Mengulas perempuan atau wanita nggak bakal ada habisnya. Saya bukan pengamat, tetapi punya naluri buat mengamati perempuan.
Menurut saya,
Setinggi apapun emansipasi, sehebat apapun karir seorang wanita, dia tetep perempuan dan perlu menguasai ilmu ah, yaitu…
Olah-olah
Meski bisa menggaji koki atau beli dari restoran Itali, perempuan mesti bisa olah-olah atau memasak, walau sekedar masak air atau mie instan dowang.
Umbah-umbah
Meski ada mesin cuci atau pakai jasa loundry, perempuan musti bisa umbah-umbah atau mencuci pakaian, walaupun cuma sapu tangan atau celana dalam.
Asah-asah
Perempuan musti bisa asah-asah atau mencuci perabotan, walau hanya tutup gelas atau dot bayi.
Obah-obah
Obah-obah atau bergerak bisa bermakna gerak badan atau senam agar tubuh nggak makin bengkak, bergerak bisa pula dimaknai ikut mbantu suami cari tambahan rejeki.
Gugah-gugah
Perempuan musti pinter gugah-gugah, mbangunkan suami dari tidurnya, atau mbangunkan sesuatu yang perlu dibangunkan.
Uh-ah-uh-ah
Lha ini yang terpenting. Perempuan musti fasih uh-ah-uh-ah. Tak sekedar mendesah, tapi uh-ah-uh-ah di sini dimaknai bisa nyanyi untuk diri sendiri atau menghibur suami. Kayak Mulan Jameela itu lho. Uh-ah-uh-ah pinter, tapi nyanyi juga OK.

NB :
Buat para istri, sudahkah sampeyan laksanakan uh-ah-uh-ah hari ini?
Buat para suami, sudahkah sampeyan dapatkan uh-ah-uh-ah hari ini?
Buat yang belum jadi suami atau istri, camkan baik2 ilmu uh-ah-uh-ah ini…
Categories: inspirasi, intermeso, logika, pendapat, teori Tags: emansipasi, perempuan, uh-ah-uh-ah, wanita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s