Kali ini Saya ingin belajar bercerita tentang 3 hal: Sederhana, Gengsi, dan Kebutuhan.
Berbicara tentang kesederhanaan, tidak semua orang mampu melakukannya. Dan tentunya kita tahu kesuksesan itu berasal dari kesederhanaan. The Truth Is Simple, itulah pepatah yang sering kita dengar. Kedengarannya mudah, tapi sulit.

Ketika Si Gengsi dan Si Butuh berada di toko gadget, fashion, makanan, dan minuman kita tahu siapa yang menang? ya.. Si Gengsi lah yang memenangkannya. Hal ini bisa terjadi ketika Si Gengsi tidak bertuan Si sederhana.

Apakah kamu tahu siapa yang dapat memanfaatkan suatu barang secara maksimal, Si Gengsi atau Si Butuh? Si Gengsi memakai barang karena orang lain, namun Si Butuh memakai barang karena manfaat barang itu sendiri. Thats right Brothers?? hehe..

Kesederhanaan itu bukan membicarakan tentang antara kaya dan miskin, antara mampu dan tidak mampu, antara lebih dan kurang. Kesederhanaan bisa dilakukan oleh Si Kaya atau Si Miskin, oleh Si Mampu atau Si Tidak Mampu, Si Lebih maupun Si Kurang.

Gambaran kesederhanaan yang paling baik adalah peristiwa ketika Allah menciptakan segala sesuatu. Allah hanya mengatakan kun fayakun, maka jadilah apa yang diinginkan Allah itu. Ini merupakan gambaran kesederhanaan tingkat tinggi.

“… didepan Ka’bah terkesan bahwa tangan seorang pembangun (civil engineernya) demikian dekatnya dengan konsepsi agamanya. Justru dalam kesederhanaan kubus itu yang menyangkal segala keindahan garis dan bentuk. Berkatalah pikiran ini, betapapun indahnya segala sesuatu yang mampu di buat oleh tangan-tangan manusia, adalah congkak jika di bandingkan dengan kesabaran Tuhan. Oleh karena itu semakin sederhana yang dapat di sombongkan manusia, merupakan hal yang terbaik yang dapat dibuatnya untuk menyatakan kebesaran Tuhan …”

Masa remaja adalah masa yang paling rawan, dan paling berpotensi untuk belajar hidup sederhana. Saya, Anda, tentunya pernah dilanda apa yang mereka sebut Gengsi. Ketika Blackberry booming, beramai-ramailah para remaja mengganti HP mereka dengan merek Blackberry. Saya berani taruhan, mereka mengikuti trend bukan berdasar asas manfaat atau kebutuhan. Kebanyakan mereka berdasar atas rasa gengsi.

Sekarang adalah zamannya Blackberry, padahal banyak remaja yang hanya mempergunakan Blackberry untuk gengsi belaka. Kelihatan lebih keren ketika update status via Blackberry. Mereka lebih confidence ketika status kehidupan mereka diakui dengan barang bergengsi.

Tentunya tidak hanya gadget seperti ini yang menjadikan kesederhanaan diam dalam diri mereka. Fashion, Teknologi, Kendaraan, Permainan, Olahraga, bahkan hingga makanan dan minuman telah terasuki oleh gengsi. Namun, ada satu hal yang sangat sulit dimasuki oleh monster Gengsi ini, tahukah Anda siapa dia?

Dia adalah obat, si empunya jargon ” Memangnya kami makan merek? ” Cacing pun menjadi obat bagi mereka yang sakit, yang gengsi berarti mati. hehe..

Gengsi, harga diri, dignity atau apalah sebutannya. Menjadi sumber malapetaka bagi diri sendiri maupun orang lain, jauh dari wujud rasa syukur kita kepada-Nya.

Gak ada daging ya makan tempe
gak ada telor ya makan tahu
gak ada minyak ya pake kayu
gak ada lampu ya pake obor

sederhana ……..
sederhana ……..
sederhana … sederhana …
sederhana ……..

gak ada mobil ya naek motor
gak ada kapal ya naek perahu
gak ada pesawat ya naek kereta
gak ada apa2 gak usah kemana-mana

gak punya jaguar ya naek cikar
gak tingga di PI ya tinggal di Potlot
gak punya dolar ya nyimpen rupiah
gak punya apa2 gak takut apa2 !!!

gak ke hospital ya ke puskesmas
gak bisa bayar Dokter ya pergi ke dukun
gak sekolah di Boston ya sekolah di Negeri Sendiri
gak banyak keinginan gak banyak pikiran!

–SLANK_Sederhana–

Itulah nyanyian penyemangat Saya ketika di akhir bulan, tanya kenapa? Saya lebih bisa berhemat, compress semua keinginan dan tidak mengejar gengsi. Karena Gengsi itu pakai UANG!!!!, dan Saya menyadari kebutuhan yang paling mahal adalah gengsi, dan disaat seperti inilah monster ini bertekuk lutut dihadapan Saya.hehe..

Kesederhanaan mulai langka di alamnya para remaja masa kini, dan berbahagialah bagi para remaja yang sederhana. Karena sesuatu yang langka memiliki kemewahaan yang luar biasa.

“Saya memiliki tiga harta. Jaga dan peliharalah: cinta yang dalam, kesederhanaan, ketidakberanian memenangkan dunia. Dengan cinta yang dalam, seseorang akan jadi pemberani. Dengan kesederhanaan, seseorang akan menjadi dermawan. Dengan ketidakberanian memenangkan dunia, seseorang akan menjadi pemimpin dunia”
(Lao-tzu, Filsuf China)

Jadi, bagaimana menurut anda? Simplicity: Prestige Or The Need??
Kalau boleh saya mengartikan dengan bahasa Saya sendiri, ” Kesederhanaan itu adalah ketika kita menginginkan sesuatu didasarkan rasa butuh bukan dari rasa gengsi. ”
Bilamana para pemimpin hidup secara sederhana didalam kekayaan dan kekuasaan mereka, akankah korupsi masih ada di Indonesia? menurut Saya Korupsi tak akan menguasai mereka. Tetapi kalau masih ada korupsi di Indonesia dengan pemimpin yang sederhana, seperti bang Oma bilang, “Sungguh TERLALU..!!”

Sudah dulu belajar bercerita tentang kesederhanaan, pastinya Anda memiliki pikiran sendiri tentang kesederhanaan, karena kesederhanaan tak cukup dilihat dari satu angle saja.
Namun ingat: Jangan katakan semua yang kamu ketahui, tetapi katahuilah apa yang kamu katakan, dan lakukan!!!
Jangan menunggu sampai harta dan kekayaanmu diambil oleh-Nya, baru kamu terpaksa melakukan kehidupan sederhana itu karena ketidakmampuanmu.

sederhana ……..sederhana ……..
sederhana ……..sederhana ……..SEDERHANAAAAAA……..

–<<<>>>–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s