ANTUM HARUS TAU TTG “AGENDA YAHUDI DALAM MENAKLUKAN DUNIA YANG TELAH BOCOR KELUAR”…???!!!

“Kemenangan dapat kita capai dengan lebih mudah berdasarkan kenyataan bahwa dalam hubungan dengan masyarakat yang kita inginkan, kita selalu bekerja pada simpul-simpul yang paling sensitif pada pikiran manusia, yaitu pada urusan dana, pada aspek nafsu syahwat manusia, pada keserakahan akan materi yang tidak pernah dapat dipuaskan; dan setiap kelemahan manusia tadi bila diamati satu persatu cukup untuk melumpuhkan daya prakarsa, karena semuanya itu terenggut dari diri mereka, yang pada dasarnya menjadi motor pendorong kegiatan kehidupan mereka”.
(‘Protokol Zionisme yang Pertama’)

Pengenalan kepada ‘Protokol’

Dokumen yang paling banyak disebut-sebut oleh mereka yang tertarik pada teori ‘Kekuasaan Mendunia Kaum Yahudi’ ialah sebuah dokumen yang disebut ‘Protokol’, yang terdiri dari 24 berkas yang dikenal sebagai ‘Protokol dari para Pinisepuh Zion yang Bijak’ (“The Protocols of the Learned Elders of Zion ‘).

Merujuk kepada definisi dari Theodore Herzl ten tang bangsa Yahudi sebagai “suatu perikatan yang bersatu karena adanya musuh bersama”. Yang dimaksud olehnya tentang “musuh bersama” tidak lain ialah dunia non-Yahudi di luar mereka. Apakah kaum Yahudi yang menyadari bahwa masyarakatnya seperti yang dinyatakan oleh, Theodore Herzl, yang pada hakekatnya adalah satu bangsa, ,akan bersedia tetap bercerai-berai (‘dispersed’) menghadapi kennyataan dunia yang ada? Nampaknya sikap yang diambil orang Yahudi tidak akan seperti itu. ‘Protokol Zionisme’ membantu mereka memberikan jawaban dan arahan kepada pertanyaan ‘Apakah kaum Yahudi memiliki suatu sistem mendunia yang terorganisasi’? ‘Apa saja kebijakan yang berkaitan dengan hal itu’? ‘Bagaimana kebijakan itu diimplementasikan’ ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas mendapat sorotan penuh di dalam ‘Protokol’. Siapa pun yang menyusunnya, ia memiliki pengetahuan tentang kodrat manusia, tentang sejarah, tentang seni kenegaraan. ‘Protokol’ adalah sebuah hasil pemikiran yang memukau, karena nyaris sempurna, dan menakutkan setelah mengetahui apa sasaran yang dirumuskannya, yang akan dicapai dengan menghalalkan segala cara. Kalau sungguh hanya seorang yang menyusunnya, ia akan menjadi fiksi yang terIalu menakutkan, menjadi bahan yang akan terus berIanjut bagi berbagai spekulasi, penulisnya terlalu dalam pengetahuannya mengenai sumber-sumber kehidupan yang penuh rahasia yang digunakannya tiada lain kecuali untuk menipu.

Sanggahan kaum Yahudi terhadap ‘Protokol’ sejauh ini mencoba membuat orang berpikir dokumen itu berasal dari Rusia. Tetapi kemungkinan ‘Protokol’ itu datang melalui Rusia sekali pun kecil sekali. Dari gaya bahasa dan substansinya ‘Protokol’ tidak ditulis oleh seorang Rusia, tidak juga dalam bahasa Rusia, apalagi dipengaruhi oleh keadaan di Rusia. Diduga ia mendapatkan jalannya ke Rusia, dan diterbitkan disana kira-kira pada tahun 1905 oleh profesor Nilus, yang mencoba menterjemahkan apa yang terjadi di Rusia berdasarkan peristiwa-peristiwa yang diacu di dalam dokumen ‘Protokol’ .

Terbitan itu dibaca oleh para diplomat di berbagai tempat di dunia dalam bentuk manuskrip. Dimana saja bila orang Yahudi mampu melakukannya mereka akan menyanggah atau bahkan menghancurkannya, kadangkala dengan tindakan yang sangat ekstrim. Kegigihan mereka menyanggah keterkaitan mereka dengan ‘Protokol’ justru menantang keingin-tahuan orang. Kebohongan tidak akan bisa bertahan lama, kekuatannya cepat menyusut. ‘Protokol’ makin ditutup-tutupi makin menjadi lebih hidup daripada sebelumnya. Ia menyusup bahkan ke tempat-tempat yang lebih tinggi. Ia memaksa terbentuknya sikap investigatif yang lebih sungguh-sungguh daripada sebelumnya. ‘Protokol’ adalah sebuah program mendunia – tidak ada keraguan tentang hal itu – program-programnya cukup jelas dalam dokumen itu.

kepentingan masyarakat untuk mengetahuinya bukan pada pertanyaan apakah “seorang kriminal atau seorang gila” yang menyusun program seperti itu, tetapi persoalannya bila gagasan itu berhasil dituangkan, programnya akan mampu mendapatkan sarana untuk mencapai sasaran-sasaran khusus yang dinilainya paling penting. Dokumen itu sendiri tidak penting, tetapi kondisi dan sasaran yang diperbincangkannya memiliki derajat kepentingan yang sangat tinggi.1

‘Protokol’ itu menarik perhatian kalangan luas di Eropa, karenatelah menimbulkan badai pendapat di Inggeris, meski diskusi tentang hal itu di Amerika Serikat relatif terbatas. Siapa yang pertama kali memberikan dokumen itu dengan payung ‘Para Pinisepuh Zion yang Bijak’ tidak pernah terungkap. Barangkali hal itu dimaksudkan untuk menghilangkan kecurigaan yang merunut kepada sumber-sumber Yahudi tanpa perlu merusak atau menghilangkan bagian-bagian penting dari dokumen tersebut, dan tetap mempertahankan semua pokok pikiran utama mengenai program yang paling komprehensif bagi penguasaan dunia yang pernah diketahui oleh publik.

Namun untuk dapat menghilangkan petunjuk yang dapat mengacu kepada sumber-sumber Yahudi, (para) perumusnya perlu mengeluarkan sejumlah kontradiksi, yang tidak ada di didalam ‘Protokol’ pada bentuknya yang sekarang ini. Tujuan dari rencana yang terungkap di dalam ‘Protokol’ ialah untuk menumbangkan seluruh kekuasaan yang ada agar dapat membangun satu kekuasaan baru yang didasarkan pada otokrasi. Rencana itu tidak mungkin sebuah produk dari suatu klas yang sedang berkuasa yang telah memiliki kekuasaan di dalam tangannya, meskipun dapat sebagai prodllk dari kaum anarchis. Tetapi kaum anarchis tidak pernah menyuarakan sistem otokrasi sebagai tujuan akhir perjuangan mereka. Para perumusnya pernah diduga berasal dari kaum subversif Perancis yang pernah ada pada masa Revolusi Perancis di bawah pimpinan Duc d’Orleans sebagai pemimpin kaum ‘illuminatus’ Perancis, tetapi spekulasi ini juga menimbulkan kontradiksi dengan kenyataan bahwa kaum ‘subversif Perancis’ itu sudah lama tiada, sementara kenyataannya menunjukkan program yang dinyatakan di dalam ‘Protokol’ itu masih terus dilaksanakan sampai dengan hari ini, bukan hanya di Perancis, tetapi juga di seluruh Eropa, dan yang paling kentara adalah di Amerika Serikat.

Dalam bentuknya yang sekarang justeru makin memperlihatkan bukti-bukti sebagai dokumen yang otentik, tanpa memperlihatkan kontradiksi di dalamnya. Dugaan bahwa dokumen itu berasal dari kaum Yahudi makin memperlihatkan kebenarannya berdasarkan konsistensi rencana yang diprogramkan oleh ‘Protokol’.

Jika dokumen ini benar-benar palsu sebagaimana yang selalu dikemukakan oleh kaum Yahudi, para pemalsu itu tetu akan berusaha benar membuat sumber-sumber Yahudi tampak dengan jelas, sehingga anti fitnah anti-Semit mereka akan memberi buah. ‘Protokol’ hanya pernah menyebut kata ‘Yahudi’ dua kali di dalam dokumen itu. Bila seseorang membaca lebih cermat, ia akan sampai pada kesimpulan adanya rencana untuk membangun Otokrasi Dunia, dan barulah sesudah itu dapat diterka garis silsilah dari sang penulisnya.

Namun, dari isi dokumen itu tidak diragukan lagi kepada siapa program itu ditujukan. Program itu tidak ditujukan kepada kalangan aristokrasi tertentu. Juga tidak ditujukan kepada pemilik modal tertentu. Secara definitif ada suatu daftar yang disusun meliputi kaum aristokrasi, pemodal, dan pemerintah, yang menjadi sasaran pelaksanaan dari rencana tersebut. Program itu ditujukan kepada penduduk dunia yang disebut kaum ‘non-Yahudi’ (‘Gentiles’), karena kata non-Yahudi itu disebutkan berkali-kali yang menjadi sasaran dari dokumen itu. Sebagian besar dari tipe rencana-rencana ‘liberal’ yang merusak itu ditujukan kepada daftar orang yang dikategorikan sebagai penolong; rencana ini ditujukan untuk men-degenarasi-kan masyarakat agar mereka direduksi kepada kondisi kebingungan, sehingga lebih mudah dimanipulasi. Gerakan rakyat yang dari jenis ’liberal’ akan didorong ke depan, semua falsafah yang merusak di bidang , agama, ekonomi, politik, dan kehidupan rumah-tangga, akan disemai dan dikompori, dengan maksud untuk men-disintegrasi-kan solidaritas sosial, dan suatu rencana definitif, melalui kekacauan itu dijalankan; program itu dimulai tanpa pemberitahuan, dan masyarakat akan dilibatkan ke dalam program destruktif itu bersamaan dengan disebarkannya kepalsuan falsafah tadi.

Rumus pidatonya bukan, “Kami kaum Yahudi akan melaksanakan program ini”, tetapi “Kaum kulit putih Kristen akan dibuat sedemikian rupa untuk memikirkan dan menjalankannya”. Dengan perkecualian pada beberapa hal, pada bagian penutup ‘Protokol’, satu-satunya ras yang secara menyolok disebut-sebut adalah ‘kaum kulit putih Kristen’.

Divergensi Rasial

Untuk menggambarkan petunjuk pertama adanya divergensi rasial dapat ditemukan pada ‘Protokol yang Pertama’ yang mengemukakan sebagai berikut :

“Kualitas luhur yang ada pada masyarakat adalah – kejujuran dan keterbukaan – merupakan peluang penting dalam politik, karena sifat-sifat ini akan melengserkan secara pasti dan meyakinkan, melebihi musuh yang paling kuat sekali pun. Sifat-sifat ini melekat pada kaum non- Yahudi; kita sudah barang tentu tidak boleh dipimpin oleh mereka”.

Di bagian lain,

“Di atas puing-puing reruntuhan aristokrasi kaum non-Yahudi, kita akan membangun aristokrasi dari kalangan klas terdidik kita, dan atas segenap aristokrasi keuangan. Kita telah membangun basis bagi aristokrasi yang baru ini atas dasar kekayaan yang kita kendalikan dan atas dasar ilmu-pengetahuan yang dibimbing oleh kaum bijak kita”.
Lalu,

“Kita akan memaksa menaikkan upah, yang sebenarnya tidak akan memberikan manfaat sedikit pun bagi kaum buruh, karena pada saat yang bersamaan kita akan menaikkan harga-harga keperluan utama, dengan berpura-pura berdalih bahwa semuanya terjadi karena menurunnya hasil pertanian dan peternakan. Kita juga dengan cermat dan dengan sungguh-sungguh harus merusak sumber-sumber produksi dengan menanamkan gagasan anarchie kepada kaum buruh, dan mendorong mereka untuk mengkonsumsi minuman keras, dan dengan itu pada saat yang bersamaan mengambil langkah-langkah untuk mengusir kaum intelektual non-Yahudi untuk meninggalkan negerinya.“

(Seorang pemalsu dengan pikiranjahat anti-Semit dapat saja menulis pikiran semacam ini, tetapi patut dicatat kata-kata semacam ini telah dicetak pada tahun 1905 yang silam, seberkas salinannya ada di British Museum pada tahun 1906, dan dokumen ini telah lama beredar di Rusia jauh sebelumnya). Pikiran di atas tadi masih berlanjut,

“Situasi seperti di atas tidak boleh sampai diketahui secara prematur oleh kaum non-Yahudi, kita harus memasang tirai melalui usaha-usaha seolah-olah gerakan kita untuk membantu klas buruh dan mempromosikan prinsip-prinsip ekonomi yang hebat; untuk maksud itu propaganda yang aktif harus dijalankan dengan menggunakan teori-teori ekonomi kita itu”.

Kutipan-kutipan di atas menggambarkan gaya ‘Protokol’ ketika merujuk pihak-pihak yang terlibat. Dokumen itu menggunakan kata-ganti orang “kita” bagi penulisnya, dan “kaum non- Yahudi” (’Gentiles’) kepada mereka yang sedang diperbincangkan. Hal ini dengan sangatjelas ditemukan dalam ‘Protokol yang Keempat-belas”,

“Dalam divergensi ini antara kaum non-Yahudi dengan kita, dalam kemampuan berpikir dan mengembangkan nalar harus dilihat dengan jelas alasan mengapa kodrat menetapkan kita sebagai “Ummat Pilihan“, sebagai manusia yang memiliki derajat lebih tinggi, yang membedakan kita dengan kaum non-Yahudi yang memilikii hanya naluri dan pikiran khewani. Mereka mengamat, tetapi mereka tidak mampu melihat ke depan, dan mereka tidak mampu menciptakan apa pun (kecuali mungkin hal-hal yang bersifat materiel). Dari sini jelas bahwa Alam sendiri telah mentakdirkan kita untuk menguasai dan membimbing dunia”.

Pernyataan ini merupakan metoda kaum Yahudi membagi ummat manusia sejak awal sejarah. Dunia hanya terdiri dati kaum Yahudii dan kaum non- Yahudi; manusia yang bukan Yahudi termasuk ‘gentile’, atau dalam bahasa Ibraninya ‘goyyim’, yaitu makhluk bukan-manusia dan hanya sederajat dengan binatang. Penggunaan kata ‘Yahudi’ akan lebih jelas digambarkan dalam ‘Protokol yang Kedelapan’,

“Untuk sementara waktu sampai saat yang cukup aman tiba untuk memberikan jabatan-jabatan pemerintahan kepada saudara-saudara kita kaum Yahudi, kita akan mempercayakan jabatan-jabatan itu kepada mereka yang ‘track-record’-nya dan wataknya sedemikianl rupa, yaitu adanya jurang yang lebar antara mereka dengan rakyatnya”.

Praktek ini dikenal dengan sebutan “front non-Yahudi” yang diterapkan secara luas di dunia keuangan dewasa ini untuk menutup-nutupi bukti adanya kontrol keuangan oleh kaum bankir Yahudi. Seberapa jauhnya kata-kata yang tertulis di atas telah berkembang diperlihatkan pada konvensi partai di San Fransisco yang mengusulkan nama Hakim Agung Louis D. Brandeis (seorang Yahudi & pendukung gerakan Zionisme) pada masa pemerintahan Franklin D.Roosevelt sebagai kandidat presiden Amerika Serikat. Usulan itu bukan tanpa dasar. Dengan pengusulan itu alam pikiran publik dikondisikan. untuk kian biasa menerima orang Yahudi pada jabatan-jabatan publik – yang akan menjadi langkah kian dekat dibanding dengan tingkat pengaruh yang dapat dicapai oleh kaum Yahudi dewasa ini – untuk menduduki posisi tertinggi di pemerintahan Amerikn Serikat. Sebenarnya sekarang ini tidak ada lagi fungsi-fungsi dari presiden Amerika Serikat pada bidang-bidang yang teramat penting dan sensitif dimana orang Yahudi tidak diberikan peran yang menentukan baik secara terbuka maupun secara tertutup. Jabatan yang aktual akan memperbesar kekuasaan sebenarnya tidaklah terlalu penting bagi mereka, tetapi kaum Yahudi tetap mengusahakan hal-hal semacam itu untuk mengikuti agenda yang diberikan oleh “Protokol“

Perkara lain yang dapat dicatat oleh para pembaca ‘Protokol’ ialah tidak ditemukan sama sekali nada menekan dalam dokumen tersebut. Dokumen itu tidak berisi propaganda. Isinya tidak berusaha untuk merangsang ambisi atau kegiatan mereka yang dijadikan alamat tujuan. Kata-katanya dingin, lugas, laksana bunyi kalimat-kalimat dalam sebuah kontrak hukum, dan berbicara seadanya, laksana membicarakan sebuah daftar statistik. Tidak ada kalimat yang berbunyi misalnya, “Marilah kita bangkit, saudara-saudara!”, atau semacamnya. Tidak ada teriakan histeria “Ganyang Gentile”. “Protokol’ kesimpulannya memang disusun oleh orang Yahudi dan ditujukan bagi orang Yahudi; atau kalau ia memuat prinsip-prinsip program Penguasaan Dunia oleh kaum Yahudi, dokumen itu tidak ditujukan bagi mereka yang berkepala panas, tetapi disiapkan dan dikaji dengan teliti untuk membangun inisiatif kelompok.

Masalah Asal-usul

Para pembela Yahudi selalu bertanya, “Apakah masuk di akal bila memang ada semacam program penguasaan dunia oleh kaum Yahudi, mereka sampai sebodoh itu menuliskan dan menerbitkannya?”. Memang tidak ada bukti dokumen-dokumen ‘Protokol’ itu disampaikan selain dengan cara lisan oleh yang merumuskannya. “Protokol’ sebagaimana yang kini ada di tangan kita nampaknya merupakan hasil catatan dari ceramah-ceramah oleh seseorang yang turut mendengarkannya. Beberapa di antaranya berupa uraian panjang lebar, dan beberapa lagi singkat. Sejak terungkapnya ‘Protokol’ itu diyakini sebagai kumpulan catatan dari ceramah-ceramah yang diberikan kepada siswa-siswa ‘jeshiva’ Yahudi di suatu tempat di Switzerland atau Perancis. Usaha untuk membuatnya seolah-olah itu berasal dari Rusia samasekali luluh dilihat dari sudut pandang, rujukan waktu, dan beberapa indikasi gramatikalnya. Nadanya cocok dengan dugaan bahwa dokumen-dokumen itu merupakan himpunan dari sejumlah ceramah yang diberikan kepada para siswa, karena maksudnya dengan jelas terlihat bukan agar program itu diterima, tetapi untuk memberikan informasi mengenai suatu program yang disajikan dengan nada seolah-olah telah dalam proses yang sedang berjalan. Di dalamnya tidak terdapat himbauan untuk bergabung atau untuk memberikan pendapat. Bahkan secara khusus dinyatakan diskusi dan pendapat tidak diiizinkan.
(“Sementara memberi kuliah kepada kaum non-Yahudi, kita harus menjaga masyarakat dan agen-agen kita dengan ketaatan yang tidak boleh diragukan”. “Rencana administrasi harus memancar dari satu pikiran tunggal.., oleh karena itu, meskipun kita boleh mengetahui rencana aksinya, tetapi kita tidak boleh mendiskusikannya, jika tidak kita akan menghancurkan wataknya yang unik … Karya inspirasi dari pemimpin kita oleh karenanya tidak boleh dilemparkan kepada massa untuk dirobek-robek menjadi serpihan-serpihan, bahkan juga kepada kelompok yang terbatas sekali pun”,) .

Lagipula bila membaca ‘Protokol’ sebagaimana apa adanya, jelas bahwa program yang digariskan dalam ceramah-ceramah itu bukanlah sesuatu yang baru ketika ceramah itu diberikan. Tidak ada bukti yang dapat menguatkan bahwa dokumen-dokumen itu sebagai karya mutakhir. Ada nada tradisi, atau agama, dan dalam isi keseluruhannnya, seakan-akan pikiran-pikiran itu merupakan warisan yang diturunkan dari generasi-ke-generasi melalui medium orang-orang yang secara khusus mendapat kepercayaan dan disumpah untuk itu. Tidak ada catatan temuan baru atau kegairahan yang segar di dalamnya. Yang tetap terlihat adalah sikap yakin dan ketenangan yang telah dikenal dan kebijakan yang juga telah dikonfirmasikan melalui pengalaman dari program yang ada disentuh dua kali di dalam di dalam ‘Protokol’ itu sendiri. Dalam ‘Protokol yang Pertama’ paragraf ini muncul,

“Sejak ‘masa kuno’ kita adalah orang pertama yang meneriakkan kata-kata, ‘Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan’, di antara manusia. Kata-kata itu telah berkali-kali diulang-ulang oleh beo-kampanye pemilihan umum, yang menghimpun orang untuk mendengarkan umpan ini, dengan mana mereka telah meruntuhkan kemakmuran dunia dan kemerdekaan abadi yang sejati. Orang non-Yahudi yang menyangka dirinya pandai dan cerdas tidak mengerti perlambang dari kata-kata tadi; tidak mengamati kontradiksi maknanya; tidak memperhatikan bahwa secara kodrati tidak ada persamaan.”

Rujukan lainnya tentang tuntasnya program ditemukan di dalam “Protokol yang Ketigabelas’,

“Persoalan kebijakan, bagaimana pun juga tidak diizinkan kepada siapa pun juga kecuali mereka yang merumuskan kebijakan itu dan telah mengarahkannya selama berabad-abad ini”.

Apakah kutipan di atas dapat dijadikan rujukan menunjuk kepada organisasi Sanhedrin Yahudi yang sangat rahasia, yang berlanjut terus melalui kasta tertentu dalam masyarakat Yahudi dari generasi-ke-generasi? Lagipula dapat dikatakan bahwa perumus aselinya dan para pengarahnya yang dirujuk disini, dewasa ini bukanlah klas penguasa, karena semua yang dipikirkan oleh program itu secara langsung bertentangan dengan kepentingan kasta seperti itu. Pikiran itu juga tidak dapat merujuk kepada suatu kelompok aristokrasi nasional, karena metoda yang diusulkannya merupakan hal yang justru akan rnembuat kelompok itu tidak-berdaya. Pikiran itu tidak merujuk kepada siapa pun, terkecuali kepada suatu masyarakat yang tidak merniliki pemerintahan yang terbuka; yang akan mendapatkan keuntungan dan tidak akan merugi sedikit pun, dan yang mampu rnenjaga diri mereka tetap utuh di tengah-tengah dunia yang sedang runtuh

Kebodohan Kaum Non- Yahudi

Kritik yang dikemukakan oleh ‘Protokol’ tentang kebodohan kaum non-Yahudi cukup adil. Sulit untuk tidak setuju tentang mentalitas kaum non- Yahudi yang disebut -sebut di dalarn ‘Protokol’, Bahkan di antara pemikir non-Yahudi yang paling cerdas pun telah tertipu menerima seakan-akan ada kemajuan karena dicekokkan oleh suatu sistem propaganda yang sangat cerdik. Memang benar, kadangkala seorang pemikir bangkit untuk mengatakan apa yang dipropagandakan sebagai ilmu-pengetahuan itu sama sekali tidak ada dasarnya. Apa yang disebut sebagai hukum ekonomi, baik yang datang dari pihak konservatif maupun yang radikal, ternyata sarna sekali bukan hukum atau kaidah, tetapi temuan artifisial belaka. Seorang pengamat yang jeli pernah menyatakan bahwa pameran kekayaan dewasa ini bukan karena dorongan alamiah, tetapi secara sistematik mereka dirangsang untuk itu. Hanya sedikit yang menyadari bahwa lebih dari separuh dari apa yang disarnpaikan sebagai “pendapat umurn” tidak lain adalah tepuk-tangan atau sumpah-serapah yang disewa.

Meskipun ada bukti-bukti yang jelas disana sini adanya rekayasa oleh suatu pihak tertentu, namun sebagian besar tidak diperdulikan, tidak pernah ada tindak lanjut untuk menelusuri bukti-bukti itu ke surnbernya. Penjelasan utama keterangan ‘Protokol’ yang memukau banyak negarawan terkemuka dunia selama beberapa dasawarsa ini adalah bahwa dokumen itu sendiri menjelaskan kapan rekayasa itu dimulai dan apa maksudnya. Apakah ‘Protokol’ dipandang sesuatu yang berhubungan dengan kaum Yahudi atau tidak, dokumen itu menjadi semacam alat cuci-otak untuk menggiring masyarakat laksana gerombolan domba yang dipengaruhi oleh sesuatu yang tidak mereka pahami. Yang pasti begitu ‘Protokol’ secara luas diketahui dan dimengerti orang, kecaman yang dilemparkannya kepada non-Yahudi tidak lagi mempunyai arti apa-apa.

Divide et Impera

Apakah ada kemungkinan program ‘Protokol’ yang dilaksanakan akan dapat berhasil? Jawabannya, program itu bahkan pada beberapa bidang sudah berhasil. Banyak tahapannya yang pentmg-pentmg telah menjadi kenyataan. Hanya saja keberhasilan itu tidak boleh sampai menimbulkan ketakutan, karena senjata utama untuk melawan program semacam itu, baik bagian yang sudah dicapai maupun yang belum dicapai, adalah publisitas yang jelas. Biarkan rnasyarakat mengetahuinya, membangkitkan masyarakat, dan mengingatkan masyarakat. Obat untuk melawan program ‘Protokol’ ialah mencerahkan masyarakat.

Berdasarkan analisis, di dalam ‘Protokol’ mengandung empat bagian.Pembagian itu tidak tertulis di dalam struktur dokumen itu, tetapi di dalam substansi pemikirannya. Keempat bagian utama itu merupakan kelompok besar yang rnernbentuk cabang-cabang lagi.

1. Memuat pandangan kaum Yahudi tentang kodrat manusia, khususnya tentang watak kaum non-Yahudi.
2. Keterangan tentang apa yang telah dicapai oleh program ‘Protokol’ – yaitu hal-hal yang telah dikerjakan.
3. Tentang instruksi lengkap tentang metoda yang digunakan agar program yang sedang berjalan dapat berhasil.
4. Detil-detil beberapa hal yang telah dicapai, yang ketika tulisan itu diturunkan, hal-hal itu masih sedang dilaksanakan.

Beberapa di antara sasaran-sasaran yang diinginkan itu telah tercapai. Harap diingat antara tahun 1905 dan saat ini telah dilakukan usaha yang kuat untuk mencapai sasaran-sasaran tertentu. Pencapaian yang harus diraih itu antara lain ialah memecah-belah solidarilas dan kekuatan kaum non-Yahudi, dengan mempercepatnya melalui peperangan-peperangan di Eropa. Metoda yang digunakan adalah disintegrasi. Masyarakat dipecah-belah ke dalam berbagai partai, kemudian dipecah~belah lagi kedalam berbagai faksi di dalam partai dan sekte. Untuk itu mereka menyemaikan gagasan-gagasan utopis dengan cara-cara yang meyakinkan. Untuk mencapai hal itu ‘Protokol’ menganggap perlu untuk melakukan dua hal : selalu harus ada sekelompok orang yang menyambut setiap gagasan yang dilemparkan; hasilnya dapat dipastikan akan selalu terjadi perpecahan sebagai akibat munculnya pertentangan pendapat tentang gagasan itu antara berbagai kelompok. Para penyusun ‘Protokol’ menunjukan detil-detil bagaimana cara melemparkan gagasan yang kontroversial tidak boleh dibatasi pada hanya satu gagasan, tetapi harus sejumlah gagasan yang kontroversial dilemparkan, yang mengakibatkan tidak ada kesatuan pendapat di antara para penerimanya. Ujungnya adalah perpecahan serta keresahan yang meluas, dan itulah hasil yang dituju.

Jika tidak juga terpengaruh oleh provokasi dengan kekacauan sebelumnya, ‘Protokol’ mengarahkan upaya memecah-belah harus dilakukan lagi dengan gagasan yang lain, yang tidak menimbulkan kecurigaan dalam rangka tetap dapat memegang kontrol terhadap perkembangan keadaan. Semua sudah memaklurni bahwa suatu satuan yang terdiri dari 20 orang tentara, atau polisi yang terlatih, dipastikan akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan lebih efektif dibandingkan dengan seribu orang gerombolan yang kacau-balau. Jadi, sekelompok minoritas yang merniliki prakarsa atas suatu rencana akan lebih mampu mewujudkannya dengan cara yang lebih baik dlbandmgkan dengan suatu bangsa atau dunia yang dipecah-belah ke dalam seribu kelompok yang saling bertikai. Divide et impera, itulah motto ‘Protokol’.

Ambil contoh dari kalimat ini, yang diangkat dari ‘Protokol yang Pertama’ ,

“Kemerdekaan politik hanyalah sekedar ‘idea’, bukan ‘fakta’. Adalah penting untuk memahami bagaimana mengeterapkan ‘idea’ bilamana ada kebutuhan untuk mendapatkan dukungan masyarakat terhadap suatu partai atau seseorang, jika partai itu ingin mengalahkan partai lain yang tengah berkuasa. Tugas ini akan menjadi lebih ringan bila pihak lawan telah dicemari oleh prinsip-prinsip kebebasan, atau apa yang disebut liberalisme. Biasanya demi suatu ‘idea’ ia akan bersedia menyerahlan sebagian dari kekuasaannya.” (Kutipan ini memperlihatkan bahwa konsep ‘Liga Bangsa-Bangsa’ dan ’Perserikatan Bangsa-Bangsa’ tidak lebih dari suatu konsep tipuan, karena di kedua lembaga itu idea yang bagus selalu berhadapan dengan ’fakta’ yang pahit).

Bagian ini diangkat dari ‘Protokol yang Kelima’,

“Untuk menguasai pendapat umum, yang pertama-tama diperhatikan ialah pentingnya mengacaukan pendapat umum itu dengan cara menyampaikan beragam pendapat yang saling bertentangan,….. ini kaidah yang pertama. Kaidah kedua, ialah upaya meningkatkan dan mengintensifkan persepsi tentang kekurangan-kekurangan yang ada di dalam masyarakat, tentang kebiasaan yang berkembang, aspirasi, dan gaya hidup, sehingga ditumbuhkan kekesalan terhadap kehidupan yang memperlihatkan adanya kekacauan; akibatnya, masyarakat akan kehilangan saling-percaya satu dengan lainnya. Langkah ini akan membuahkan perbedaan pendapat pada semua pihak dan lapisan, mendisintegrasikan kekuatan kolektif yang ada pada mereka, diiringi upaya menghilangkan atau menekan prakarsa-prakarsa yang mungkin akan dapat menjegal usaha kita”.

Dan kutipan di bawah ini dari ‘Protokol yang Ketigabelas’,

“… dan engkau juga boleh memperhatikan bahwa kita mencari persetujuan, bukan terhadap tindakan-tindakan kita, tetapi terhadap tutur-kata kita yang diucapkan dalam hubungan satu dan lain persoalan. Kita selalu mengumumkan secara terbuka bahwa kita dibimbing dalam setiap tindakan kita dengan harapan dan keyakinan bahwa kita bekerja untuk kebajikan”. .

‘Protokol’ Mengklaim Pemenuhan Parsial

Di samping hal-hal yang mereka harapkan akan dilakukan, ‘Protokol’ mengumumkan hal-hal yang mereka tengah dan telah selesai mereka lakukan. Dengan mempelajari dunia dewasa ini ada kemungkinan untuk membangun situasi yang kondusif ke arah yang dikehendaki oleh ‘Protokol’, yaitu penyelesaian Rencana Penguasaan Dunia yang mereka rencanakan. Beberapa kutipan di bawah ini barangkali akan dapat memberikan gambaran bagaimana pencapaian yang akan dilakukan sebagaimana penegasan dalam ‘ Protokol’. Agar supaya konsep itu menjadi lebih jelas, maka kata-kata kunci yang ada diberikan tekanan dengan huruf tebal.

Ambil misalnya dari ‘Protokol yang Kesembilan’,

“Dalam kenyataan tidak ada yang merintangi kita. Adi-pemerintahan (‘super government’) kita ‘mempunyai’ status hukum yang luar-biasa yang dapat disebut dengan nama – kediktatoran. Saya dengan sadar dapat menyatakan bahwa pada waktu ini ‘kita’-lah pencipta undang-undang. Kita ‘membentuk peradilan’ dan yurisprudensi. Kita ‘memerintah’ dengan tekad yang kuat, karena partai-partai yang kuat ada di dalam ‘genggaman’ tangan kita, sekarang kitalah yang berkuasa”.

Dan kutipan yang ini dari ‘Protokol yang Kedelapan’,

“Kita akan mengepung pemerintahan yang ada dengan para ekonom kita karena alasan inilah ‘ilmu ekonomi menjadi mata-pelajaran utama yang dituntut dan diajarkan oleh kaum Yahudi’. Kita akan dikelilingi oleh galaxi yang terdiri dari para bankir, industrialis, kapitalis, dan terutama kaum milyuner, karena sebenarnya segala sesuatu ditentukan oleh daya tarik kepada angka-angka“.

Kutipan-kutipan di atas memperlihatkan klaim yang kuat, tetapi tidaklah demikian bila dikaitkan dengan kenyataan yang ada. Kutipan-kutipan itu hanyalah pengantar kepada klaim yang dibuat dan sejajar dengan fakta-fakta. Sepanjang ‘Protokol’, seperti yang dikutip dari ‘Yang Kedelapan’ di atas, bagaimana menonjolnya peran orang Yahudi dalam ilmu ekonomi politik sangat ditekankan. Mereka menjadi penulis-penulis utama pemikiran-pemikiran yang nyeleneh menggiring orang banyak kepada hal-hal yang mustahil,. dan mereka juga guru-guru utama bidang ekonomi politik yang kini dikaji ldi universitas-universitas sedunia, mereka juga penuhs buku-buku pegangan di bidang tersebut, yang mengajarkan kelompok konservatif, kepada fiksii bahwa teori ekonomi yang mereka susun adalah hukum ekonomi. Menurut mereka, idea dan teori, merupakan instrumen untuk mencapai disintegrasi sosial, dan kedua-duanya merupakan hal yang sama baik bagi Yahudi yang ada di perguruan tinggimaupun Yahudi aktivis Bolshewik. Bila kesemuanya ini dibeberkan secara rinci, pendapat umum terhadap pentingnya ilmu ekonomi teoritik maupun terapan yang berasal dari pemlkir-pemikir Yahudi, mungkin akan berubah.

Dan sebagaimana diklaim dalam ‘Protokol yang Kesembilan’ seperti dikutip di atas tadi, kekuasaan mendunia Yahudi yang ada sekarang ini telah berhasil membentuk semacam adi-pemerintahan (super-government). ltulah istilah yang digunakan oleh ‘Protokol’, dan tidakl ada yang lebih tepat daripada istilah tersebut. Tidak ada bangsa yang dapat memperoleh apa saja yang diangankannya, tetapi Kekuasaan Mendunia Yahudi dapat memperoleh apa saja yang diinginkannya “Kami adalah pembuat hukum”, kata ‘Protokol’, Pengaruh kaum Yahudi telah menjadikan mereka pembuat hukum dalam tingkatan lebih luas daripada yang disadari oleh para pakar hukum non-Yahudi. Dalam beberapa dasawarsa yang silam penguasaan yang mendunia oleh kaum Yahudi telah mendominasi dunia. Dimana saja bila kehendak kaum Yahudi dibolehkan tanpa ada halangan, ujungnya yang terjadi bukanlah “Amerikanisasi” atau “Anglisasi”, atau nasionalisasi oleh bangsa apa pun, tetapi oleh mereka, yaitu arus yang kuat kepada “Judaisasi”.

Penaklukan Agama dan Pers

Dalam ‘ Protokol yang Ketujuh-belas’ ditemukan pemyataan yang sangat menarik bagi mereka yang ingin bekerja-sama dengan kaum Yahudi di bidang pemikiran keagamaan dalam rangka membangun saling-mengerti dan toleransi,

“Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para rohaniwan non-Yahudi dalam rangka menghancurkan mkissi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi missi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari-ke-hari. Kebebasan hati-nurani yang bebas dari paham agama telah dikumandangkan dimana-mana. Tinggal masalah waktu agama-agama itu akan bertumbangan”.

Sebuah paragraf dalam klaim ‘Protokol’ di atas memberikan pernyataan tentang kaum Yahudi yang memiliki keahlian khusus dalam seni menghina orang,

“Pers kita akan mengekspos masalah-masalah pemerintahan dan keagamaan dan tentang ketidak-becusan kaum non-Yahudi, dengan menggunakan istilah-istilah yang melecehkan sedemikian rupa, sehingga mendekati penghinaan; keahlian yang sudah lama dikenal di kalangan kaum kita.”

Dan kutipan di bawah ini diambil dari ‘Protokol yang Kelima-belas’,
“Di bawah pengaruh kita, ‘pelaksanaan hukum’ kaum non-Yahudi harus dapat diredusir seminimum mungkin. Penghormatan kepada hukum harus ‘dirongrong’ dengan cara interpretasi sebebas mungkin sesuai dengan apa yang telah kita perkenalkan pada bidang ini. Pengadilan akan ‘memutuskan’ apa yang kita dikte, bahkan dalam kasus-kasus yang mungkin mencakup prinsip-prinsip dasar atau isu-isu politik melalui jalur pendapat surat-kabar dan jalur lainnya.”

Klaim tentang kontrol terhadap pers banyak sekali. Kutipan di bawah ini merupakan tekanan tentang pemyataan itu dari ‘Protokol yang Keempat-belas ”

“Di negara-negara yang disebut ‘maju, kita ‘telah menciptakan’ literatur yang tak-berperasaan, jorok, dan memuakkan. Segera setelah kita memegang kekuasaan, kita akan makin mendorong kehadiran literatur semacam itu, sehingga mereka akan memperlihatkan secara lebih kontras antara tulisan-tulisan media mereka dengan pernyataan-pernyataan tertulis maupun lisan yang datang dari kita”.

Dan kutipan dari ‘Protokol yang Kedua-belas’,

” ‘Kita telah menguasai (pers) pada saat ini’ sampai ke tingkal dimana semua berita disalurkan melalui kantor-kantor berita kita ke semua bagian dunia. Kantor-kantor berita ini berdasarkan tujuan dan maksudnya menjadi institusi kita dan akan menyiarkan hanya yang kita izinkan”.

Kutipan di bawah ini diangkat dari ‘Protokol yang Ketujuh’ membawa pesan yang sama,

“Kita harus memaksa pemerintahan kaum non-Yahudi untuk mengambillangkah-langkah yang akan memperluas rencana-rancana yang telah kita susun, yang telah mendekati sasaran kemenangan dengan cara memberikan tekanan pendapat umum yang telah kita rekayasa, yang ‘kita susun’, dengan bantuan apa yang dinamakan ‘kekuasaan keempat’ yaitu pers. Dengan beberapa perkecualian ‘kekuasaan itu sudah ada di tangan kita’.”

Bangsa Yahudi adalah satu-satunya bangsa yang mengetahui banyak rahasia. Seandainya makalah-makalah rahasia itu dapat berbicara maka makalah-makalah itu akan banyak bersaksi; dan seandainya para penjaga makalah rahasia itu mau, mereka dapat berceritera banyak sekali. Diplomasi yang sesungguhnya adalah penguasaan atas apa yang dinamakan ‘rahasia dunia’, yang hanya ada di tangan pada beberapa orang Yahudi; karena penguasaan atas ‘rahasia’ ini pulalah, tidak ada pemerintah di dunia ini yang setaat mengabdi, kepada kaum Yahudi kecuali Amerika Serikat.

Catatan tentang Persebaran

‘Protokol’ tidak pemah menganggap diaspora kaum Yahudi di muka bumi sebagai laknat atau kutukan. Mereka justeru memandangnya sebagai suatu karunia Tuhan yang diiradatkan untuk memudahkan pelaksanaan Rencana Penguasaan Dunia sebagaimana dlkemukakan oleh ‘Protokol yang Kesebelas’ di bawah ini,

“Tuhan telah melimpahkan karunia kepada kita, ‘Ummat Pilihan-Nya’, suatu rakhmat, ‘yang nampaknya seolah-olah seperti kelemahan kita’ sebenarnya merupakan ‘kekuatan kita’. ‘ltulah yang telah membawa kita’ ke serambi penguasaan atas seluruh dunia.”

Klaim keberhasilan yang dikemukakan dalam ‘Protokol yang Kesembilan’ akan menjadi kata-kata yang terlalu massif, sekiranya hal itu bukan realitas konkret yang massif pula, disini kata dan aktualitasnya adalah fakta,

“Agar supaya tidak menghancurkan institusi-institusi kaum non-Yahudi sebelum waktunya, ‘kita telah meletakkan ikhtiar dan menggenggam pegas mekanisme mereka. Mekanisme itu semula ada dalam keadaan kuat dan tertib, tetapi ‘kita telah’ menggantikannya , dengan suatu administrasi bebas yang membuatnya kacau. ‘Kita telah melakukan campur-tangan terhadap yurisprudensi wiralabanya, persnya, kebebasan pribadinya, dan yang paling penting, pendidikan dan budayanya, yang merupakan sokoguru dari eksistensi yang kebebasan. ”

” ‘Kita telah’ menyesatkan, membuat mereka terpana, dan mendemoralisasi-kan generasi muda kaum non-Yahudi melalui pendidikan tentang prinsip-prinsip dan teori-teori yang bagi kita merupakan hal-hal yang palsu, yang ‘telah kita’ jadikan inspirasi bagi mereka. Di atas hukum yang berlaku, tanpa perubahan yang sesungguhnya, kita mendistorsikannya dengan interpretasi yang kontradiktif, ‘kita telah’ menciptakan sesuatu yang mengagumkan dilihat dari hasilnya.”

Meski berdasarkan kenyataan udara tidak penuh dengan teori tentang kebebasan dan tentang “hak-hak”, tetapi harus diakui ada pengurangan pada “kebebasan pribadi” secara berlanjut. Masyarakat di bawah frase-frase sosialistik digiring kepada perhambaan yang tidak lazim kepada negara; hukum di segala bidang dibuat untuk membatasi kebebasan masyarakat yang pada dasamya tidak berbahaya. Terjadi kecenderungan yang mengarah kepada sistemisasi, dimana setiap tahapan dari kecenderungan itu selalu didasarkan pada sesuatu “prinsip” yang dinyatakan dengan cara yang sangat “akademik” . Dan cukup mengherankan, tatkala para penyelidik menelusuri jejak pemikiran itu untuk mencari pencetus gerakan yang mengatur kehidupan masyarakat, mereka menemukan sumbemya adalah orang-orang Yahudi yang berada di tampuk kekuasaan.

Memecah-belah Masyarakat Melalui Idea

Metoda kerja yang dipakai oleh ‘Protokol’ untuk menghancurkan suatu masyarakat cukup jelas. Memahami metoda itu penting .iil I seseorang ingin menemukan makna dari arus serta arus-balik yang membuat orang menjadi frustrasi ketika mencoba memahami kekacauan keadaan masa kini. Orang menjadi bingung dan hilang semangat oleh berbagai teori masa kini dan suara-suara yang centang perenang. Setiap suara atau teori itu seakan-akan dapat dipercaya dan menjanjikan masa depan yang lebih baik. Kalau saja kita dapat memahami makna dari suara yang centang-perenang dan berbagai teori yang amburadul itu, maka hal itu akan menyadarkan kita bahwa kebingungan dan hilangnya semangat masyarakat merupakan sasaran yang dituju oleh ‘Protokol’. Ketidak-pastian, keragu-raguan, kehilangan harapan, ketakutan, semuanya ini merupakan reaksi yang, diciptakan oleh program yang diuraikan di dalam ‘Protokol’ yang diharapkan tercapai. Kondisi masyarakat dewasa ini merupakan bukti efektifnya program tersebut.

Daftar Pustaka

1. Henry Ford, Sr., ‘The International Jew: The World’s Foremost Problem’, Christian Nationalist Crusade, Los Angeles, h.21-23.

Izin publikasi buku ini diperoleh dari penerbit Daseta selaku pemegang hak cipta [email: kbi@dnet.net.id]
“…untuk disebarluaskan ke masyarakat umum asalkan tidak sebagai buku yang dijual di toko-toko buku”
Perubahan ke chm oleh yossy rahadian [weblog: http://tikamjejak.blogspot.com/%5D
[YM! dan email: rahadinho@yahoo.co.id]
—————————————————————————————————————————–
SAYA AMBIL DARI BUKU : “ZIONIS: GERAKAN MENAKLUKAN DUNIA”…

DITULIS OLEH :
“Mantan Kepala Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) era Presiden Habibie, Letjen (Purn) Zaini Azhar Maulani, meninggal dunia Selasa 5 April 2005 pukul 16.20, di RSPAD Gatot Soebroto. Pria kelahiran Marabahan, Baritokuala, Kalimantan Selatan, 6 Januari 1939, itu meninggalkan seorang istri, Retno Inten, dan enam anak”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s