474 KESALAHAN UMUM DALAM AKIDAH DAN IBADAH


 

DATA BUKU

Judul asli : Al-Kalimat an-Nafi’ah fi al-Akhtha` asy-Sya`i’ah
Judul terjemah : 474 Kesalahan Umum dalam Akidah dan Ibadah Beserta Koreksinya
Penulis : Syaikh Dr. Wahid Abdussalam Bali
Muraja’ah : Tim Editor Ilmiah Darul Haq
Tebal Buku : xxxiv + 450 halaman
Ukuran buku : 16 x 24,5 cm
Harga per ex : Rp 85.000

URGENSI TEMA

Kita kaum Muslimin, terutama masyarakat Muslim Indonesia, harus benar-benar menyadari bahwa ajaran Islam yang telah terlanjur sampai kepada kita, telah banyak yang tercampur aduk oleh apa-apa yang bukan bagian darinya. Dan kalau masalah ini kita coba urai, maka akan menjadi suatu yang sangat panjang, karena begitu banyaknya kekeliruan dalam beragama yang selama ini diyakini sebagai kebenaran oleh sebagian kaum Muslimin.

Menyadari ini, maka harus ada usaha untuk membersihkan kebatilan dan noda-noda budaya, adat-istiadat, bid’ah-bid’ah dan apa saja yang menempel pada ajaran Agama kita yang agung ini. Inilah urgensi dan posisi penting buku kita ini, karena ini adalah sebuah buku yang merupakan usaha penyusun yang patut dihargai, karena jerih payah beliau yang mencoba meluruskan kesalahan-kesalahan tersebut. Dan ini memang peran utama para ulama, agar ajaran Islam yang suci tetap sebagai hujjah atas seluruh umat manusia hingga Hari Kiamat nanti.

Dan kita harus bersyukur kepada Allah karena senantiasa mengadakan ulama-ulama rabbani di setiap zaman yang senantiasa menasehati umat ini ke jalan yang benar. Maka sikap kita, sebagai umat Islam adalah hendaknya menerima dengan senang hati koreksi-koreksi tersebut, selama ditegakkan di atas dalil-dalil al-Qur`an dan as-Sunnah yang shahih. Kita harus ingat bahwa menolak kebenaran yang tegak di atas al-Qur`an dan as-Sunnah yang disampaikan kepada kita, adalah merupakan sikap angkuh yang bisa menjerumuskan kepada kemunafikan bahkan kekufuran. Dan kita juga harus ingat bahwa Allah mencela orang-orang yang ngotot beragama berdasarkan apa yang diterimanya dari bapak moyang mereka; karena ini adalah sikap jahiliyah. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa “para ulama adalah pewaris para Nabi”. Pewaris para Nabi Shollallohu alaihi wasallam maksudnya: Pewaris dalam menegakkan hujjah kepada manusia dengan Agama Islam, dan bukan sebagai yang berhak membuat-buat ajaran-ajaran baru.

Metode koreksi paling baik dalam konteks seperti ini adalah membuktikan kesalahan dan menyodorkan yang benar. Karena tidak ada artinya kita berteriak-teriak: Ini bid’ah, ini keliru, ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, tetapi kita tidak memberikan solusi dan mendatangkan penjelasan mana yang benar. Maka pihak-pihak yang seringkali menyalahkan ini dan itu, tetapi tidak bisa mendatangkan kebenaran, adalah bagaikan orang yang hanya bisa mendatangkan problem dan tidak bisa memberikan solusi. Maka silahkan katakan, “Ini Bid’ah”, tetapi setelah itu katakan pula, “Ini loh yang sunnah”. Silahkan ungkapkan, “Ini perbuatan syirik”, tetapi jelaskan pula, “Ini dia ajaran tauhid yang murni”. Dan begitu seterusnya. Dan inilah metode yang digunakan oleh penulis buku kita ini, Syaikh Dr. Wahid Abdussalam Bali, dimana semua kekeliruan, beliau urai secara faktual dan kemudian mengoreksi dan meluruskannya dengan dalil-dalil. Beliau tidak sekedar menyodorkan kesalahan-kesalahan tanpa solusi, tetapi setiap kesalahan dikoreksi dan diluruskan dengan apa-apa yang benar berdasarkan dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah; baik yang shorih (tegas) maupun istinbath (kesimpulan) berdasarkan kaidah-kaidah dan maqashid Syari’ah.

ISI BUKU SECARA UMUM

Secara garis besar, isi buku ini sebagaimana diisyaratkan pada judul: Kesalahan-kesalahan dalam akidah dan kesalahan-kesalahan dalam ibadah, yang jika dikalkulasi berjumlah 474 poin.

Pertama: Kesalahan-kesalahan dalam akidah

Ada 80 kesalahan yang diangkat penyusun yang sering terjadi di sebagian masyarat Muslim, di antaranya adalah: Meminta bantuan agar diselamatkan dari keadaan hidup yang sempit atau dari bencana, atau yang lebih kita kenal dengan beristighatsah kepada orang yang telah meninggal dunia, baik para nabi, atau para wali, atau kuburan dan tempat-tempat yang dikeramatkan, atau lainnya. Termasuk di dalamnya adalah meminta pertolongan, yang lebih kita kenal dengan isti’anah.

Padahal, sadar atau tidak sadar, ini adalah suatu kemusyrikan. Hal itu karena istighatsah dan isti’anah adalah di antara bentuk ibadah yang tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya kepada Allah semata. Ini adalah masalah yang jelas dan wajib diketahui oleh setiap kaum Muslimin. Dan temukan penjelasannya di sini.

Kesalahan lain, menyembelih untuk jin. Seseorang pergi kepada dukun agar disembuhkan dari penyakit yang dideritanya, lalu si dukun mengatakan, bawalah ayam yang ciri-cirinya: matanya begini, warna bulunya begini, kakinya begini. Ayam itu lalu disembelih dan darahnya dilumurkan, atau dioleskan kepada yang sakit demi meminta keridhaan jin jahat yang telah merasukinya.

Ini adalah kemusyrikan yang nyata. Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam telah bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ.

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 1978).

Begitu pula bernadzar untuk selain Allah, seperti ada di antara orang-orang yang mengatakan, kalau saya dapat rejeki, saya akan berziarah ke kubur Mbah fulan, atau kalau saya panen, saya akan membuatkan sesajen untuk arwah kanjeng anu. Ada juga yang meminta syafa’at kepada selain Allah, untuk mendapatkan keinginannya. Bahkan di sebagian daerah ada yang melakukan thawaf tujuh putaran di kuburan yang dikeramatkan. Bahkan ada juga yang datang dari jauh, hanya untuk mengusap nisan kubur tertentu, mengusap arca anu, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan. Na’udzubillah. Semua ini adalah kemusyrikan yang nyata yang tidak pantas dilakukan oleh seorang yang mengaku Muslim.

Di sebagian masyarakat ada juga yang memiliki keyakinan rusak terhadap benda-benda tertentu, seperti besi, keris, tombak, benang dan sebagainya. Maka dapat kita lihat sendiri masih banyak orang yang melakukan ritual tahunan mencuci pusaka lalu air bekas cucian itu diperebutkan karena diyakini menyembuhkan penyakit dan mendatangkan keberuntungan. Na’udzubillah.

Kesalahan-kesalahan lain yang cukup populer di sebagian komunitas: menggunakan kalung atau cincin keberuntungan, apabila memelihara ikan hias tertentu dapat mempermudah rejeki, kalau menanam ari-ari dengan cara tertentu maka si anak bayi yang lahir akan bernasib begini dan begitu, meramal kesialan akan datang ketika mendengar burung hantu di malam hari, membungkukkan badan saat bersalaman dengan sesama, meminta pendapat dan nasehat kepada non Muslim, perayaan ulang tahun, perayaan hari ibu, pesta kematian hari ketiga atau ketujuh, dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang wajib segera kita benahi, agar kita selamat dunia akhirat. Dan semua ini dapat Anda kaji dalam buku kita ini.

Bahkan di antara kekeliruan dalam akidah yang barangkali sering kita dengar, adalah menamakan anak dengan: Abdussattar. Kenapa nama ini bermasalah? Dan kenapa kesalahan nama ini masuk dalam kesalahan akidah? Temukan jawabannya dalam buku kita ini.

Sebagai contoh riil, saya, penulis resensi ini, pernah tinggal di suatu masyarakat Muslim di tanah air, yang menjalankan praktek perdukunan dengan sangat kental. Orang yang sakit biasa dibawa oleh keluarganya kepada nenek dukun, yang jumlahnya banyak di sana, dan dengan membawa beras, daun sirih, tembako dan sepintal benang. Setelah dijampi-jampi secukupnya, sehelai atau dua helai benang tersebut lalu dicabut dari pintalan oleh si nenek dukun lalu mengalungkannya pada leher si sakit atau mengikatkannya pada tangannya; tergantung dari penyakit yang disimpulkan oleh si nenek dukun tersebut.

Ternyata praktek macam ini juga telah ada di masa para sahabat Nabi Shollallohu alaihi wasallam, sebagaimana yang disebutkan dalam buku kita ini. Mari kita simak kisah berikut ini, sebagai peringatan bagi kita semua. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad, no. 3615, dari Zainab, istri Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Zainab berkata, “Suatu hari Abdullah pulang dari suatu keperluan di luar rumah, dan di sampingku ada seorang wanita tua yang menjampiku dari penyakit keputihan, maka aku menyembunyikan nenek itu di bawah tempat tidur. Abdullah pun masuk dan duduk di dekatku. Ketika beliau melihat ada benang di leherku, beliau bertanya, ‘Benang apa itu?’ Aku menjawab, ‘Benang untuk menjampiku’. Maka beliau pun menarik hingga memutusnya dan berkata, ‘Keluarga Abdullah tidak membutuhkan kemusyrikan; karena aku telah mendengar Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الرُّقَى، وَالتَّمَائِمَ، وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ.

“Sesungguhnya jampi-jampi, kalung penangkal penyakit, dan pelet itu adalah syirik.”

Maka Zainab (istrinya) berkata, ‘Kenapa engkau mengatakan demikian? Padahal mataku pernah terkena sakit, lalu aku datang kepada seorang dukun Yahudi untuk menjampinya, lalu setelah dia menjampinya, mataku menjadi reda sakitnya’.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Itu hanya pekerjaan setan yang menusuk tempat yang sakit itu dengan tangannya, lalu jika si dukun itu menjampinya, setan itu berhenti menusuknya. Cukuplah bagimu mengucapkan doa yang pernah diucapkan Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam,

أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا.

‘Hilangkanlah rasa sakit ini wahai Rabb manusia, sembuhkanlah, karena Engkau-lah Yang Maha Menyembuhkan; tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan olehMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan suatu rasa sakitpun’.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh al-Albani).

Yang ingin kita tekankan dari kisah ini adalah bahwa cara-cara setan menyesatkan manusia yang sering kita jumpai di tengah-tengah kita di zaman ini, ternyata juga telah ada di zaman dahulu. Artinya, sekalipun tipu daya setan hanya itu-itu saja, tetapi masih ada bahkan banyak saja orang-orang yang mengikutinya. Maka kita berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Kedua: Kesalahan-kesalahan dalam Ibadah

Secara umum mencakup 99 kesalahan dalam bersuci, yaitu menyangkut air yang kita gunakan bersuci, tempat air, buang hajat, bersiwak, berwudhu, yang membatalkan wudhu, mandi, tayamum, menghilangkan najis, haid dan lainnya. Juga mencakup 80 kesalahan dalam adzan dan iqamah, 90 kesalahan berkaitan dengan masjid, 75 kesalahan dalam Shalat Jum’at, dan 50 kesalahan dalam Shalat dua Hari Id (Idul Fitri dan Idul Adha), sehingga jumlah keseluruhannya adalah 474 kesalahan dalam akidah dan ibadah.

Di antara kesalahan yang perlu segera kita benarkan adalah kebiasaan sebagian masyarakat Muslim yang tidak menutup bejana tempat makanan atau air di malam hari, padahal Nabi Shollallohu alaihi wasallam telah memerintahkan,

“Apabila mulai gelap, maka tahanlah anak-anak kalian (agar tidak berkeliaran), karena setan-setan bertebaran ketika itu. Jika waktu malam telah mulai berlalu, maka biarkanlah mereka, tutup pintumu dengan membaca, ‘Bismillah’, matikan lampumu dan baca pula, Bismillah’, dan tutuplah tempat air dan baca pula, ‘Bismillah’, sekalipun hanya dengan menaruh sesuatu padanya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

Kesalahan lain yang sepele tetapi sebenarnya besar, adalah tidak membaca “Bismillah” ketika hendak masuk WC. Coba camkan sabda Nabi Shollallohu alaihi wasallam, berikut,

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُوْلَ بِسْمِ اللَّهِ.

“Penutup antara pandangan mata jin dengan aurat anak-cucu Nabi Adam Alaihissalam, jika salah seorang di antara kalian masuk WC, adalah mengucapkan ‘Bismillah’.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani).

Apakah kita rela aurat kita ditonton oleh jin?

Begitu pula kesalahan-kesalahan dalam Shalat secara umum, Shalat Jama’ah, Shalat Jum’at, bahkan Shalat Id. Di sebagian masjid, kita melihat kaum Muslimin shalat dengan shaf-shaf yang renggang, di mana antara satu orang dengan orang yang disamping kanan kirinya kadang-kadang 20 bahkan 35 cm. Ini tentu menyedihkan kita semua, tapi yang lebih baik adalah berusaha memperbaikinya. Dan semua kekeliruan tersebut, yang tidak bisa disingkapkan secara detil di sini, Anda bisa mengkajinya dalam buku kita ini, sebagai langkah awal kepada perbaikan.

Di akhir resensi ini, kami ingin mengatakan bahwa usaha meningkatkan ubudiyah yang wajib kita lakukan tidak sekedar dari segi kuantitas saja, tetapi juga kualitas. Tidak sekedar meningkatkan jumlah berapa kali kita beribadah, tetapi juga memperbaiki kesalahan dan kekeliruan di dalamnya, agar sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi Shollallohu alaihi wasallam. Inilah sebabnya, sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘ahnu berkata,

الْاِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ أَحْسَنُ مِنَ الْاِجْتِهَادِ فِى الْبِدْعَةِ.

“Beribadah secara sederhana dalam as-Sunnah adalah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim secara mauquf dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, no.41).

Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar yang diridhainya dan semoga Allah mendatangkan manfaat dengan buku ini bagi kaum Muslimin tanah air umumnya, dan juga semoga Allah memberikan balasan baik bagi semua pihak yang telah ikut andil menyebarluaskannya di tengah umat.

Ya Allah, ampunilah kami atas segala yang tidak berkenan bagiMu.

 

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s