Menyucikan Jiwa ( Pilihan Mutiara Nasihat Ibnu Qayyim Al Jauziyyah رحمه الله )

Muqaddimah

Segala puji bagi Allah yang mengampuni dosa-dosa, menerima taubat hamba-Nya, dan amat pedih siksa-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Shalallahu’alaihi wasallam yang dengan (dakwah)nya Allah membuka pintu bagi orang-orang yang ber­taubat, begitu pula dengan keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang setia mengikuti beliau hingga hari kiamat.

Amma ba’du

Inilah uraian yang singkat, sedikit bila dilihat jumlah teori ilmiahnya, akan tetapi begitu urgen dilihat dari kebutuhannya. Karena ia adalah jalan ulama yang ditempuh bagi manhaj ahlus sunnah wal jama’ah dalam hal perangai, mengobati jiwa dan menyucikannya hingga tercapai hakikat takwa dan cahaya ma’rifah. Ini adalah ringkasan dari perkataan seorang pakar dalam hal ruhiyah, penyakitnya, mendeteksi dan sampai pada pengobatannya, yakni Ibnu Qayyim Al-]auziyah تعالي رحمه الله. Kami telah menyusun perkataan beliau رحمه الله menjadi beberapa bahasan, kemudian masing-masing bahasan kami beri judul sesuai kandungan materinya agar pembaca tidak salah persepsi ataupun salah pengertian.

Tanda-tanda Kebahagiaan

Imam Ibnu Al-Qayyim رحمه الله menyebut­kan bahwa indikasi kebahagiaan seorang hamba ada tiga perkara. Yakni, jika diberi nikmat maka ia bersyukur, jika diuji dengan musibah dia bersabar dan jika dia berdosa maka segera memohon ampun.

Beliau berkata, “ketiga perkara tersebut adalah indikasi kebahagiaan seorang hamba, tanda-tanda bahwa ia mendapat keberuntungan di dunia dan di akherat. Seorang hamba tidak akan stabil posisinya di antara tiga hal tersebut. Dan seorang hamba akan senantiasa turun naik derajatnya dalam tiga kondisi tersebut.

Syukur Terhadap Nikmat

Nikmat-nikmat Allah Ta’ala melimpah ruah, sedangkan pengikatnya adalah syukur. Syukur dibangun di atas tiga rukun, yakni: menga­kuinya di dalam bathin, menyebutnya secara dhahir dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai de­ngan ridha Pemberinya. Jika seseorang melakukan hal itu, berarti dia telah bersyukur kendati terkadang ada kekurangan dalam mensyukurinya.

Sabar Menghadapi Bala’

Terhadap ujian dari Allah yang menimpa seorang hamba, wajib baginya untuk bersabar dan merelakannya.

Adapun rukun sabar adalah menahan jiwa dari perasaan jengkel terhadap takdir yang menimpa dirinya, mencegah lisan mengeluh dan menjaga anggota badan dari berbuat maksiat seperti menampar pipi, merobek baju, menjambak rambut (karena histeris) dan semisalnya.

Maka ruang lingkup sabar berkisar pada tiga rukun tersebut, jika seorang hamba menegakkan sebagaimana mestinya, niscaya ujian akan berubah menjadi anugerah, bala’ menjadi karunia dan benci menjadi rasa cinta.

Hikmah dari Bala’

Jika Allah Ta’ala menguji hamba-Nya dengan bala’, tidaklah hal itu bertujuan untuk menyeng­sarakan hamba-Nya. Akan tetapi Dia menimpakan bala’ adalah untuk menguji kesabaran dan kesung­guhan ibadahnya. Karena bagi Allahlah ibadah se­orang hamba tatkala berada dalam kesempitan, sebagaimana bagi-Nya pula ubudiyah hamba di kala lapang. Bagi-Nyalah ubudiyah hamba dalam perkara yang tidak ia suka, sebagaimana bagi-Nya pula ubudiyah hamba dalam perkara yang dia suka.

Kebanyakan manusia hanya mempersembahkan ubudiyah dalam hal-hal yang mereka sukai saja, namun bakhil untuk memberikan ubudiyah dalam hal yang tidak mereka suka. Oleh karena itulah ke­dudukan hamba itu bertingkat-tingkat di sisi Allah sesuai dengan tingkatan ubudiyahnya kepada-Nya. Wudhu dengan air dingin dalam suasana yang amat panas adalah ibadah, bermuka manis di hadapan istri cantik yang dicintai adalah ibadah, memberikan nafkah kepadanya, keluarganya dan dirinya sendiri adalah ibadah. Demikian halnya wudhu dengan air dingin di saat suasana yang sangat dingin adalah ibadah, meninggalkan maksiat di saat nafsu sangat menginginkannya bukan karena takut pada manusia adalah ibadah dan menafkahkan hartanya di kala sempit merupakan ibadah. Akan tetapi (kendati sa­ma-sama ibadah) ada perbedaan tingkatan yang jauh antara dua macam ibadah di atas.

Maka barangsiapa mampu menghamba kepada Allah dalam dua keadaan tersebut, menegakkannya dikala benci dan cinta, maka dia akan memperoleh apa yang difirmankan Allah:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.” (QS Az-Zumar: 36)

Kecukupan yang sempurna didapat dengan ubu­diyah yang sempurna, kekurangan disebabkan pula karena kurangnya sifat ubudiyah. Maka barang­siapa yang mendapatkan kebaikan hendaknya me­muji Allah, dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, janganlah mencela melainkan kepada di­rinya sendiri.

Godaan Syetan

Mereka itulah hamba-hamba-Nya yang tiada kekuatan bagi musuh untuk menguasainya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya hamba-hamba-ku tidak ada kekua­saan bagimu (iblis) terhadap mereka.” (QS Al-Hijr: 42)

Karena musuh Allah Iblis mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak akan menyerahkan hamba-Nya kepadanya, dan tidak akan memberikan kekuatan untuk menguasai mereka, maka Iblis berkata:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS Shaad: 82-83).

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقاً مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ. وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akherat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu .” (QS Saba’: 20, 21)

Allah tidak akan memberikan jalan bagi musuh-musuh-Nya untuk menguasai hamba-hamba-Nya yang beriman, karena mereka berada dalam pe­meliharaan, perlindungan dan penjagaan-Nya. Jika musuh mampu memangsa salah satu di antara ham­ba-Nya, maka hal itu seperti layaknya pencuri me­nyergap seseorang yang lengah, hal ini adalah perkara yang wajar. Karena seorang hamba ter­kadang terjerumus ke dalam kelalaian, syahwat dan marah. Syetan masuk melalui tiga pintu tersebut, kendati seorang hamba telah berjaga-jaga, namun ada saat di mana ia lengah, mengikuti syahwat dan marah. Adam, nenek moyang manusia adalah makh­luk yang paling lembut, paling cemerlang akalnya dan paling kokoh, namun demikian musuh Allah ber­hasil pula menjerumuskan ke tempat yang dia ke­hendaki. Lantas bagaimana pendapat anda terhadap seseorang yang tingkat akalnya dibandingkan Adam laksana buih dalam lautan?

Nikmat Dibukanya Pintu Taubat

Taubat adalah penyesalan. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya maka akan dibukakan baginya pintu-pintu taubat, penyesalan dan kekecewaan, merasa hina di hadapan Allah, fa­kir di hadapan-Nya, memohon pertolongan-Nya, tulus kembali kepada-Nya, terus inenerus tadharru’, berdo’a, taqarrub kepada-Nya dengan segala kebaik­an semaksimal mungkin yang dapat ia kerjakan, hingga keburukan yang telah ia kerjakan menjadi sebab baginya untuk mendapatkan rahmat (karena ia mau bertaubat). Sampai-sampai musuh Allah (syetan) berkata, “duhai seandainya dahulu aku tidak menggodanya dan menjerumuskannya ke dalam dosa..!” Inilah maksud perkataan sebagian salaf, “sesungguhnya ada seorang hamba yang ber­buat dosa namun ia masuk jannah karenanya, dan ada seorang hamba yang berbuat baik namun ia masuk neraka karenanya.” Orang-orang bertanya, “bagaimana hal itu bisa terjadi?” Beliau menjawab, “seorang hamba melakukan dosa namun kemudian meneteslah air matanya karena takut, khawatir, me­nangis karena menyesal dan malu kepada Allah Ta­’ala. Dia menundukkan kepalanya di hadapan Allah, seakan hatinya pecah, hingga dosa yang dia kerjakan menjadi sebab baginya untuk mendapatkan keba­hagiaan dan kesuksesan. Sehingga dosa yang ia ker­jakan (lalu dia bertaubat) itu lebih bermanfaat dari banyaknya ketaatan yang dapat menyebabkan da­tangnya kebahagiaan seorang hamba dan keberuntungannya. Maka dosa tersebut menjadi sebab ba­ginya untuk masuk jannah.

Bahaya Ujub dan Ghurur

Adapun seseorang yang melakukan kebaikan lalu dengannya ia membangga-banggakan di hadapan Allah, berlaku takabbur dengannya, pa­mer, ujub dan membesar-besarkannya, dia berkata, “aku telah mengerjakan, aku telah mengerjakan” kemudian menyebabkan dirinya berbangga dan som­bong, menonjolkan diri dan membesar-besarkan amalnya hingga akhirnya ia binasa karenanya. Jika Allah menghendaki orang ini baik, maka Allah akan memberikan bala’ kepadanya dengan sesuatu yang akan menghancurkan kesombongannya, membuat lehernya tertunduk, dan merasa hina di hadapan-Nya. Namun jika Allah menghendaki selain itu, maka dibiarkannya ia dengan rasa ujub dan kesom­bongannya, dan jika Allah membiarkannya, itu per­tanda ia akan binasa.

Tanda Diberi Taufik

Sesungguhnya orang-orang bijak telah sepakat bahwa taufik berarti Allah tidak menelan­tarkan jiwamu, sedangkan khudzlan adalah Allah Ta’ala menyerahkan jiwamu kepada dirimu sendiri (menelantarkan jiwamu-pent). Maka barangsiapa yang dikehendaki Allah mendapat kebaikan, niscaya Allah membuka baginya perasaan hina di hadapan Allah, senantiasa bersandar kepada Allah, merasa butuh dengan-Nya, menyadari akan aib dan kebo­dohan dirinya, kedzaliman dan pembangkangan­nya. Dalam waktu yang bersamaan dia mengakui akan karunia Allah dan kebaikan-Nya, rahmat-Nya, wujud-Nya, Maha kaya dan segala sifat-Nya yang terpuji.

Seorang yang bijak, berjalan menuju Allah Ta’ala dengan kedua sayap ini, tidak mungkin berjalan me­lainkan dengan keduanya. Manakala hilang salah satu darinya, maka bagaikan burung yang kehi­langan sebelah sayapnya.

Syaikhul Islam berkata, “Seorang yang bijak berjalan menuju Allah di antara dua keadaan yakni mengakui karunia Allah dan menyadari aib diri dan kekurangan amalnya.”

Inilah makna yang terkandung dalam sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم di dalam hadits yang shahih: “Sayyidul istighfar adalah hendaknya seseorang membaca:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, Engkaulah Rabbku, tidak ada ilah yang haq kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu, dan aku berusaha memenuhi janji-Mu semampuku. Aku memohon per­lindungan kepada-Mu dari buruknya apa yang aku kerjakan, aku mengakui nikmat-Mu atasku, dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguh­nya tiada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.” (HR. Al-Bukhari).

Terkumpullah dalam hadits nabi tersebut “aku mengakui nikmat-Mu atasku, dan aku mengakui dosaku”, yakni mengakui nikmat Allah dan mengakui aib diri­nya dan kekurangan amalnya.

Merasakan nikmat akan menumbuhkan kecinta­an, pujian, dan rasa syukur kepada Pemberi nikmat dan kebaikan. Sedangkan mengakui aib dirinya dan kekurangan amalnya akan menumbuhkan rasa rendah, fakir di hadapan Allah dan bertaubat pada setiap kesempatan.

Inti Ibadah

Inti ibadah terletak pada dua kaidah dasar, yakni hubbun kamil (kecintaan yang sempurna) dan dzullun taam (perasaan rendah secara sempurna).

Kedua asas tersebut tergantung kepada dua asas yang sebelumnya. Yakni merasakan nikmat/karunia yang akan menimbulkan kecintaan dan merasakan aib dan kekuarangan amalnya yang akan menim­bulkan perasaan rendah secara sempurna. Jika se­orang hamba membangun kepribadiannya di jalan Allah dengan dua landasan tersebut, niscaya musuh tidak akan berhasil mengalahkannya, kecuali jika ia dalam keadaan lengah dan lalai, itupun kemudian Allah عزّوجلّ akan segera memenangkan musuhnya kem­bali, dan ia mendapatkan miliknya kembali dengan rahmat-Nya.

Sarana-sarana yang Meluruskan Hati

Sesungguhnya seseorang hanya dapat lurus de­ngan lurusnya hati dan anggota badan. Ada­pun lurusnya hati disebabkan oleh dua faktor:

Pertama, hendaknya kecintaan kepada Allah lebih diutamakan daripada kecintaan kepada apapun selain-Nya. Jika bertentangan antara kecintaan kepada Allah dengan kecintaan yang selain-Nya maka harus dimenangkan kecintaannya kepada Allah dari yang selain-Nya, kemudian mengerjakan apa-apa yang menjadi tuntutannya. Alangkah mudahnya klaim, dan alangkah sulitnya mewujudkannya dalam amal­an, “tatkala diuji barulah kelihatan mana orang yang mulia, mana pula yang hina.”

Betapa banyaknya manusia yang lebih menda­hulukan kecintaannya kepada dirinya sendiri, hawa nafsunya, pembesarnya, pemimpinnya, syaikhnya atau keluarganya dibanding dengan kecintaannya kepada Allah Ta’ala. Dia tidak menaruh rasa cinta­nya kepada Allah di hatinya dengan sepenuh cinta, tidak pula mendominasi di hatinya. Sunnatullah ba­gi orang yang memiliki keadaan seperti ini, maka Allah akan menjadikannya dibuat susah oleh sesua­tu yang dia cintai, dan akan sulit baginya untuk men­dapatkan apa yang dia cintai. Ia tidak akan menda­patkan apa-apa selain kesusahan dan kesulitan, se­bagai balasan baginya karena ia telah mendahulu­kan hawa nafsunya, atau hawa nafsu makhluk yang diagungkan dan dicintainya melebihi kecintaannya kepada Allah Ta’ala.

Kedua, sarana yang dapat meluruskan hati ada­lah mengagungkan (memperhatikan) perintah dan larangan, dan hal itu dilandasi oleh pengagungan terhadap Yang memerintah dan melarang (yakni Allah-pcnt). Karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencela orang yang tidak mengagungkan perintah dan larangan-Nya sebagaimana firman-Nya:

مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَاراً

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS Nuh: 13)

Para ulama menafsirkannya dengan “mengapa­kah kalian tidak takut akan keagungan Allah Ta’ala?”.

Hakikat Mengagungkan Perintah dan Larangan

Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam tentang indikasi mengagung­kan perintah dan larangan:

“Yakni tidak menyalahinya dengan meremehkan­nya dan tidak pula menyalahinya dengan melewati batas dari yang telah ditetapkan, dan tidak memba­wa keduanya sebagai sumber penyakit yang akan melemahkan ketundukan.”

Maksud dari kalimat beliau adalah bahwa ting­katan pertama dalam mengagungkan Allah عزّوجلّ ada­lah dengan mengagungkan perintah dan larangan-Nya. Yang demikian itu karena seorang mukmin ber-ma’rifah kepada Rabbnya Ta’ala melalui risalah yang dibawa oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم bagi seluruh manusia. Se­bagai tuntutannya adalah tunduk terhadap perintah dan larangan-Nya. Yang demikian itu tidak akan te­realisasi melainkan dengan mengagungkan perintah Allah عزّوجلّ, lalu mengikutinya dan mengagungkan la­rangan-Nya lalu menjauhinya. Sehingga perhatian seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah adalah indikasi akan pengagungannya kepada Yang memerintah dan melarang (yakni Allah). Maka sesuai dengan kadar pengagungan inilah seseorang dapat berbuat kebajikan sebagai realisasi dari iman, pembenaran, lurusnya aqidah dan kebenciannya ter­hadap nifak akbar.

Karena terkadang seseorang melakukan perintah namun karena ingin dilihat orang, ingin meraih ke­dudukan dan kehormatan di tengah-tengah mereka. Begitupula dia meninggalkan larangan namun se­mata-mata karena takut jatuh kewibawaannya di hadapan manusia, takut penderitaan dunia seperti hukuman yang telah ditetapkan syari’at bagi yang melanggarnya. Apa yang dikerjakan tersebut bu­kanlah wujud dari pengagungannya terhadap pe­rintah dan larangan, bukan pula terhadap Yang memberi perintah dan larangan.

Indikasi Mengagungkan Perintah Allah

Tanda-tanda mengagungkan perintah adalah:
1. Menjaga waktu dan batasan-batasannya
2. Memperhatikan rukun-rukun, kewajiban dan kesempurnannya
3. Antusias untuk memperbagus amal dan menunaikan tepat pada waktunya
4. Bersegera menunaikannya tatkala telah datang kewajibannya
5. Gelisah, kecewa dan sedih manakala ke­hilangan sebagian hak-hak amalnya.

Mengagungkan Perintah Shalat

Sebagaimana orang yang kecewa manakala kehilangan shalat berjama’ah, dia menyadari bahwa ketika dia shalat sendirian maka ia kehila­ngan 27 derajat. Demikian halnya jika ia tidak dapat mengerjakan di awal waktu yang diridhai oleh Allah, atau tidak berada di shaff terdepan yang di sanalah Allah mengucapkan shalawat atasnya dan malaikat yang berada di kanannya. Sekiranya seorang hamba mengetahui fadhilahnya niscaya dia akan berebut dan berundi untuk mendapatkan shaf terdepan.

Begitu pula dengan orang yang kehilangan rasa khusyuk tatkala shalat dan kehadiran hati tatkala berdiri di hadapan Allah Ta’ala. Karena khusyu’ adalah ruh dan inti shalat. Shalat tanpa disertai khu­syuk dan hadirnya hati, laksana jasad yang mati tak bernyawa. Bukankah seseorang merasa malu mana­kala memberikan hadiah kepada orang lain yang setara dengannya berupa budak yang telah mati atau jariyah yang telah menjadi mayit? Lantas bagaimana halnya jika ia memberikan hadiah seperti ini kepada raja, pemimpin dan semisalnya? Begitu pula, shalat yang tak disertai khusyuk, kehadiran hati dan membulatkan harapannya kepada Allah Ta’ala laksana seorang budak yang telah menjadi diha­diahkan kepada seorang raja. Oleh karena itulah Allah tidak menerima shalatnya. Kendati telah gugur kewajibannya di dunia, namun ia tidak mendapatkan pahala karenanya. Karena tiada pahala shalat bagi seorang hamba melainkan tatkala dia berakal (memikirkan), sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab-kitab As-Sunan dan Musnad Imam Ahmad dari Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba melakukan shalat, namun tidak dicatat pahala baginya melainkan hanya separuhnya, atau sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya…hingga sepersepuluhnya” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Tingkatan Keutamaan Tergantung Apa yang Ada di Dalam Hati

Sepatutnya diketahui bahwa segala amal yang dikerjakan manusia memiliki peringkat keutamaan di sisi Allah Ta’ala sesuai dengan tingkat keutamaan hati berupa iman, ikhlas, mahabbah (kecintaan) dan hal-hal yang mengiringinya. Amal yang sempurna ini akan menghapuskan dosa-dosa secara sempurna, kekurang-sempurnaannya tergantung pula dengan kekurang-sempurnaan amal-amal tersebut. Dengan dua kaidah ini maka didapatkanlah solusi banyak problem. Dua kaidah tersebut adalah:

1. Tingkat keutamaan amal tergantung dengan apa-apa yang ada di hati berupa hak-hak iman.
2. Terhapusnya (dosa) amal keburukan tergan­tung pula dengan kesempurnaan dan keku­rangannya.

Hal-hal Yang Merusak Amal

Hal yang dapat membatalkan amal dan merusaknya terlalu banyak untuk dibatasi, bu­kan persoalan bagaimana pelaksanaan amal, akan tetapi persoalannya adalah bagaimana seseorang menjaga amal dari apa-apa yang dapat merusak dan membatalkan amalnya.

Riya’ (beramal untuk dilihat /pamer) -sekalipun sedikit- dapat membatalkan pahala amal, sedangkan pintu-pintu riya’ terlalu banyak untuk dibatasi.
Amal yang tidak mengikuti sunnah juga menye­babkan amalnya bathil.
Membangga-banggakan di hadapan Allah Ta’ala dengan hatinya juga dapat merusak amal.
Begitu pula mengungkit-ungkit sedekah, amal ke­baikan dan amal shalih dapat merusak amal, seba­gaimana firman Allah سبحانه و تعالي:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghi­langkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nye-butnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS Al-Baqarah: 264)

Kebanyakan menusia, mereka melakukan kebu­rukan yang dapat menghapus amal baiknya. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahal) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS Al-Hujurat: 2)

Maka Allah mengancam orang-orang mukmin dengan batalnya amal karena mengeraskan suara di hadapan Rasulullah صلي الله عليه وسلم sebagaimana mereka me­ngeraskan suara sebagian kepada sebagian yang lain, ini tidaklah termasuk riddah (kemurtadan), akan maksiat yang dapat membatalkan amal se­dangkan orang yang mengerjakannya tidak menya­darinya. Lantas bagaimana halnya dengan orang yang lebih mengutamakan orang lain dari pada Rasulullah dalam hal petunjuk, jalan, perkataan dan selainnya? Bukankah hal ini lebih layak dapat membatalkan amalan sedangkan orang yang mengerjakannya ti­dak menyadarinya? Dari sini nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ العَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat ashar maka batallah amalnya.” (HR Al-Bukhari)

Maka, mengetahui perkara-perkara yang meru­sak amal, baik tatkala di tengah beramal maupun apa-apa yang membatalkan amal setelahnya adalah perkara yang sangat penting bagi seorang hamba. Lalu hendaknya dia berusaha untuk beramal dan waspada terhadap apa-apa yang berpotensi mem­batalkan amal tersebut.

Telah disebutkan dalam sebuah atsar yang telah populer bahwa seorang hamba telah beramal dengan sembunyi-sembunyi, tidak ada yang mengetahui satupun selain Allah Ta’ala, namun setelah itu dia men­ceritakannya kepada orang lain. Sehingga yang ta­dinya amal sembunyi-sembunyi menjadi terang-te­rangan (karena dia menceritakkannya), jika dia men­ceritakannya dengan maksud sum’ah (supaya amal­nya didengar orang lain-pent), mengharapkan ke­dudukan dan kehormatan di sisi selain Allah karenaya, maka batallah amalnya sebagaimana batalnya amal yang tatkala dia kenakan juga mengharapkan yang serupa.

Perebutan Antara Kebaikan dan Keburukan

Jika ditanyakan, “manakala ia kemudian ber­taubat (dari sum’ah) apakah pahala amalnya bisa kembali?

Menurut hemat saya, -wallahu a’lam- bahwa kebaikan itu berhadap-hadapan dan berebut dengan keburukan. Sehingga mana yang menang itulah yang akan menguasai dan akan mengusir yang kalah. Hingga seakan-akan yang kalah tersebut tidak per­nah ada. Jika kebaikan hamba yang lebih dominan, maka banyaknya kebaikan akan mampu mengusir keburukannya. Jika seseorang bertaubat dari keja­hatan, lalu dengan taubat tersebut mendatangkan kebaikan yang banyak, selagi dia bertekad untuk bertaubat dan sah taubatnya, muncul dari hatinya yang paling dalam, maka hal itu akan membakar keburukan-keburukan yang telah lampau. Bahkan seakan keburukan tersebut tidak pernah ada, karena orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak pernah melakukan dosa.

Dosa Adalah Penyakit Hati

Untuk memperjelas keterangan tersebut adalah sebagai berikut, sesungguhnya keburukan dan dosa adalah penyakit hati, sebagaimana demam atau luka adalah penyakit badan. Seorang yang sakit ma­nakala sembuh dari sakitnya secara total maka kem­balilah staminanya dan bahkan seakan ia tidak per­nah lemah (sakit) sedikitpun.

Stamina (kekuatan) sebelum sakit adalah perum­pamaan dari kebaikan, sedangkan sakit adalah se­bagai perumpamaan dosa, kemudian sembuh dari sakit adalah perumpamaan taubat, kedua perum­pamaan ini adalah sama. Sebagaimana seorang yang menderita sakit (jasadnya) ada yang tidak pulih kekuatannya seperti sedia kala karena tingkat ke­sembuhan yang lemah, terkadang ada pula yang da­pat pulih seperti sedia kala karena adanya faktor-faktor yang mendukungnya. Tubuhnya akan kem­bali sempurna seperti semula. Bahkan di antara me­reka ada yang keadaannya lebih sehat, lebih kuat dan lebih lincah dibandingkan sebelum sakit, karena begitu kuatnya pengaruh penyembuhannya dan tersingkirlah hal-hal yang dapat menyebabkan kelemahan dan sakit. Hingga terkadang rasa sakit tersebut justru menjadi sebab datangnya kesehatan baginya. Sebagaimana perkataan seorang penyair:

Terkadang celamu mendatangkan pujian
Terkadang sakit menjadi sebab kesembuhan
Begitu pula, keadaan seorang hamba setelah bertaubat berada dalam tiga tingkatan tersebut.

Tanda Memperhatikan Larangan

Adapun indikasi mengagungkan (memperhatikan) larangan Allah adalah:
1. Bersungguh-sungguh untuk menjauhi tem­patnya, sebab-sebab dan apa-apa yang dapat men­jerumuskan ke dalamnya. Juga menjauhi segala sa­rana yang mendekatkan kepadanya. Sebagaimana seseorang yang lari dari tempat yang terdapat gam­bar-gambar yang bisa menjerumuskan ke dalam fitnah karena takut terkena fitnah karenanya.
2. Marah karena Allah jika apa-apa yang dila­rang Allah dilanggar.

Tanda Mengagungkan Perintah Dan Larangan

1. Hendaknya tidak menyalahinya dengan cara meremehkan dan menganggap enteng, tidak pula menyalahinya dengan melampaui batas dari yang telah ditetapkan. Karena yang sedang ditempuh adalah jalan lurus yang akan menyampaikan kepada Allah bagi yang menempuhnya.
2. Hendaknya tidak menyikapi perintah dengan sesuatu alasan yang dapat melemahkan ketundukan dan kepasrahannya terhadap perintah dan hukum Allah Ta’ala, mengikuti apapun yang Dia perin­tahkan, baik dia telah mengetahui hikmah dari pe­rintah dan larangannya atau belum.

Allah Maha memberi taufik, tidak ada Ilah yang haq kecuali Dia dan tidak ada Rabb selain-Nya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s