PELAJARAN HADITS

Setan Musuh Yang Nyata Bagi Bani Adam

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengusir Iblis dari surga karena keengganannya menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala utk bersujud kepada Adam Alaihissallam, ia meminta tangguh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seraya menyatakan tekadnya utk menggoda & menjerumuskan Adam Alaihissallam & anak cucunya ke dalam lembah kehinaan, menyimpangkan mereka dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yg lurus.

Untuk pertama kalinya Iblis berhasil membujuk Adam Alaihissallam & isterinya melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga keduanya dihukum oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dg diturunkan ke bumi, meskipun kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat Adam Alaihissallam & isterinya, & mengampuni keduanya.

Tidak berhenti sampai di situ, Iblis kemudian mengajak bala tentaranya dari kalangan setan utk terus memerangi anak cucu Adam, menggelincirkannya dari jalan Allah yg lurus, & menjatuhkannya ke dalam kesesatan yg menghinakan. Maka Iblis & bala tentaranya menjadi musuh yg paling nyata & paling sengit bagi manusia. Oleh karena itu berhati-hatilah dari tipu daya & langkah-langkah setan yg menyesatkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan hal itu dalam firman-Nya:

وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“… & janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya syithan itu musuh yg nyata bagimu”. (Al-Baqarah/2:168. Al An’âm/6:142).

 

Setan Menghembuskan Was-was & Syubhat

Sejak awal permusuhan, setan telah mempersiapkan jurus-jurus & langkah-langkah muslihat utk menggelincirkan & melumpuhkan manusia agar tdk taat kepada Allah. Di antaranya dg meluncurkan was-was & syubhat (keraguan) dalam diri manusia.

Perhatikan perkataan setan (Iblis). Dengan muslihatnya, ia berlagak sebagai penasihat, & bahkan dg mengangkat sumpah kepada Adam & isterinya –sebelum diturunkan ke bumi- setelah sebelumnya Allah memperingatkan keduanya utk tdk mendekati pohon terlarang.

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مِنْ سَوْءَاتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلاَّ أَنْ تَكُوناَ مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُوناَ مِنَ الْخَالِدِينَ. وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ. فَدَلاَّهُمَا بِغُرُورٍ . . .

“Maka setan membisikkan pikiran jahat (was-was) kepada keduanya utk menampakkan kepada keduanya apa yg tertutup dari mereka, yaitu auratnya, & setan berkata, “Tuhan kamu tdk melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tdk menjadi malaikat / tdk menjadi orang yg kekal (dalam surga)”. Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya,”Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yg memberi nasihat kepada kamu berdua,’ maka setan membujuk keduanya dg tipu daya. …” (Al-A’râf/7:20-22)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menceritakan hal serupa.

فَوَسْوَسَ لَهُ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لاَ يَبْلَى

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat (waswas) kepadanya, dg berkata,”Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (kekekalan) & kerajaan yg tdk akan binasa?” (Thâhâ/20:120).

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang ketergelinciran Adam Alaihissallam & isterinya oleh was-was & tipu daya setan, yg membuat Adam lupa dg peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketergelinciran ini utk menjadi pelajaran bagi anak cucunya.

 

Bentuk-bBntuk Waswas Setan

Banyak cara yg dilancarkan setan dalam menghembuskan was-was (pikiran jahatnya) kepada bani Adam. Di antaranya dapat dicontohkan sebagai berikut.

 

1. Setan menghiasi kemaksiatan.

Setan menghiasi kemaksiatan dg hiasan-hiasan indah, sehingga kemaksiatan tersebut tdk nampak lagi sebagai kemaksiatan di mata manusia. Seperti perkataannya kepada Adam Alaihissallam & isterinya dalam dua ayat di atas, ternyata merupakan tipuan berhias nasihat. Begitu pula ketika menghiasi perbuatan kaum musyrikin pd perang Badar. Allah Subhanhu wa Ta’ala mengisahkan:

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَراً وَرِئَـاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ، وَاللهُ بِمَا يَعْمَلوُنَ مُحِيطٌ. وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لاَ غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌّ لَّكُمْ، فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنْكْم إِنِّي أَرَى مَا لاَ تَرَونَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَاللهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yg keluar dari kampungnya dg rasa angkuh & dg maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yg mereka kerjakan. Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka & mengatakan,”Tidak ada seorang manusiapun yg dapat menang terhadap kamu pd hari ini & sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu,” maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata,”Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yg kamu sekalian tdk dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah”. Dan Allah sangat keras siksa-Nya”. (Al-Anfâl/8:47-48).

Begitulah hiasan setan yg berisikan janji-janji palsu & angan-angan kosong.

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِم وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُوراً

“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka & membangkitkan angan-angan kosong pd mereka, padahal setan itu tdk menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka” (An-Nisâ’: 120)

 

2. Setan Mmenakut-Nakuti Manusia.

Tatkala ada sebagian manusia tdk mempan dg hiasan-hiasan setan, maka setan menggunakan cara lain, yaitu menakut-nakuti mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُم مُؤْمِنِينَ

 

“Sesungguhnya mereka itu tdk lain hanyalah setan yg menakut-nakuti (kamu) dg kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yg beriman”. (Ali Imran/3:175).

 

Menangkal Was-Was Setan

Keberadaan setan sebagai musuh yg nyata bagi manusia merupakan salah satu ujian terberat buat manusia; karena setan dapat melihat keberadaan manusia, sedangkan manusia tdk dapat melihat setan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا مِن سَوْءَاتِهِمَا، إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِن حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُم، إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ.

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya utk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia & pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yg kamu tdk bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yg tdk beriman. ” (Al-A’râf/7:27)

Namun begitu, Allah Subhanhu wa Ta’ala dg rahmatNya memberikan petunjuk kepada para hamba-Nya melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu kiat-kiat utk menangkal & mengusir setiap serangan yg dilancarkan setan. Di antaranya sebagai berikut.

 

1. Ikhlas.

Hamba-hamba yg ikhlas akan dijaga & diselamatkan dari gangguan setan, sebagaimana menurut pengakuan setan sendiri. Allah l menceritakan dalam firman-Nya:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ )

“Iblis berkata, “Ya Rabb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, & pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yg mukhlis di antara mereka. ” (Al-Hijr/15:39-40).

Dalam ayat yg lain:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis menjawab, “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yg mukhlis di antara mereka. ” (Shâd/38:82-83).

Dan dg jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku (yang mukhlis) tdk ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yg mengikuti kamu, yaitu orang-orang yg sesat”. (Al-Hijr/15:42).

 

2. Iman.

Dalam sebagian riwayat hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yg kita bahas di atas, ada disebutkan dg lafazh berikut.

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْتِي أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ فَيَقُولُ اللَّهُ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَإِذَا أَحَسَّ أَحَدُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ هَذَا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ وَبِرُسُلِهِ.

“Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya (kepadanya),”Siapa yg menciptakan langit?” Ia menjawab,”Alah Subhanahu wa Ta’ala ,” lalu setan bertanya lagi,”Siapa yg menciptakan bumi?” Ia menjawab,”Allah,” hingga setan bertanya,”Siapa yg menciptakan Allah? Maka apabila salah seorang dari kalian merasakan suatu (was-was) seperti ini, hendaklah dia mengucapkan,”Aku beriman kepada Allah & para rasul-Nya”.

Dan dalam riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘anha dg lafazh:

 

((. . . فَلْيَقْرَأْ آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُذْهِبُ عَنْهُ)).

“… maka bacalah “Aku beriman kepada Allah & para rasul-Nya,” karena hal itu akan menghilangkannya (was-was tersebut)”.

 

3. Berlindung Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yg diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu di atas:

((. . . فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ))

“… jika telah sampai kepadanya hal tersebut, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah & hendaklah dia menghentikan/memutuskan (was-was tersebut)”.

Dan hal ini sesuai dg perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

 

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 

“Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Al-A’râf/7:200).

Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu pula dg lafazh:

فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ، فَقُولُوا: اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، ثُمَّ لِيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنْ الشَّيْطَانِ.

“Jika mereka mengucapkan hal itu (kalimat-kalimat was-was), maka ucapkanlah “Allah itu Maha Esa, Allah itu tempat bergantung, Dia tiada beranak & tiada pula diperanakkan,” kemudian meludahlah ke kiri (3x) & berlindunglah kepada Allah”

 

4. Dzikrullah.

Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yg bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (menyadari) kesalahan-kesalahannya”. (Al-A’râf/7:201).

Nas’alullaha at taufiq.

(Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183, Telp. 0271-761016)

_ Footnotes.

. Di antaranya di dalam kitab “Al Ghusl”, bab “Al-Junub Yakhruju wa Yamsyi fis-Sûq wa Ghairihi”, hadits no. 285 (1/466 – Fathul-Bari).

. Anjungan di serambi Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tempat tinggal kaum fakir yg tak punya rumah.

. Lihat Al-Ishabah (4/316 – dst. ).

. Lihat firman Allah dalam Qs Al-Baqarah/2 ayat 34 & Al-A’râf/7 ayat 11-18.

. Lihat firman Allah Qs Al-A’râf/7 ayat 19-25.

. Risalah Maqami’ Asy-Syaithan, oleh Syaikh Salim Al-Hilali, Dâr Ibnil-Jauzi, Cetakan III, Tahun 1412H/1991M, hlm. 10-14.

. Lihat risalah Maqami’ Asy-Syaithan, hlm. 29-31.

. HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya (2/331) & (5/214) dg lafazh: ” …aku beriman kepada Allah & Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam” (dengan bentuk tunggal). Lihat pula Shahih Muslim, kitab “Al Iman”, bab “Bayan al Waswasati fil- Iman wa ma Yaquluhu man Wajadaha”, hadits no. 134 (2/132 – Syarah Shahih Muslim).

. HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya (6/257). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul-Jami’ (no. 1542).

. HR Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab “As-Sunnah”, bab “Fil-Jahmiyyah”, hadits no. 4722. Derajatnya dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud & Shahihul-Jami’ (no. 8182).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s