Hadits dan Hubungannya dengan Alqur’an

Pengertian Hadits
Secara bahasa, hadits berarti baru. Menurut istilah hadits yaitu apa saja yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, dan ketetapannya.

Pengertian Al-qur’an
Secara bahasa, al-qur’an berarti bacaan yang dibaca. Secara istilah, al-qur’an adalah wahyu Ilahi yang diturunkankepada Nabi Muhammad SAW yang telah disampaikan kepada kita( ummatnya ), dengan jalan mutawatir, yang dihukumi kafir bagi orang yang mengingkarinya.

Hirarki Sumber Hukum dalam Islam

Al-qur’an ( Satu – satunya dasar yang tidak diperselisihkan dalam menerimanya sebagai hujjah )

Hadits ( Dasar tasyri’ yang kedua setelah al-qur’an )

Ijma’( Kehujjahan dhanni, bukan qoth’i dan dipegang dalam urusan amal bukan urusan i’tikad)

Ijtihad( Membandingkan hukum kepada hukum yang lain, yang dipergunakan setelah ijma’ )

Qiyas( Menghubungkan hukum suatu pekerjaan kepada yang lain, karena itu sebabnya sama dengan yang menyebabkan hukumnya juga sama )
Fungsi Hadits terhadap Al-qur’an
a.Sebagai penguat hukum yang telah ditetapkan dalam al-qur’an.
b.Memberikan rincian terhadap pernyataan al-qur’an yang masih global.
c.Sebagai pembatas kemuthlakan al-qur-an.
d.Memberikan pengecualian terhadap pernyataan al-qur’an yang bersifat global.
e.Menetapkan hukum baru yang tidak ditetapkan dalam al-qur’an.

Sejarah Pembinaan dan Penghimpunan Hadits

1.Hadits pada periode pertama ( Masa Rosulullah SAW / 13 SH – 11 H )
Periode ini disebut “ Ashr al-Wahyi wa At-Taqwim, di mana umat islam memperoleh langsung dari Rosululloh SAW. Nabi SAW melarang membukukan hadits secara resmi, dikarenakan :
 Men-tadwin-kan ucapan, amalan, mu’amalah Nabi adalah hal yang sukar.
 Orang Arab kuat hafalannya, tetapi tidak pandai membaca dan menulis.
 Kekhawatiran bercampurnya Al-qur’an dengan al-hadits.

2.Hadits pada periode kedua ( Masa Khulafa’ur Rosyidin / 11 H – 40 H )
Periode ini adalah masa membatasi dan menyedikitkan riwayat. Para shahabat dalam meriwayatkan hadits menggunakan 2 cara (lafdzi & maknawi ).

3.Hadits pada periode ketiga (Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in Besar/41 H–akhir abad ke-1)
Para sahabat mengadakan perlawatan hadits, antar kota-kota pusat hadits ( Madinah, Makkah, Kufah, Bashroh, Syam, Mesir ), muncul bendaharawan hadits seperti Abdulloh Ibn Mas’ud, pengembang periwayatan hadits seperti Abu Hurairoh, dan muncul tokoh hadits serta pemalsuan hadits.

4.Hadits pada periode keempat (Masa Pengumpulan dan Pembukuan Hadits/Abad ke-2)
Kholifah Umar ibn Abdul Aziz mengirim surat kepada Gubernur wilayah kekuasaannya untuk membukukan hadits tanpa memisahkan hadits dengan fatwa. Pada masa ini juga terdapat pemalsuan hadits sehingga mendorong sebagian para ulama’ untuk mempelajari keadaan perowi – perowi hadits.

5.Kitab – Kitab Induk
a.Shohih Al-Bukhori e. Sunan At Tirmidzi i. Musnad Ahmad
b.Shohih Muslim f. Sunan Ibnu Majah j. Almuwaththa’
c.Sunan An-Nasa’i i. Sunan Ad-Darimi
d.Sunan Abi Daud h. Al Muntaqo

6.Hadits pada periode kelima ( Masa Pentashihan dan Penyusunan Kaidah – Kaidahnya / Abad ke-3 )
Pada masa ini telah dipisahkan antara hadits dan fatwa,serta memisahkan yang shohih, hasan, dloif karena telah muncul ilmu Diroyah dan Riwayah Hadits. Imam yang mula- mula membukukan hadits hanya yang dipandang shohih saja, seperti Imam al-Bukhori, Imam Muslim dll.

7.Hadits pada periode keenam ( abab ke-4 – 656 H )
Periode ini adalah masa memperbaiki susunan kitab – kitab hadits yang telah selesai penyusunannya pada abad ke-4.
Usaha-usaha terpenting yang dilakukan para ulama’, antara lain :
 Mengumpulkan hadits–hadits Al-Bukhori / Muslim dalam sebuah kitab.
 Mengumpulkan hadits – hadits kitab enam.
 Mengumpulkan hadits – hadits yang terdapat dalam berbagai kitab.
 Mengumpulkan hadits–hadits hukum dan menyusun kitab– kitab athraf.
Pada masa ini muncul berbagai macam kitab – kitab, antara lain :
•Kitab – kitab yang mengumpulkan Shahih Al-Bukhory dan Muslim,
•Kitab – kitab yang mengumpulkan isi kitab enam, Kitab – kitab Jami’ yang lengkap, Kitab–kitab hadits hukum,Kitab – kitab hadits Targhib dan Tarhib
•Kitab – kitab yang menerangkan derajat – derajat hadits yang terdapat dalam berbagai tafsir, fiqh, yang dinamai takhrij.
•Kitab – kitab yang membukukan hadits qudsi
•Kitab Mustadrak, Kitab Mustakhraj, Kitab – kitab hadits adzkar, Kitab – kitab penunjuk hadits, Kitab athraf.

8.Hadits periode ketujuh ( 656 H – sekarang )
India dan Mesir memegang peranan penting dalm perkembangan hadits, setelah itu berpindah ke kerajaan Saudi Arabia. Jalan – jalan yang ditempuh dalam masa ini antara lain :
 Menertibkan isi kitab – kitab hadits
 Menyaring dan menyusun kitab – kitab takhrij
 Membuat kitab – kitab jami’ yang umum, kitab – kitab yang mengumpulkan hadits hukum, mentakhrijkan hadits – hadits yang terdapat dalam berbagai kitab
 Mentakhrijkan hadits – hadits yang terkenal dalam masyarakat
 Menyusun kitab athraf.

ULUMUL HADITS DAN SEJARAH PERHIMPUNANNYA

A.Pengertian
Ulumul hadits adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir atau lainnya.

B.Macam macam ulumul hadits dan cabangnya
Terdapat 2 macam, yaitu ilmu diroyah dan ilmu riwayah hadits. Cabang – cabangnya adalah :
a.Ilmu Rijalul hadits d. Ilmu Illail Hadits
b.Ilmu Jarhi Wat Takdil e. Ilmu Nasil wal Mansukh
c.Ilmu Asbabi Wurudil Hadits f. Ilmu Talfiqil Hadits

C.Sejarah Perhimpunan Ilmu Hadits
Pada akhir abad ke-2, penelitian dan pengkritikan hadits mengambil bentuk sebagai ilmu hadits teoritis . Di zaman Bani Umayah dan Abbasiyah, ilmu hadits berkembang pesat. Sehingga muncullah kitab – kitab hadits yang membahas tentang ulumul hadits. Seiring berkembangan Waktu, tidak hanya ilmu hadits yang muncul tetapi juga ilmu tentang cabang- cabang ilmu hadits.

SANAD DAN MATAN HADITS

A.Pengertian Sanad dan Matan
Sanad/span> menurut bahasa berarti sandaran, thoriq, wajh. Menurut istilah ahli hadits, sanad ialah jalan yang menyampaikan kita kepada matan hadits.
Matan secara bahasa berarti punggung jalan ( muka jalan ), tanah keras dan tinggi, penghujung sanad. Menurut istilah, matan adalah materi berita yang berupa sabda, perbuatan, atau taqrir Nabi Muhammad SAW, yang terletak setelah sanad yang terakhir.

B.Tingkatan Sighot Sanad
1.Martabat Pertama حدثنا,حدثني, قال لنا, قل لني, سمعنا, سمعت, ذكرنا, ذكرني 2.Martabat Kedua اخبرني, قرأت عليه
3.Martabat Ketiga اخبرنا, قرأنا عليه, قرئ عليه وانا اسمع
4.Martabat Keempatنبأني, نبأني, انبأنا, نبأن
5.Martabat Kelima ناولني
6.Martabat Keenam شافهني
.7Martabat Ketujuh كتب الي
.8Martabat Kedelapan عن, أن,ان, روى, قال, ذكر,بلغنى, وجلت وكتابي عن

C.Periwayatan Hadits
Terdapat dua jalan yang diambil para shahabat untuk meriwayatkan hadits, yaitu :

Lafdzi
Periwayatan yang redaksi matannya sama seperti yang diwurudkan Rosululloh SAW.

Maknawi
Preriwayatan yang redaksi matannya tidak persis sam dengan yang didengar dari Rosulullah SAW, namun isi dan maknanya sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rosulullah SAW, tanpa ada perubahan sedikitpun.

D.Kriteria Keshohihan Sanad dan Matan
Kriteria keshohihan suatau sanad meliputi :
 Ketersambungan sanad ( اتصل السند )
 Keadilan perowi ( عدول الرواة )
 Kedhobitan perowi ( ضبطالرواة )
 Tidak terdapat kejanggalan ( شذ )
 Tidak terdapat cacat ( علة )

Kriteria keshohihan matan menurut Sholahuddin Al-Adlabi, meliputi :
 Tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an
 Tidak bertentangan dengan hadits yang kualitasnya lebih kuat
 Tidak bertentangan dengan akal sehat, panca indera dan fakta sejarah.
 Susunan pernyataannya mununjukkan ciri – ciri sabda kenabian.

E.Contoh sanad dan matan hadits
عن ابى مسعود البدري رضيالله عنه : أن رسول الله ص م نهى عن ثمن الكلب ومهر البغي وحلوان الكاهن ( متفق عليه )

Sanad Matan Rowi

ISTILAH – ISTILAH DALAM ULUMUL HADITS

1.Shahabat :orang yang hidup semasa Nabi Saw masih hidu, beriman kepadanya dan mati dalam keadaan islam.

2.Mukhodaromun: Orang yang hidup di zaman jahiliyyah dan masa Nabi SAW, dan memeluk islam namun tidak bertemu dengannya.

3.Tabi’in :orang yang bertemu dengan Shohabat Nabi.

4.Mutaqoddimun :ulama’ hadits pada abad ke -2 dan ke-3.

5.Mutaakhirun :Ulama’ hadits yang hidup pada abad ke-4.

6.Mukhsirun fil Hadits : Shahabat yang meriwayatkan hadits lebih dari 1000 hadits.

7.Thalibul Hadits :Orang yang baru memulai karirnya di bidang hadits.

8.AlMusnid :gelar bagi orang yang berusaha menemukan sandaran sanad dalam hadits.

9.Almuhaddits : Gelar bagi orang yang mahir dalam bidang hadits, baik riwayah maupun diroyah.

10.Alhafidz :Gelar bagi orang yang mampu manghafal 100.000 hadits lengkap dengan sanad dan matan hadits

11.Alhujjah :Gelar bagi orang yang mampu menghafal 300.000 hadits, serta seluk beluknya.

12.Alhakim :Gelar bagi orang yang mampu mnghafal lebih dari 300.000 hadits, beserta seluk beluknya.

13.Amirul Mukminin: filhadits Gelar bagi orang yang mampu menghafal lebih dari 300.000 hadits, beserta segala seluk beluknya, sanad matan, ikhwal perowi dan jalur lainnya.

14.Akhrojus Sab’ah : Matan hadits yang diriwayatkan oleh 7 perowi .

15.Akhrujus Sittah : Matan hadits yang diriwayatkan oleh 6 perowi.

16.akhrojul Khomsah : Matan hadits yang diriwayatkan oleh 5 perowi.

17.Akhrojul Arba’ah : Matan hadits yang diriwayatkan oleh 4 perowi.

18.Akhrojuts Tsalatsah :Matan hadits yang diriwayatkan oleh 3 perowi.

19.Mutafaq ‘Alaih : Matan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori & Muslim.

20.Akhrojul Jama’ah : Matan hadits yang diriwayatkan oleh jama’ah ahli hadits.

21.Ilmu Diroyah : Kaidah – kaidah untuk mengetahui makbul mardudunya suatu hadits.

22.Ilmu Riwayah : Kaidah – aidah yang mencakup segala sesuatu yang disandarkan kepada Rosul.

23.Ilmu Rijalil Hadits :Ilmu yang membahas tentang hal ikhwal perowi.

24.Ilmu Jarhi Wat Ta’dil:Ilmu yang membahas tentang kualitas para perowi.

25.Ilmu Fannul Mubhamat : Ilmu untuk mengetahui nama orang – orang yang tidak disebut dalam matan / sanad.

26.Ilmu Tafsir wa Tahrif:Ilmu yang menerangkan hadits – hadits yang sudah diubah titik ( Mushaf ) dan bentuknya ( Mukhorof ).

27.Ilmu ‘Illail Hadits :Ilmu yang menerangkan tentang sebab – sebab yang tersembunyi dan merusak hadits.

28.Imu Ghoribil hadits :Ilmu yang menerangkan istilah khusus dalam hadits.

29. Ilmu Nasikh walMansukh :Ilmu yang menerangkan hadits – hadits yang telah dimansukh dan yang menasikhkannya.

30.Ilmu Asbabil Wurud : Ilmu yang menerangkan sebab – sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa – masa Nabi menuturkannya.

31.Ilmu Talfiqil Hadits:Ilmu yang membahas cara mengumpulkan antara hadits yang berlawanan.

32.Ilmu Musthahalah: Ahli HaditsIlmu yang menerangkan tentang istilah dalam hadits.

HADITS SHOHIH DAN HADITS HASAN

1.Pengertian Hadits Shohih
Menurut Imam Nawawi adalah hadits yang sanadnya bersambung melalui para rawi yang adil dan dhabith tanpa adanya syad dan illat.
Kriteria hadits dikatakan sebagai hadits shohih, antara lain :
a.Sanad hadits harus bersambung.
b.Perawi harus adil dan dhabith.
c.Hadits yang diriwayatkan tidak syadz dan selamat dari illat yang merusak.

Macam – macam hadits shohih :
a.Hadits shohih lidzatihi
b.Hadits shohih lighoirihi

Hukum serta Status Kehujjahan Hadits Shohih
Para ulama’ hadits,ushul fiqh, dan fuqoha’ sepakat menyatakan bahwahukum hadits shohih adalah wajib untuk menerima dan mengamalkannya.

2.Pengertian Hadits Hasan
Menurut ahli hadits adalah hadits yang memenuhi semua syarat hadits shohih kecuali para perowinya kurang sedikit dhabith dari hadits shohih.

Kriteria hadits dikatakan hadits hasan, antara lain :
a.Sanad hadits harus bersambung
b.Perowinya adil dan dhabith (kualitasnya lebih rendah dari hadits shohih)
c.Hadits yang diriwayatkan tidak syadz dan selama dari illat yang merusak.

Macam – macam hadits hasan/span>
a.Hadits hasan lidzatihi
b.Hadits hasan lighoirihi

Hukum serta Status Kehujjahan Hasan
Para ulama’ hadits, ushul fiqh, dan fuqoha’ sependapat tentang kehujjahan hadits hasan karena termasuk maqbul.

HADITS DHO’IF DAN HADITS MAUDHU’
1.Hadits Dho’if

a.Pengetian
Secara bahasa berarti ajiz ( yang lemah ). Sedangkan menurut Ibnu ash-Shalaha
مَالَمْ يَجْمَعُ صِفَاتَ الْحَدْيثُ الصَحِيْحُ وَلَاصِفَاتَ الْحَدِيْثُ الْحَسَنُ
“ hadits yang tiada mengumpulkan sifat-sifat hadits shohih dan hadits hasan “.

b.Kiteria hadits dho’if :
1.Sanad hadits tidak bersambung.
2.Cacat pada perowi / matan hadits.

c.Macam – macam hadits dho’if :
1.Hadits dhoif yang lemah karena gugur perowi dan sanad
a. Mu’allaq c. Munqothi’ e. Mudallas
b. Mursal d. Mu’dal

2.Hadits dho’if yang cacat perowi
a. Matruk d. Mu’allal g. Maqlub j. Mubham j. Muharraf
b.Munkar e. Mudtharab h. Mushohhaf h. Syadz i. Mudraj

d.Kehujjahan
•Menurut Imam Bukhori, Muslim, Ibnu Hazm, dan Abu Bakar Ibnul Arabi Muslim tidak boleh diamalkan sama sekali (dalam hukum seperti soal targhib)
•Menurut sebagian fuqoha’ dan ahli hadits : hadits dho’if dipergunakan untuk menerangkan fadhillah ( keutamaan ) dan amal ( fadha’il a’mal ).
•Menurut Abu Daud dan Imam Ahmad : hadits dho’if digunakan jika dalam suatu masalah tidak diperoleh dalam hadits shohih dan hasan.

2. Hadits Maudhu’
a. Pengertian
Hadits maudlu’ adalah hadits yang dibuat – buat oleh para pendusta, dan mereka menyandarkannya pada Rosulullah.

b.Kriteria hadits maudlu’
1. perowi dusta, telah mengakui telah memalsukan hadits, tidak bertemu langsung dengan periwayat hadits, dan membuat hadits karena motivasi belaka.
2. Sanad bermakna rusak,susunan lafalnya buruk,dan berlawanan dengan al-qur’an.

c. Motivasi pembuatan hadits maudlu’
1. Perselisihan politik dalam hal kholifah
2. Zandaqoh
3. Asybiyah
4. Keinginan menarik minat para pendengar dengan kisah pengajaran dan hikayat.
5. Perselisihan faham dalam masalah fiqh dan kalam.
6. Adanya pendapat untuk membuat hadits yang baik
7. Mendekatkan diri pada pembesar – pembesar negeri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s